Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2015

Gadis Di Bawah Payung

Gambar
Sulur hujan terburai menyapu tanah, menguapkan pertrichor. Dihirup aromanya lekat - lekat, damai tiada kira. Di bawah payung ini, seorang gadis menantang hujan, mengadu langkah - langkah telanjangnya pada bumi. Menikmati butiran air yang jatuh mencumbui kedua telapak kakinya. Dingin menusuki lapisan kulit. Tapi hanya dengan ini dirasa dapat melarutkan harapan. Harapan yang mati dalam sebuah perjalanan mengejarmu. Tiada kata terlalu, yang pantas bersanding dengan ungkapan cinta, bila itu kau pemiliknya. Di bawah payung ini seorang gadis sedang melebur pedihnya. Pedih karena terluka dalam perang untuk memenangkan hatimu. Masih hanyut dalam aroma petrichor, sekarang ia merasa hujan sedang memanggilnya, membisikkan namanya, menggelitik telinganya. Di ulurkan telapaknya keluar payung. Meraba butiran hujan yang belum sempat mencium tanah. Dingin..... Dingin lalu menggema menjadi sejuk, merayapi ruang - ruang sesak di dalam hatinya. Ia menurunkan payungnya. Sekarang hujan da...

Tanpa Penyesalan

Gambar
Aku berdiri di hadapanmu. Dengan tubuh yang basah kuyup, namun bukan karena hujan. Air mataku sendiri yang membasahinya.  Aku memang pelupa, Meski ku tahu seberapa dalam luka yang kau toreh, Masih saja ada doa yang tersisip untuk kembalimu. Kenyataannya aku ini pemaaf serta perindu. Nurani kecil yang menyala dalam diriku, mengiyakan maafmu. Ku tau ia sedang rindu, Dibuai oleh dusta yang nista dari ujung lidahmu. Tapi kemudian nurani sadar, bersamamu bahagiaku semu, senyumku palsu, cintaku kelabu. Lalu aku kembali pada hidupku, dengan sebuah lambaian tangan dari balik punggungku. Tanpa terucap perpisah...

Mengingatmu

Hai Sir,  Aku melihatmu berlalu dalam diam. Siluetmu membekas di kaca jendelaku. Ah, Tidak... Mungkin di mataku. Begini Sir, ku lihat sorot matamu lebih jernih, dan senyummu lebih sejuk dari yang terakhir ku lihat. Siapa wanita yang kau rengkuh hatinya ? Dia beruntung, kqkau pun. Tidak Sir, aku tak ingin apapun kembali. Tuhan sudah mengetuk paluNya. Kita sudah di adili seadilnya. Tak ada lagi tuntutan yang ku ajukan. Ternyata sepeninggalmu, aku dapat melihat sisi lain dunia. Dunia yang dulu kau jauhkan dariku. Senyumku juga sudah sehangat mentari pagi. Ini akhirnya, Sir. Akhi...

Unsend Letter

Tuan, Selamat pagi, Aku senang dengan caraku menyapamu hari ini. Kau terdengar lebih tampan. Kau memang tampan tuan, setidaknya begitu menurutku dan ibumu. Hahaha... Negeri mana yang sedang kau kunjungi ? Selepas kepergianmu, aku sering pergi ke kota. Mengamati untaian gerbong kereta. Barangkali kau ada di salah satunya. Aku sadar aku bodoh tuan, mungkin juga aku sudah gila. Aku tahu tak akan ku temukan kau disana. Tak dimanapun. Aku juga tahu, pergimu tidak dengan kereta. Tapi bukankah berharap itu tidak melanggar hukum ? Aku tahu tuan, surat ini tak akan sampai pada...

Petangku Merinduimu

Selamat Petang, Aku menemuimu dengan telapak tangan tertelungkup, dan dahi yang beradu mesra dengan sajadah. Menenggelamkan diri dalam syahdu pembicaraanku dengan-Nya. Tak banyak yang ku ucap, hanya tiga kata. Aku rindu padamu. Sisanya, dengan kedua bibir yang terkatup, Dia sudah mendengarnya dari tangisku. Rindu - rindu itu masih ada, di sela - sela jemari tangan kami yang menengadah. Kami perempuan - perempuan pejuang cinta, yang tangguh hatinya. Perempuan yang dahaga keteduhan. Kemudian Dia berkata, bahwa kami harus bersabar jika menginginkan suatu perkara. Betapa baik Dia. Kemudian Dia juga memberi...

Berjalan Mundur

Pria, Aku rindu.... Hatiku lucu saat mengucapnya. Perasaan ini pandai berkamuflase. Padahal aku sudah tak serajin dulu mencari namamu dalam kontakku. Dan perasaan ini tak selega dulu ketika ku temukan namamu masih ada. Tapi ketika menyebut rindu, masih saja rautmu yang tergurat. Begini saja yang namanya cinta ? Entahlah, aku juga heran. Biasanya aku tak sepemalas ini. Sudah pasti aku tak lolos seleksimu kan ? Yasudah tak masalah. Akhir - akhir ini Tuhan sudah membiasakanku jatuh. Yang bisa ku lakukan hanya berjalan mundur, menapaki kembali langkah yang menujumu, mengambil kembali...

