Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2015

Terima Kasih

Halooo Semua, Hari ini adalah hari terakhir kita menulis surat cinta di event #30HariMenulisSuratCinta.  Semoga selepas acara ini kita masih terus mengirim surat untuk orang - orang yang terkasih. Setelah semuanya, banyak pelajaran yang bisa kita dapatkan. Banyak teman dan tulisan - tulisan peserta lain yang menginspirasi. Maka, berikut adalah ucapan terima kasih untuk orang - orang yang telah menginspirasi dan menggerakkan tangan saya untuk menulis surat : @PosCinta : Thanks bosse sudah mengadakan event ini ! @MungareMike : Kamsia kakak pos untuk bantuannya !  ^^ @hartomo_ @memimpikan @kenthiblues Rudy & @MahardikaLaksa : Thank you guys untuk supportnya agar aku makin rajin menulis. @Julia_thasya : makasih adek :* @Bagshoot : Semangat kiki ! chayooo ! @denitamuhede : Makasi yah ta cemilannya buat nemenin nulis ! dan masih banyak terima kasih - terima kasih lainnya yang tidak dapat di sebutkan satu persatu. semoga aku semakin giat menulis dan menump...

Bebal !!!

Selamat pagi, Malu - malu ku ukir surat ini. Dengan canting berisi perasaan panas, lalu ku batik di atas sembilu. Tak hanya corak indah yang ku torehkan, pun pedih ku. Ingat 6 hari lalu, ku putuskan untuk beranjak. Ku coba menghapus semua mu dari kepala. Bohong jika ku bilang itu mudah ! Nyatanya aku harus sakit jua lelah. Menanam ikhlas itu sulit rupanya. Lalu ku coba yang termudah, mencintaimu tanpa harap. Kemudian ku sadari, aku salah. Aku bukan ibumu yang dapat memberi tanpa harap kembali. Pun aku bukan surya yang menyinari dunia. Meski setitik, aku berharap memilikimu. Aku kesal ! Gadis bodoh ini sungguh bebal ! Bukan hanya jatuh yang ku alami. Kini ku harus merangkak untuk menyelami. Bergerilya sediam mungkin agar kau tak tahu dan lantas menjauhiku. Sekarang Sirostratus dan Sirokumulus membenciku. Lalu altostratus mencibirku. Gadis plin - plan ini kehilangan kawan. Tapi angin menguatkan. Cinta tak segampang itu berubah haluan. Aku masih melihatmu dari jauh, bersama ai...

Tangan Pemilik 'Renjana'

Dear Nisa, Hai Princess ! Mungkin kau sudah menduga, surat hari ini kulayangkan untukmu. Atau belum ya ? Baiklah ku beritahu, aku merencanakannya sudah cukup lama, sejak 'Renjana'mu bermain - main di ruang kepalaku. Setiap kalimatnya seolah ingin dipahami maksudnya. Kau tau, aku suka sekali surat yang tidak kumengerti, sehingga membutuhkan waktu lama untukku tenggelam dalam maknanya. Kau bilang surat itu maknanya gelap. Aku merasakannya meski tak paham gelap seperti apa yang ingin kau lukiskan. Itu pun yang jadi alasan aku menyukainya. Aku sedang dalam kegelapan yang pekat saat ini. Yaa ampun, aku curhat.  " Merapal namamu berpuluh juta kalipun sekat sekat. Februari kelabu, tak lagi merah jambu sebab kaktus terlanjur tumbuh didadaku, kupupuk dengan nanah yang kian membiru." Aku sedang merasakannya Nisa, setiap kata yang kau tatahkan, meresap masuk mengaliri setiap relung. Hanyut bersama darah yang mengalir dalam pembuluh menuju otak. Kalimat it...

Sekitar 60 Menit

Untuk Tuhan Yang Maha Mengerti, Aku terduduk di sudut gelap ruang kamar, mengurai butiran air mata setetes demi setetes. Meratapi ketakberdayaanku menggenggam ekor waktu yang senantiasa mengular. Nalarku mengembara kedalam alam pikir yang luas dan gelap. Melumatkan semua kesalahan yang pernah aku perbuat. Tuhan, Dosa mana yang sedang Kau balaskan? Karma dari luka mana yang sedang Kau tangguhkan? Dirajam kelelahan yang amat sangat, aku tertatih. Aku ingat pernah menanam yang sedang ku tuai saat ini. Teringat apa - apa saja yang ku siangi untuk memudahkan jalanku. Apa - apa saja isyarat langit yang ku tepikan. Tuhan, Tipis sudah asaku untuk melangkah maju, sedang jika menyerah, aku akan menjadi orang yang Kau benci. Napas ini tinggal sepenggal. Apa lagi yang ingin Kau wujudkan untukku hadapi ? Sanggupkah raga ini mengadu nyali ? Tuhan, Sekitar 60 menit aku duduk disini, meratapi liang yang ku gali sendiri. Menepis sejumput ego dan emosi. Tuhan, aku tidak marah, meski jatu...

