Not Always There ( Part 1 )

Langit petang sudah menghitam. Namun El masih saja duduk di ambang pintu. Kaki - kakinya terpasung oleh rindu pada sang suami yang tak kunjung pulang. Sejak pagi El menunggu laki - laki itu. Bergulat dengan cemas ia berharap hari ini Ji kembali.

Dalam resah El menggerutu. Ini salahnya. Pernikahan ini bukan keinginan Ji maupun El sendiri. Tapi El memaksakan diri, ia ingin terus melihat ayahnya di sisinya. Namun Ji berbeda. Pria pintar seperti Ji tidak bisa di paksa menuruti pemikiran orang lain. Meskipun pernikahan itu harus terjadi namun Ji tidak pernah menganggapnya ada.

Masih saja Ji pulang larut, terkadang tak kembali pun sudah biasa. El bisa menghadapi ini. Ia percaya bahwa cinta akan tumbuh dengan sendirinya di antara mereka. Benar saja. Cinta itu tumbuh di hati El. Namun entah Ji. Ia masih acuh seperti biasanya.

Angin malam membelai begitu dingin. El akhirnya beranjak. Namun bukan untuk masuk kerumah. Ia hanya mengambil selembar selimut dan mantel lalu kembali keluar. Andai Ji melihat ini, mungkin hatinya akan sedikit baik pada El. Tapi sekali lagi, pria pintar seperti Ji tidak bisa di paksa.

El pernah mendengar, bahwa Ji belum mau meninggalkan kekasih nya. Sarah. Berbeda dengan El, Sarah tidak pernah mau menunggu. Sarah angkuh dan acuh. Sarah adalah Ji dalam versi wanita. Tapi El tidak pernah meletakan permasalahan ini dalam hati. Sudah dia bilang, pernikahan ini salahnya.

Tapi El tau, cinta ini bukan kesalahan. El mengulur kesabarannya sampai tengah malam. Ketika lonceng jam berdentang 12 kali, El goyah. Kaki - kakinya melangkah masuk. Tangannya menyeret selimut yang menjuntai ke lantai. Hari ini penantian El tak berujung. Namun El bertekat akan terus menunggu sampai Ji benar - benar kembali. Malam ini El memutuskan menyerah, membaringkan tubuhnya lalu menggumamkan doa. Doa - doa untuk Ji. Lalu El menenggelamkan diri kedalam mimpi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

S.O.S !!!

Begini saja, Aku Pamit !!

Menanggung Pertanggung Jawaban