Pulang

Bunda, Apa kabar ? Saat ini aku ingin pulang. Bukan sekadar hilir mudik di stasiun menyandang ransel, Bukan pula sekadar menikmati petak siluet bumi dari jendela kereta. Bukan Bun, Aku ingin pulang sebenar - benarnya pulang. Memeluk ragamu yang tangguh, Dan merasa dekat dengan tempat dari mana aku berasal. Biar saja ku sesap peluh yang resapi bajumu, Agar selalu dapat ku ingat aroma keteduhan darimu. Ku sandarkan kepala di bahumu, Agar hutang - hutang rindu yang menggunung terbayar sudah. Jangan di lepaskan Bun, Seberapa pun kau ingin dengar suaraku bercerita kabar. Biarkan aku tengelam sebentar di surgaku, Aku takut gelombang ego menyeretku lampau jauh Takut tak dapat lagi kurasakan...

Paranada Tanpa Not

Malam ini berbeda. Aku tak sedang berdiam di atas kasur sembari bergumul dengan selimut. Malam ini kalian akan mendapatiku berkaos bola merah jeans abu, berhigh heels dan berlipstick merah. Aku mau kencan kau tahu ? Tapi bukan dengan pria. Haha. Kali ini dengan Ibu - ibu satu anak. Setelah kenyang dengan seporsi tenderloin steak dan cappucino float kami memutuskan untuk berkeliling kota Semarang. Semarang berubah, dari setelah ku putuskan tidak akan meninggalkan kamarku tanpa kepentingan. Aku kagum sekaligus terkejut. Selama ini aku hanya berimajinasi di bantu dengan cerita orang - orang. Sepeda motor kami berhenti di parkiran Lawang Sewu. Kami berencana duduk di Tugu Muda sembari mengobrol. Di tengah pusat pemerintahan kota Semarang, aku duduk di hamparan rumput taman Tugu Muda yang membentang bak karpet hijau yang luas. Ku lihat temanku sibuk mengejar anaknya yang berlarian. Entah mengapa perasaan ini sunyi. Kosong. Sepi. Hanya ku dengar detak jantungku yang terus berdetak sepe...

Cerita Pena Tentang Buku

Aku pena dan kau buku. Inilah perbedaan kita : Aku hitam, padat dan kau putih, lembut. Begitu bersih hingga ku nodai. Ku ukir kenagan di atasmu. Kisah manis, pahit dan terkadang bon belanja. Itu kau, yang sedemikian tenang menyesap tinta yang ku goreskan tanpa bisa ku ambil kembali. Hingga aku, juga kau akan habis. Ada perbedaan lagi : Ketika habis, tempat sampahlah rumah baruku. Sedang kau, tersusun rapi di sebuah laci. Kelak jika ada hati yang merindu, kau akan kembali di buka, dan dibaca. Lalu mereka menangis, tersenyum bahkan tersipu. Aku yang menulismu, tapi kau yang selalu dibaca. Adakah aku iri ? Tidak Inilah cintaku padamu. Bisa kau ambil hingga habis. Sesukamu. Tanpa bisa ku minta kembali. Kemudian aku lenyap dari hadapmu. Tak mengapa. Cukup ku bersyukur, meskipun setitik aku pernah menoreh kisah pada halamanmu.

Carousel

Gambar
Pic Source From Google Carousel indah ! Carousel warna - warni ! Carousel kelap - kelip ! Aku suka sekali ! Tapi ku sadari tak akan membawaku kemanapun. Seperti perasaan ini. Yang hanya berporos pada satu titik. Kamu. Yang ku sadari tak akan membawa ku kemanapun. Tak kan menunjukkan dunia manapun. Berputar pada suatu kesia - siaan. Aku suka carousel ! Tapi aku tak pernah mau menaikinya ! Aku takut pusing ! Seperti kamu ! Aku suka kamu ! Tapi aku tak pernah berani memintamu membalasnya. Aku takut hatiku  patah. Hanya melihatmu dari jauh pun cukup indah.

Appoggiatura

Gambar
pic source from google Appoggiatura adalah dekorasi lagu yang mengacaukan harmoni dan bertujuan untuk menciptakan efek sedih pada pendengar. Sehingga orang  akan menangis ketika di perdengarkan not ini. Mungkin namamu mengandung Appoggiatura. Setiap aku melafalkannya, rasa sedih merayapi hati. Air mata mulai menggenangi pelupuk. Bagai disonansi yang membingungkan harmoni hatiku, namamu terus mengalun. Aku coba berhenti nyanyikan. Setiap huruf yang membentukkmu. Tapi bibir ini enggan diam. Appoggiatura membuatnya ketagihan. Meskipun pedih dan sedih terus ku lantunkan. Appoggiatura di balik lagu rindu. Di balik sendu - sendu yang biru. Di balik jemu yang membeku. Namamu masih saja berdenting di kepala. Nyanyian tentangmu menciptakan resonansi yang menggema. Menyakiti kepala Menyakiti hati Appoggiatura ini, entah kapan berhenti berbunyi ?

