Jengah

Hai,

Sedang apa ?

Tiba - tiba saja aku rindu padamu.
Merinduimu begitu kejam.
Kesepian mencambukku dengan bayangmu yang sedang kupeluk.

Tak perlu kau hiraukan surat ini sangat- sangat.
Aku hanya menulis untuk menyenangkan hatiku.
Meski isinya merujuk padamu, abaikan saja. Kau pasti bisa. Karena setiap harinya kau memang sudah mengabaikanku.

Kemarin, aku sudah memutuskan untuk beranjak.
Hati ini sudah jengah dan nyaris kering karena bosan.
Berbicara dengan punggungmu tak lagi menyenangkan.
Otakku pun kehabisan tanda tanya karena semua kau jawab.

Aku masih disini.
Di tempatku selalu memikirkanmu.
Tapi hari ini berbeda,
bersama sirostratus yang membiaskan sinar surya,
aku mulai menghapusmu dari kepalaku.
Sedikit demi sedikit seiringnya bergerak lembut mengikuti angin.

Aku terluka.
Keyakinan yang ku patri sendiri ternyata begitu kuat.
Tapi berkawan jemu aku terus berusaha.
Kepenatan yang tercipta ketika aku menghapusmu,
muncul seolah mencekik dan menghentikan nafasku.

Langit siang ini begitu pucat,
seolah sedang menggambarkan sesakku.
Sirokumulus dan sirostratus bergandengan.
Menari mengiringi setiap butir air mata yang jatuh di terpa angin.
Aku tetap harus meghapusmu.
 Karena jika tidak, aku akan kehilangan diriku sendiri.
Tenggelam bersama kebodohan yang kucipta.

Semoga altostratus datang menggantikan kami.
Menitikkan butiran hujan untuk melarutkan air mataku.
Membasahi hatiku yang mulai kekeringan.
Melunturkan guratmu dari kepala.
Sebelum benar hilang, sekali ku ingin teriakkan pada mendung,
 bahwa aku mencintaimu.

Sudahlah, ku akhiri saja. Jengahku sudah berkemelut dalam hati.

Salam, 

Aku

Komentar

Postingan populer dari blog ini

S.O.S !!!

Begini saja, Aku Pamit !!

Menanggung Pertanggung Jawaban