Surat Perkenalan ( Telat )

Teruntuk teman sejagat nusantara, Hai, halo, aloha bagaimana harus ku mulai ? Ada jutaan kata sapa tersebar di tanah pertiwi. Berjuta insan bersama budayanya tumpang di sini. Jelang 26 hari sudah bunyi - bunyian dari ruang kepala di wujudkan dalam aksara. Tapi belum seguratpun tertoreh kata kenal. Lantas kalian terpekik dalam hati. Pun terkekeh. Kiranya aku terlambat amat sangat. Maaf jika aku masih bertumpu pada pepatah 'lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali'. Aih ... Pelasuh ini banyak alasan rupanya. Sejujurnya aku kelupaan. Di gagahi semangat yang kelewat, aku sibuk dengan surat - surat filantropi hingga lupa unggah - ungguh berkenalan. Maaf lagi. Sedikit kisah, raga ini milik si periang yang laik di kawani. Telah hidup sekisaran perempat abad, di anugerahi garis takdir istimewa. Tumbuh sebagai pribumi di pekarangan asem nan asri. Ahh ... Surat ini sedikit serius kelihatannya ... Lalu bagaimana setelahnya ? Salam kenal, atau apa yang harus ku uja...

Yang Sudah Beranjak Dari Ujung Bangku

Surat ini membuatku mengetik lalu menghapus lagi kata sapaan untukmu berulang - ulang. Aku bingung harus bagaimana menyapamu meski hanya dalam surat. Sudahkah bahagia ? Aku yakin sudah. Karena ketika kau beranjak dari bangku yang kita duduki, kau langsung berlari sejauh - jauhnya. Hari ini, aku terus memandangi bangku itu. Bangku yang sedikit berdebu namun belum usang. Bangku sederhana yang kaki - kakinya kokoh menopang kita yang terkadang berlocatan di atasnya. Di bangku itu, kita pernah duduk sangat dekat hingga nyaris menempel. Lalu egois yang sangat kuat, menggeser tubuh kita sedikit demi sedikit menjauh. Hingga akhirnya saat itu, kau dan aku berada di masing - masing ujungnya. Tak mengapa lah, kita masih bisa saling memandang, saling tersenyum, berbicara satu sama lain meskipun membutuhkan sedikit tenaga untuk berteriak. Lalu kesabaran kita mulai aus tergerus dinginnya ketidak percayaan. Hingga hari itu, kau memutuskan untuk beranjak. Mungkin ada kalimat yang...

Seongsil Saram

Dear I'im, Ibu Rifan, Sahabatku, Kekasihku, Im, bergetar dua katup kelopak mata ini, seolah hendak menumpahkan harunya. Aku selalu melihatmu begitu, selalu melihatmu sebagai sesuatu yang berharga milikku. Sahabatku. Sudah berapa lama kita berkawan ? 8 tahun kira - kira. Aku selalu bertanya, dan kau tak bosan menjawab. Aku tak ingat bagaimana kita berkenalan. Yang ku ingat kita duduk di bangku yang sama hingga akhir perjalanan. Seutas heran menggelitik hatiku. Bagaimana bisa tiada pernah secercahpun amarah kita tumpahkan ? Menilik aku adalah orang yang keras dan temperamen. Bagaimana bisa berada di sampingmu begitu hangat dan menyenangkan ? Bagaimana kau bisa selalu menyokongku sedangkan yang ada di kepalaku tidak selalu masuk akal ? Ah Im ... Akupun begitu padamu. Entah tertular atau empati. Kau sedikit berbeda sekarang. Bukan lagi I'im yang duduk di sebelahku dan memainkan handphone dengan hebohnya. Bukan I'im yang berbagi bilah headset lalu m...

Surat Untuk Raja

Selamat Siang Yang Mulia, Bagaimana keadaan anda hari ini ? Saya harap anda selalu baik - baik saja. Yang Mulia, hari ini saya mulai mencari seseorang untuk menggantikan anda dari singgasana di kepala saya. Tolong, anda jangan lantas murka. Jangan lantas mencambuki saya dengan kerinduan yang membabi buta. Maafkan saya. Saya lelah bergantung di kaki anda, sedang pandangan anda selalu mengarah ke atas. Apa yang ingin anda raih ? Lintang yang gemintang di atas sana, hanya menggoda anda dengan kelipnya namun sudah pasti tak tergapai. Ataukah mega putih yang menggantung di wajah langit ? yang terlihat bersih namun pendar menjadi butir hujan jika tersentuh ? tidakkah cukup hanya saya yang selalu menaungi kaki anda dari kerikil di setiap jalan yang anda tapaki ? Mungkin anda belum melihat betapa saya cakap di medan perang. Di adu dengan berlian dan saphire pun saya masih berdiri. Namun sekarang telah usai. Tiada lagi yang ingin saya tunjukkan. Semua sudah habis terabai. Ai...

