Galih Kelana
Di cumbui rasa bersalah aku menulis surat ini, mas. Tapi aku harus muntahkan semuanya karena aku sudah muak dan mual pada diriku sendiri yang begitu lemah. Bertopeng 'pekewuh' aku selalu mengesampingkan suara hatiku sendiri. Kata orang jawa, 'pekewuh' itu tidak enak hati.
Mungkin saja, kalau surat ini berwujud kertas, sehabis membaca, kamu pasti merobek - robek lalu membuangnya. Misuh - misuh dengan frontal dan penuh kebencian. Itu lah kamu mas, frontal. Tapi aku tidak menyalahkan sifatmu mentah - mentah, karena dengan surat ini pun aku ikut andil dalam kemarahanmu.
Ku harap kamu tidak akan terlalu marah...
Terima kasih untuk semua hadiah yang kamu berikan padaku mas, tapi entah semua hal manis yang kau lakukan belum bisa menyentuh hatiku. Maaf banget ya, mas...
Hati kalau dalam bahasa jawa penggalih atau galih. Galihku ini memang Jalang. Berkelana dengan liarnya mencari cinta untuk singgah atau di tinggali. Ku hargai semua usahamu untuk menghentikan lajunya. Tapi mau gimana lagi mas, aku sendiri bingung apa maunya si galih ini. Laki - laki yang meskipun frontal tapi baik dan pengertian sepertimu pun tak diberinya kesempatan.
Maaf mas, aku belum bisa memberimu harapan...
Si jalang ini juga pengecut mas, tak berani mengungkapkan langsung padamu. Tapi dulu kan sudah ku peringatkan, jangan menaruh hati padaku. Karena ketika kamu kejar, Galih yang jalang ini malah berlari sekencang - kencangnya.
Aku juga ngerti mas, jatuh cinta itu kurang ajar. Datengnya tanpa permisi. Akupun sedang jatuh cinta, mas. Tapi bukan sama kamu. Maaf lagi. Aku memang bangsat dan tidak tahu diri.
Takkan habis maafku untuk memintakan ampun si galih ini kepadamu. Segala kebaikanmu yang sudah pasti tak akan bisa kubalas itu, akan ku ganti dengan doa. Semoga kamu segera menemukan orang yang bisa mengalihkan perhatianmu dariku.
Segitu aja ya mas, aku tak mau menyita waktumu banyak - banyak.
Semarang, 16 Februari 2015
Galih Kelana
Komentar
Posting Komentar