Dingin Setengah Hangat

Diatas bale, Semarang hari ini,

Teh, surat ini permintaan suamimu.
Nyeri hatiku mendengar jauh sekali suami harus berbicara padamu melaluiku.

Kau tahu teh aku ini siapa ?

Namaku mungkin tak sekalipun terbersit dalam benakmu, bisa jadi aku nyaris tak ada bagimu. Tapi coba duduklah di samping suamimu, rengkuh pundaknya dan paksalah dia bercerita padamu tentang aku.

Dia bilang padaku ingin melepasmu untuk menggenggamku...

Tidak kah itu menyakitkan ? Membaca huruf - huruf yang ku susun rapi menggantikan bilah belati untuk menusukmu.

Hampir saja aku gentar, jujur saja, dia, suamimu itu, terlalu gigih untuk di abaikan. Manis kan ? Apakah dia melakukannya padamu juga ?

Untung saja otak kerdilku ini masih bisa berputar meski agak macet. Sering ku ingatkan padanya, bahwa dia masih memilikimu yang menjadikannya seorang ayah. Namun dia keras menyangkal, dia bilang tidak lagi bisa menunggumu.

" Jangan sengaja pergi agar di cari, jangan sengaja lari biar dikejar, berjuang tidak sebercanda itu"

Baca teh, itu salah satu kutipan dari orang besar yang tersimpan di dalam salah satu laci di otakku. Lalu dimana kau bisa hidup sekarang ? Sedang suamimu tetap tinggal dan kedinginan. Hati wanita itu seperti gua, teh, kesepian itu dingin, dan menunggu itu melelahkan.

Tubuhnya kedinginan di sayat sepi. Nyaris hipotermia. Badai - badai kesepian yang kau tebarkan itu menggoyahkan prinsipnya.

Yang kau harus juga tau, hatiku kosong namun nyaman. Kau seharusnya waspada. Di dalamnya juga dingin. Tapi suamimu giat mencari kayu untuk menyalakan api.

Sudah setengah hangat rasanya. Ku ingatkan padamu, jangan sampai menjadi panas. Suamimu bisa saja terbakar lalu mengabu. Dan abunya lebur besama tanahku. Dan kau tak lagi bisa memilikinya.

Segeralah !

Karena gua yang kosong tak hanya hatiku. Dan mereka juga tak sewaras aku.
Buka pintumu dan nyalakan kembali api kalian.

Aku mengingatkanmu.

Tertanda

Aku.

Tribute to bang Ochan.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

S.O.S !!!

Begini saja, Aku Pamit !!

Menanggung Pertanggung Jawaban