Jengah

Hai, Sedang apa ? Tiba - tiba saja aku rindu padamu. Merinduimu begitu kejam. Kesepian mencambukku dengan bayangmu yang sedang kupeluk. Tak perlu kau hiraukan surat ini sangat- sangat. Aku hanya menulis untuk menyenangkan hatiku. Meski isinya merujuk padamu, abaikan saja. Kau pasti bisa. Karena setiap harinya kau memang sudah mengabaikanku. Kemarin, aku sudah memutuskan untuk beranjak. Hati ini sudah jengah dan nyaris kering karena bosan. Berbicara dengan punggungmu tak lagi menyenangkan. Otakku pun kehabisan tanda tanya karena semua kau jawab. Aku masih disini. Di tempatku selalu memikirkanmu. Tapi hari ini berbeda, bersama sirostratus...

Not Always There ( Part 5 )

Sampai akhirnya Rob mengajaknya menikah. El tak bisa mengelak karena Rob yang membantu menyembuhkan luka - lukanya. Dan Rob yang membuat El merasa lebih baik sepeninggal Ji. Ayah El tak lagi perduli padanya. Maka El akhirnya menikahi Rob. Setahun setelah pernikahan yang tidak El duga akan membuatnya sebahagia ini, Ji muncul kembali. Ji datang kerumah yang dulu ia dan El tinggali. Ji mungkin pintar tapi ia lengah akan sesuatu. Ia lupa bahwa seseorang tidak selamanya bisa menunggu. Di ketuklah pintu bekas rumah mereka. Ji terkesiap. Bukan lagi El yang membuka pintu penuh harap akan kepulangannya. Rob dan Ji saling bertatapan. Dua orang yang pernah ada di hidup El, kini bertemu. Rob dengan tenang menanyakan apa maksud kedatangan Ji. Lalu Rob menjelaskan hubungannya dengan El. Ji terperangah, air matanya tiba - tiba saja jatuh. Penuh sesal yang menyesakkan, Ji tertohok oleh kenyataan. Kenyataan bahwa El tak lagi menunggunya. Orang yang selalu Ji pikir akan menunggu dengan sabar...

Not Always There ( Part 4 )

El mencium aroma bubur yang hangat dan sedap. Dengan tertatih ia terus berjalan. Sesampainya di pintu dapur, El tiba - tiba berhenti. Ia sangat terkejut karena yang sedang berada di dapur bukan lah Ji. Melainkan Rob. Mantan kekasihnya yang ia putuskan sebelum pernikahan. Rob menyadari kedatangan El. Ia mendekati tubuh El lalu merengkuh pundaknya. Ia mengajak El duduk. Kemudian Rob menyiapkan makan malam untuk El. Mereka duduk berhadapan seperti sebelum berpisah. El mencoba menyuap sesendok bubur kedalam mulutnya. Kemudian tangannya terhenti. Sendoknya terjatuh. Berdentum keras menimpa meja, bersamaan dengan jatuhnya air mata El. Tubuhnya melemas, ia menelungkupkan tubuhnya di atas meja. Ada perasaan sesak yang masuk kedalam hatinya. Sesal pun turut ambil bagian. Harusnya ia tidak meninggalkan Rob untuk Ji. Untuk uang - uang yang ayahnya inginkan. Harusnya ia tegas pada dirinya sendiri. Rob bangkit dan memeluk tubuh El yang lemah. Rob bercerita pada El bahwa ia datang kemari...

Not Always There ( Part 3 )

Senyum bibir merah Sarah melebar. Ia tampak mengerikan seperti seorang nenek sihir yang menyeringai. Ia masih punya satu lagi kejutan untuk El. Dengan kerepotan, Sarah mengaduk - aduk tas tangannya. Kemudian wajahnya seperti mendapatkan jackpot ketika menemukan benda yang ia cari. Iya segera menyodorkan benda itu pada El. Senyumnya kali ini lebih mengerikan. Senyum kepuasan. El terbelalak. Apa yang ia lihat membuatnya sangat shock. Sebuah alat test kehamilan dengan dua garis merah di atasnya. El merutuki Ji dalam hati. El tak menyangka bahwa lelaki pintar seperti Ji bisa jadi sangat pengecut. Untuk meminta perceraian saja, Sarah yang melakukannya. Hati El perih. Tubuhnya menjadi dingin dan wajahnya memucat. Ia kecewa. Sarah menjadi - jadi. Ia terkekeh seperti orang gila. Ia lantas bangkit, membetulkan mantel kemudian melangkah pergi menuju mobilnya. Meninggalkan El yang terbengong begitu saja. Tubuh El kaku di teras rumahnya. Keringat dingin bercucuran bersama air matanya. Ini ...

