Merpati Di Akasia
Semarang hari ini,
Hatiku bergemericik seperti bunyi hujan yang mengusap punggung bumi
Seperti beberapa receh yang beradu di dalam kantong.
Periuknya sudah terisi. Ada yang datang membawa air dengan kedua telapaknya. Membasahi jaring laba - laba yang menggantung cukup lama.
Dia ombak yang mendeburkan puisi.
Bersajak tanpa rima. Dia nyanyian tanpa petikan senar gitar. Bahkan gesekan dawai biola sekalipun.
dia angin yang bertiup membawa kaki - kaki kecil nan riang menyandang layang - layang. Di batang lengannya tergantung senar yang akan menarik dan mengulur.
Ada embun pagi berjatuhan membasahi pinggiran daun - daun pohon akasia.
Yang duduk di sini tiba - tiba saja merindu. Berharap udara yang di hembuskan, keluar melalui ventilasi lalu terbang berpetualang sampai padanya.
Lalu henyak menyadarkan merpati, bahwa elang tak bisa begitu saja duduk di sarangnya. Merpati itu putih. Dan elang itu tinggi.
Aku adalah sebuah pesan. Yang kejap kau baca namun tak kau simpan. Ada yang aneh, hujan membantu tangan itu mengisi periuk - periuknya.
Di genggamku ada secangkir teh dan kau menyimpan gulanya. Tapi aneh, kau belum sempat membagiku, tapi aku sudah mengecap manis.
Lalu merpati itu merangkai ranting. Jadilah tempat nyaman untuk menunggu. Kemudian cakar - cakarnya mencengkram kuat. Mengepakkan sayapnya seberusaha mungkin.
Tapi terik menyembunyikan bayangannya. Elang terlalu jauh. Dan embun masih saja jatuh. Pohon akasia sudah basah. Tapi batangnya tidak rapuh.
Merpati sedang bersiul pada layang - layang yang mulai tinggi. Titip salam untuknya, di atas pohon akasia ini aku menunggu. Tapi layang - layang tunduk pada angin. Meliuk kesana kemari meninggalkan merpati.
Periuknya sudah basah. Tapi elang belum merendah. Merpati menelisik, kemana elang akan hinggap. Di tempatnya sebuah tebing yang jauh.
Elang dengarlah merpati. Meskipun tangan berhenti menuang, tapi periuk terisi hujan.
Komentar
Posting Komentar