Buta


Denting lentera berderak.
Angin sendu menggoyangkan sumbunya
Ada langit jingga menaungi mataku
Gelap menggelayut lentera terang tak nampak sinarnya. Mata yang buta hanya melihat puisi yang kau ukir di atas batu.

Hembusan angin februari menuntun mata ini melihatmu. Segenggam kecil pelita yang jauh di ufuk. Ijinkan aku merindu, menatah ulang kalimatmu yang menggelitik ruang relung.

Aku beriak. Rindu... Rindu... Ada berisik menggema di hati. Aku buta merangkap bisu. Yang kudengar hanya bait - baitmu ku nyatakan sendiri. Apakah aku juga tuli?


Pelita kecil yang menyingkap kelopak mata. Kau adalah sebab mengapa kertas kertas usang basah kuyup oleh tinta. Sebab kau lah isi kepala ini tumpah ruah. Kau yang menarik garis panjang dan sesuatu yang tak sanggup ku hapus.

Nyala yang indah, apakah ada jalan yang kau ingin tunjuk, menggenggamu kan ku lalui. Tapi pelita, kiranya kau jauh disana.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

S.O.S !!!

Begini saja, Aku Pamit !!

Menanggung Pertanggung Jawaban