Not Always There ( Part 2 )

Saat itu masih pagi sekali. Kabut belum memudar dan embun terus menetes. El sudah bangun dan duduk di depan pintu. Ia sudah bersama secangkir kopi dan sarapan untuk dirinya dan Ji. El semakin cemas, ini hari ketiga Ji tidak pulang kerumah. Dengan sabarnya El menunggu seperti biasa. Di pangkuannya sudah terdapat peralatan kristik. Gulungan - gulungan benang  dan selembar kain itu yang menemani El ketika sedang menunggu Ji. El tidak buru - buru sarapan. Perutnya terasa kenyang oleh kecemasan. Dari kejauhan terdengar deru mobil memecah keheningan pagi. Hati El berdegup tak beraturan. Tubuhnya seketika berdiri. Matanya memicing kearah lampu mobil yang bersinar. Gulungan - gulungan benang itu jatuh dari pangkuan El. Kakinya lemas, hatinya seperti terbakar. Seolah - olah cangkir - cangkir kopi tumpah ke hatinya. El terkesiap. Yang turun dari mobil bukan Ji. Seorang wanita,dengan sepatu stilletto merah dan gaun anggun setinggi lutut. Wanita itu langsung duduk di hadapan El. Me...

Not Always There ( Part 1 )

Langit petang sudah menghitam. Namun El masih saja duduk di ambang pintu. Kaki - kakinya terpasung oleh rindu pada sang suami yang tak kunjung pulang. Sejak pagi El menunggu laki - laki itu. Bergulat dengan cemas ia berharap hari ini Ji kembali. Dalam resah El menggerutu. Ini salahnya. Pernikahan ini bukan keinginan Ji maupun El sendiri. Tapi El memaksakan diri, ia ingin terus melihat ayahnya di sisinya. Namun Ji berbeda. Pria pintar seperti Ji tidak bisa di paksa menuruti pemikiran orang lain. Meskipun pernikahan itu harus terjadi namun Ji tidak pernah menganggapnya ada. Masih saja Ji pulang larut, terkadang tak kembali pun sudah biasa. El bisa menghadapi ini. Ia percaya bahwa cinta akan tumbuh dengan sendirinya di antara mereka. Benar saja. Cinta itu tumbuh di hati El. Namun entah Ji. Ia masih acuh seperti biasanya. Angin malam membelai begitu dingin. El akhirnya beranjak. Namun bukan untuk masuk kerumah. Ia hanya mengambil selembar selimut dan mantel lalu kembali kel...

Hangsang Sarang

2045 i-wol 20 Gangnam, Seoul Korea Ramalan cuaca hari ini : " Salju terus turun dalam intensitas rendah menjelang berakhirnya musim dingin di bulan ini " Hai Pak Tua, Apa kabar ? Bagaimana usia senjamu ? Apakah menyenangkan ? Apakah kau sedang duduk di atas kursi goyang sembari menyesap cerutu yang kau linting sendiri ? Siapa wanita beruntung yang dapat melihat senyummu setiap pagi ? Ahh aku ini banyak bertanya sepertinya. Tapi tak mengapa lah, sesekali aku ingin mencerewetimu seperti dulu. Bagaimana kabar negriku ? Problematika pelik apa yang sedang mereka hadapi ? Sepelik cinta dalam hatiku yang nyatanya belum sirnakah ? Mungkin kau lupa padaku pak tua, aku yakin kau mulai pikun. Setelah membaca suratku ini, ku pikir kau sedang mengerutkan keningmu dan menegakkan dudukmu untuk berusaha mengingat siapa orang di balik surat ini. Tak perlu seberusaha itu, nanti di akhir surat akan ku terakan namaku sejelas - jelasnya yang mungkin akan mengingatkanmu...

BALASAN UNTUK BOSSE

Hello Bosse ! Salam kenal, salam manis, salam tempel dari Vinna. Bosse, yang entah tampan atau cantik. Yang jelas bosse super. Terima kasih telah mengadakan event ini, untuk menampung kami yang gemar menulis dan mengirim surat. Dua jempol aku acungkan untuk bosse, yang telah mengkaryakan kang pos - kang pos yang luar biasa ramah dan rajin. Bersama bosse dan kang posnya, kami termotivasi untuk terus menulis surat sebagai bentuk konsistensi kami pada karya. *ciyehh... Tumben serius* Oyah ! Mengenai surat undangan gathering yang bosse adakan di Bandung itu, dengan sangat sedih dan banjir air mata, hiks... Hiks... Hiks... Vinna nggak bisa ikut. Selain jarak yang membentang, masih ada keterbatasan - keterbatasan lain turut menjadi alasan. Kecuali bosse mau mengirimkan salah satu kang pos beserta fixienya untuk menjemputku. *kode* Pokoknya terima kasih banyak ya bosse, karena hari ini imlek, vinna mau minta angpao *todong bosse*. Besok - besok kirim surat romantis dong ...

Hello !

Gambar
Dear Mahasiswa Praktikan Poli OT Dinar, Lisa, Wilda, Musdalifah, & Agam. Hello gaes ! Surat hari ini kuputuskan untuk kalian. Jangan berharap aku menulis surat yang serius ya ? Wek :p Sedikit cerita untuk you, you, you semua *ngomongnya sambil nunjuk* aku ini sebelumnya maleeeessss sekali untuk datang terapi. You know why? Sakit ! Tapi tiba - tiba kalian muncul bak negara api yang menyerang *ala - ala opening avatar* tembok kemalasanku runtuh. Merasa punya teman sebaya untuk ngobrol, barbie pun bahagia. Finallti ehh finally, rajinlah aku bertandang kesana. Demi mendapat teman ngobrol dan arena bermain. Selain itu, disana aku menemukan orang - orang yang senasib. Saling bertanya dan menyapa karena perduli, bukan karena kepo lalu mengasihani. Hei, Dinar yang lucu, terapis cerewet dan suka menyiksa ... Awas kau kisanak *ala - ala mak lampir*. Ngga deh aku boong, dinar itu baik, gemesin, enak di ajak ngobrol, gampang ketawa. Kalo ketawa kunti kalisari k...

Untitled Letter

Dear Kak Mike, Yang ternyata dekat, tapi anggap saja jauh biar keren. Halo kak, terima kasih sudah di temani ngobrol via bbm semalam. Walaupun ujung - ujungnya paketku habis duluan. Di Semarang ini, di atas atap rumahku lebih tepatnya, bersama sirus yang lamat - lamat menaungiku dari teriknya mentari, aku menulis surat yang akhirnya ku tujukan padamu. Mungkin otak ini sudah bosan menulis surat tak bertuan. Jadi tujuanku kali ini, adalah kepada yang akan benar - benar membaca. Mungkin sih. Itu juga kalau kamu nggak sibuk menggembala ternakmu. Tapi aku yakin, surat dariku ini akan menyenangkan di baca ketika kak mike sedang berteduh di bawah pohon, di atas bukit sembari mengawasi ternakmu merumput. Kecuali ayam dan kura - kura, ya. Aku nggak tau mereka makan apa. Kak Mike, terima kasih sudah mau berteman dengan sangat baik. Banyak hal yang di dapat oleh si otak sempit ini hanya dengan membaca chatmu. Sulit sekali mencari informasi tentang mu ya? Sehingga ketika aku me...

Galih Kelana

Di cumbui rasa bersalah aku menulis surat ini, mas. Tapi aku harus muntahkan semuanya karena aku sudah muak dan mual pada diriku sendiri yang begitu lemah. Bertopeng 'pekewuh' aku selalu mengesampingkan suara hatiku sendiri. Kata orang jawa, 'pekewuh' itu tidak enak hati. Mungkin saja, kalau surat ini berwujud kertas, sehabis membaca, kamu pasti merobek - robek lalu membuangnya. Misuh - misuh dengan frontal dan penuh kebencian. Itu lah kamu mas, frontal. Tapi aku tidak menyalahkan sifatmu mentah - mentah, karena dengan surat ini pun aku ikut andil dalam kemarahanmu. Ku harap kamu tidak akan terlalu marah... Terima kasih untuk semua hadiah yang kamu berikan padaku mas, tapi entah semua hal manis yang kau lakukan belum bisa menyentuh hatiku. Maaf banget ya, mas... Hati kalau dalam bahasa jawa penggalih atau galih. Galihku ini memang Jalang. Berkelana dengan liarnya mencari cinta untuk singgah atau di tinggali. Ku hargai semua usahamu untuk menghentikan...

I'm Your Secret Admirer

Kepadamu yang sedang ku gilai, Mencintaimu dalam diam adalah anugerah terbesar yang Tuhanku berikan. Dia tak ingin aku dalam pengharapan lantas menjadi terluka karena harapanku sia - sia. Namun ku yakini, setiap doa yang ku lafalkan sebelum mata terpejam, dan saat aku mengawali hari bukanlah kesia - siaan. Semoga saja Tuhanmu menjaga indahmu agar masih selalu bisa ku pandangi kapanpun aku ingin. Akan ada kebisuan yang panjang setelah ku layangkan surat ini. Karena berbicara padamu akan terasa memalu dan memilukan. Karena kau yang ku sebut tak jua paham maksudku. Terkadang hati ini lelah, menggantung pada sebuah pertanyaan besar. Adakah aku dalam benakmu ? Terbersit meski sekelebat. Sudah menjadi penghargaan besar untukku. Menggilaimu dengan caraku adalah sebuah kesenangan. Kesenangan yang mengobati luka - luka lama. Meski kau tak menoleh, aku tetap akan memanggil. Karena hanya melihat punggungmu saja, seolah surga sedang menaungiku. Tapi belakangan aku mulai kepayahan. ...

Merindui Denita

Hai Ta, Rindu - rindu yang menggunung, memaksaku menulis surat ini untukmu. Apa kabar Ta ? Sudah berapa tahun kita tidak bertemu ? Dulu kita pernah sangat tidak terpisahkan ya ? Apa kah kau masih sering menangis di sudut kamar ? Semoga tidak ya ? Karena tidak ada aku yang membuatmu tertawa. Lagi pula seseorang yang sering menyakitimu itu sudah pergi kan ? Rasa - rasanya aku tenggelam dalam kenangan - kenangan kita. Aku terus bertanya kapan Tuhan memberiku kesempatan untuk mengulangnya lagi. Apa daya Ta, jarak dan keterbatasanku sedang bekerja sama sepertinya. Terima kasih ya, Ta. Cemilan - cemilan yang kau kirimkan itu sedikit mengalihkan perhatianku dari kesepian ini. Kau masih mengingatku ya ? Aku senang sekali. Ingin rasanya memelukmu hangat seperti dulu. Berburu sepatu bersama - sama, Jalan - jalan malam, mengerjai orang, dan hal - hal menyenangkan lainnya. Tapi Ta, jika kita bertemu lagi, ku rasa kita sudah terlalu tua untuk mengulanginya. Hahaha. Oh ...

Untuk Fretilia

Halo Nak, Sudah bahagia kan hari ini ? Semalam teman - temanmu datang mengunjungimu. Ku lihat kalian terbahak sampai sesak. Menghabiskan bergelas - gelas teh hangat dan berbungkus - bungkus martabak yang mereka bawa sendiri. Ku lihat kamu kepusingan mencerna nasihat yang teman - temanmu berikan. Meskipun mereka mengatakannya sembari tertawa. Kamu lihat raut wajah mereka nak ? Bebas sekali seperti sedang melepaskan sesuatu yang membebaninya. Kamu juga lakukanlah seperti itu. Sampai kapan energi senang itu akan bertahan ? Semoga cukup untuk menemanimu menanti mereka datang kembali. Kau lihat nak, semalam itu lagi - lagi matamu terbuka. Bahwa mereka tak pernah melupakanmu, melainkan sedang menghadapi hidupnya sendiri. Terkadang rindumu yang membabi buta itu, jadi tidak masuk akal. Tapi syukurlah nak, pemikiran - pemikiran picikmu akhirnya terpatahkan. Mereka punya kehidupan selain bersamamu. Hidup mereka terus berjalan dan tidak sepertimu yang menghentikan kehidu...

Untuk Pria Yang Tegar Hatinya

Dear Kiki, Entah kalimat apa yang akan aku tumpahkan bila aku yang duduk di tempatmu saat ini. Makian dan sumpah serapah apa yang akan ku teriakkan pada ketidakadilan. Tapi kamu tidak. Tuhan tepat meletakkan masalah ini di pangkuanmu. Pria dengan hati tegar yang pernah ku temui. Ada banyak air mata yang menetes ketika aku menuliskan ini. Aku tak menyangka jika surat hari ini ku buat untukmu. Karena dulu kamu begitu nakal dan usil. Tapi hari ini aku melihatmu sebagai seorang pria hebat yang sanggup menyangga keluarga di usia kita yang seharusnya masih senang ini. Maaf Ki, hanya semangat dan doa yang bisa ku berikan. Semoga kamu punya cukup akal sehat untuk menghadapi semuanya. Jika nanti kamu lelah, mengeluhlah padaku. Jika nanti kamu kesal pada keadaan yang menyita pikiranmu, makilah aku. Karena aku tak punya apapun untuk membantumu keluar dari semua ini. Ku beri tahu ya, Tuhanmu pastilah sedang rindu padamu. Sebab mungkin ketika Dia memanggilmu, kamu tak kunjung da...

Seseorang Yang Tiba - Tiba Menghilang

Hai, Aku seperti duduk di halte untuk menunggumu. Karena kau tak kunjung datang, beberapa kendaraan yang lewat dan singgah sejenak ku acuhkan. Karena apa? Kendaraan yang tadi singgah untuk menaikkan dan menurunkan penumpang itu, tak akan membawaku kepada tujuanku. Waktu itu kau datang, menghentikan laju kendaraan yang kendalinya kau genggam. Dan aku sebagai penumpang. 'Bisakah kau membawaku pada tujuanku?' Kau terdiam. Sepertinya aku melupakan stiker 'dilarang berbicara pada supir bus' yang kau tempel rapi di jendela kendaraan ini. Baru sepenggal jalan, dan aku belum menemukan tujuanku. Tapi kau menurunkanku begitu saja. Hampir setiap hari aku menumpang dan di turunkan. Tapi hari ini, kau tak jua muncul. Hati ini terbalut gelisah adakah orang yang sedang kau antar ke tujuannya ? Ataukah kau tidak lagi punya waktu  menghentikan laju kendaraanmu untukku? Kau yang tiba - tiba menghilang, aku sabar menunggumu disini. Bahkan jika kau tak lagi punya kend...

Dari Kakak Kepada Mama

Ma, Anggap saja kakak yang menulis surat ini. Umur kakak sudah 3 tahun, tapi kakak  belum punya cukup  kenangan bersama mama. Mama sedang apa ? Banyak kerjaan ya ma ? Apa ada yang memarahi mama di kantor ? Kakak kangen mama. Maaf ma, kakak tidak pernah menanyakan langsung, kakak takut mama marah karena mengira kakak rewel. Sedih ya ma, kakak dan adek tumbuh secara terpisah. Tinggal di rumah pengasuh yang berbeda, terkadang membuat kakak lupa bagaimana cara memperlakukan adek. Maaf lagi ma...kadang - kadang kakak harus berbuat ulah, karena mahal sekali untuk mendapat perhatian mama. Ma, capek ya pulang kerja? Melihat mama kusut, kakak ingin sekali membantu, tapi sepertinya mama sedang tidak ingin di ganggu. Ma, kakak rindu. Mungkin adek juga. Ma, kenapa melihat handphone terus? Ada apa di sana? Kapan kita bermain ma ? Setiap hari, kakak menunggu mama pulang mencari uang, agar kita bisa bermain bersama. Untuk apa uang itu ma ? Kenapa mama terus mencarin...

Dingin Setengah Hangat

Diatas bale, Semarang hari ini, Teh, surat ini permintaan suamimu. Nyeri hatiku mendengar jauh sekali suami harus berbicara padamu melaluiku. Kau tahu teh aku ini siapa ? Namaku mungkin tak sekalipun terbersit dalam benakmu, bisa jadi aku nyaris tak ada bagimu. Tapi coba duduklah di samping suamimu, rengkuh pundaknya dan paksalah dia bercerita padamu tentang aku. Dia bilang padaku ingin melepasmu untuk menggenggamku... Tidak kah itu menyakitkan ? Membaca huruf - huruf yang ku susun rapi menggantikan bilah belati untuk menusukmu. Hampir saja aku gentar, jujur saja, dia, suamimu itu, terlalu gigih untuk di abaikan. Manis kan ? Apakah dia melakukannya padamu juga ? Untung saja otak kerdilku ini masih bisa berputar meski agak macet. Sering ku ingatkan padanya, bahwa dia masih memilikimu yang menjadikannya seorang ayah. Namun dia keras menyangkal, dia bilang tidak lagi bisa menunggumu. " Jangan sengaja pergi agar di cari, jangan sengaja lari biar d...

Buta

Denting lentera berderak. Angin sendu menggoyangkan sumbunya Ada langit jingga menaungi mataku Gelap menggelayut lentera terang tak nampak sinarnya. Mata yang buta hanya melihat puisi yang kau ukir di atas batu. Hembusan angin februari menuntun mata ini melihatmu. Segenggam kecil pelita yang jauh di ufuk. Ijinkan aku merindu, menatah ulang kalimatmu yang menggelitik ruang relung. Aku beriak. Rindu... Rindu... Ada berisik menggema di hati. Aku buta merangkap bisu. Yang kudengar hanya bait - baitmu ku nyatakan sendiri. Apakah aku juga tuli? Pelita kecil yang menyingkap kelopak mata. Kau adalah sebab mengapa kertas kertas usang basah kuyup oleh tinta. Sebab kau lah isi kepala ini tumpah ruah. Kau yang menarik garis panjang dan sesuatu yang tak sanggup ku hapus. Nyala yang indah, apakah ada jalan yang kau ingin tunjuk, menggenggamu kan ku lalui. Tapi pelita, kiranya kau jauh disana.

Merpati Di Akasia

Semarang hari ini, Hatiku bergemericik seperti bunyi hujan yang mengusap punggung bumi Seperti beberapa receh yang beradu di dalam kantong. Periuknya sudah terisi. Ada yang datang membawa air dengan kedua telapaknya. Membasahi jaring laba - laba yang menggantung cukup lama. Dia ombak yang mendeburkan puisi. Bersajak tanpa rima. Dia nyanyian tanpa petikan senar gitar. Bahkan gesekan dawai biola sekalipun. dia angin yang bertiup membawa kaki - kaki kecil nan riang menyandang layang - layang. Di batang lengannya tergantung senar yang akan menarik dan mengulur. Ada embun pagi berjatuhan membasahi pinggiran daun - daun pohon akasia. Yang duduk di sini tiba - tiba saja merindu. Berharap udara yang di hembuskan, keluar melalui ventilasi lalu terbang berpetualang sampai padanya. Lalu henyak menyadarkan merpati, bahwa elang tak bisa begitu saja duduk di sarangnya. Merpati itu putih. Dan elang itu tinggi. Aku adalah sebuah pesan. Yang kejap kau baca namun tak kau simpan. Ada y...

Membendung Hati Yang Remuk Redam

Assalamu'alaikum Buk, Bergumul dengan jutaan rasa bersalah aku menulis surat ini. Lucu sekali rasanya buk, bukannya mengobrol denganmu yang duduk di hadapanku, aku malah menulis sepucuk surat ini. Di tempat dimana tidak bisa kau baca karena gagap teknologi. Buk, aku melihatmu yang lantang tertawa renyah di hadapanku. Hati ini bergetar, buk. Bagaimana ibuk bisa membendungnya ? Maksudku, hati ibuk yang remuk redam itu, bagaimana membentenginya sehingga tak kulihat setetespun air mata yang memberontak keluar dari sudut matamu. Hampir kering rasanya, air mataku setiap hari berlarian turun ke pipiku menahan kelelahan ini. Perasaan kita sama buk, remuk menjadi residu. Kecelakaan itu merusak tanganku, anak pertamamu. Anak yang sering mendengar kau banggakan di hadapan hingar bingar dunia. Kini aku tersungkur, bekerjapun belum mampu. Aku tahu perasaan nyeri yang kita bagi berdua ini. Bagaimana buk, kau tetap memiliki hati yang murah, kepada semua orang yang terbahak, hi...

Untuk Si Otong dan Vespanya

Hai Tong! Ijinkan aku menyapamu melalui surat ini. Maaf aku hanya menulis nama panggilanmu, karena akan banyak sekali orang yang menaruh sangka kepada kita jika aku menuliskan namamu sebenarnya, jadi aku fikir ini cara terbaik untuk menyampaikan surat ini padamu. Otong  yang tidak terduga, kamu pasti bingung mengapa aku memanggilmu seperti itu. Baiklah mari ku ceritakan alasannya. Bacalah dengan baik lalu omeli jika aku salah. Tong, ku sebut namamu berkali - kali untuk membuka paragraf suratku ini. Aku lupa cara kita berkenalan. Mungkin aku yang polos dan tidak tahu diri ini tiba - tiba menginvite pin BBM mu untuk memantau kegiatan mantanku. Iya Tong,  aku menyebutnya mantan. Temanmu yang dulu bersamaku itu, kini sudah pergi. Aku memang naif dan posesif sehingga pasti merepotkan sekali saat itu. Tapi kita tidak pernah bertemu langsung. Bertatap muka lalu bicara berhadapan. Kebutuhanku menghubungimu pun hanya untuk bertanya tentang  mantanku. Sebata...

Ingin Dapat Surat Cinta

Kekasihku, Yang masih kelabu. Sedang apa sekarang ? Aku tidak tahu cara Tuhan mempertemukan kita kelak. Yang pasti, aku terus berdoa agar kita lekas berjumpa. Ada pesan rindu yang ku sisipkan pada setiap permohonan yang ku panjatkan. Hai laki - laki yang nantinya akan berusaha memahamiku, maaf mungkin aku tak secantik kekasih teman - temanmu. Tapi ibuku menghadiahkanku hati yang kuat sehingga dapat menjaga hatimu. Maaf juga kalau aku mungkin akan tertawa berlebihan, kemudian menangis tersedu - sedu, lalu marah berapi - api. Karena hanya padamu ku tumpahkan isi kepala dan hatiku, sebab aku tak mampu menampakkannya pada dunia. Pria tampan yang sabar ku tunggu kedatangannya, tidak mengapa kalau kau tidak romantis dan payah dalam merayu. Tapi hanya satu yang ku inginkan, kirimi lah aku sepucuk saja surat cinta untuk menceritakan apa saja yang ada dalam hatimu. Dalam suratmu, kau boleh marah, sebal, atau berkeluh kesah ketika kau tak sanggup menghadapiku. Tapi tolo...

Jatuh Cinta Yang Terakhir

Kepadamu, Yang namanya enggan ku sebutkan. Terima kasih yang tulus ku ucapkan dari hati. Karena kau sudah sedia repot - repot menyiramkan air garam pada lukaku yang menganga. Lupa ya ? Mari aku ingatkan... Ingatkah waktu itu, ketika aku bercerita padamu bahwa aku sedang patah hati. Lelaki baik yang bersamaku, pergi meninggalkanku. Saat itu, bait demi bait kalimatmu yang menyenangkan, membuatku lebih tenang. Aku bahkan lega, luka besarku mulai menutup. Aku bersyukur, Tuhan menciptakan orang sepertimu. Hai kau, yang dalam hubungan samar kita, kau ku panggil "cinta".  Aku tau, kau pasti merasakan bahwa kata - katamu lah yang sedang ku percaya. Aku ingat kau pernah bilang, bahwa kau adalah orang terakhir yang bisa ku datangi ketikan dunia menolakku. Kalimat itu, menghipnotisku sehingga aku tak berdaya, bergantung di kedua kakimu. Apa yang kau inginkan ? Perempuan kurus berambut panjang ? Aih... Bahkan kau berkuasa atas diriku, sehingga aku rela melakukan...