Mengapa ?

Mengapa malam hitam dan mendung kelabu ? Mengapa banyak hati yang muram bersamamu ? Mengapa tak pagi ? Apakah mentari terlalu ceria ? Padahal bulan itu indah, bintang itu ramah. Mengapa air mata yang tertumpah ? Mengapa aku, mengapa kamu ? Mengapa diantara kita ada senjang yang membeku ? Mengapa Luka ? Apakah hati terlalu lengah ? Padahal Cinta itu tak pernah salah. Mengapa perih yang tertatah ? Mengapa kita ? Mengapa berjumpa ? Hanya aku dan sejuta mengapa yang mulai lelah. Kosong ini pedih, sepi ini luka. Hanya aku tersisa, duduk di antara jengah dan amarah.

S.O.S !!!

" Vinaaa !! Bangun ! Ya Allah ini bocaaaahhh ! Males amat sik ! ". Suara melengking milik ibu gue, bikin gue kaget dan terpaksa bangun. Ini hidup gue. Hidup yang gue rasa ngga akan seru kalo ngga ngotot. Seperti teriakan ibu gue tadi. Nama gue Vina, umur gue 22 tahun, pengangguran dan jomblo. Dan gue termasuk cewek yang betah ngedokem di kamar berhari - hari. Gila, sepet ngga lo ngeliatin gue tiduran seharian ? Itu yang ibu gue rasain sekarang. Oh ya ! Gue nganggur dari 2 tahun yang lalu, karena habis kecelakaan tangan gue belom beres. Gue jomblo juga dari 2 tahun yang lalu, karena kebetulan gue ketemu orang yang masih juga salah. Setelah gue patah hati dan kecelakaan, hidup gue 100% berubah. Gue kehilangan diri gue yang ceria, ramah dan semangat. Cukup bahas masa lalu gue. Gue duduk di atas karpet buluk di kamar gue setengah sadar. Sambil nyari - nyari handphone di antara tumpukan bantal. Gue ini cewek aneh menurut gue sendiri. Di kamar gue ada kasur empuk, tapi gue ...

Mawar & Dandelion

Penghujung senja, angkasa bias semburat keemasan. Di sebuah petak kecil kebun belakang, tumbuhlah sebatang pohon mawar di antara rerimbunan dandelion yang bergoyang - goyang seirama tertiup angin sore. Terdengarlah pembicaraan setangkai mawar dan setangkai dandelion yang sudah lama bersahabat. "Selamat senja dandelion" "Sebentar lagi hujan" "Hah?" Mawar mendongak kelangit. Memandangi segumpal stratokumulus yang menggantung rendah di ladang sinar kekuningan. "Sebentar lagi angin kencang" "Hah ? Terus?" "Sebentar lagi aku terbang" "Hah ? Jangan !" "Kok jangan ?" "Ngga boleh !" "Lho ?" "Nanti ku lindungi ! Aku janji !" Kemudian angin mulai berhembus sembari menitikkan hujan. Mawar merunduk. Memeluk dandelion kecil. Perlahan satu persatu anak - anak dandelion beterbangan ke angkasa. " Jangan dandelion ! Jangan !" mawar terisak. Air matanya ja...

Pukul Satu Pagi 31 Maret 2015

Aku belum tidur. Apa yang ku pikirkan ? Banyak. • Kesepian ini sampai kapan ? • Besok ke puskesmas mengurus surat rujukan. • Rabu ke RS daerah • Mungkin kamis ke Dokter Bedah • Mungkin Rontgen • Tadi malam menyenangkan. • Bisakah ku peluk teman - temanku ? • Bolehkah aku menghela nafas di dada mereka barang sepenggal ? • Nanti aku dikira baper • Padahal cuma pengen melepas beban • Besok pasti bosan. • Aku ingin menangis. • Menangisi apa ? • Entah. Mungkin aku lelah. Pukul setengah dua. Aku harus tidur Harus di paksa tidur.

Yang Akan Di Kenang

Lagi - lagi mereka, Tom, Kenthi, Rudy, dan Ari. Siapa lagi ? Persahabatan aneh yang sangat ku syukuri. Apa yang ingin aku banggakan tentang mereka ? Mereka tak punya apa - apa. Mereka hanya sekumpulan lelaki baik dan menyenangkan. Persahabatan kami sederhana, kami tidak nongkrong di cafe untuk sekedar ngopi dan ngobrol berjam - jam. Cukup seteko es teh yang kami tuang sendiri ketika ingin. Tak ada makan mewah barang pizza dan kawan - kawannya. Hanya martabak sebagai cemilan wajib. Dan nasi bungkus untuk beramai - ramai. Tapi di sinilah arti kebersamaan kami. Kebersamaan yang hangatnya tak ku dapat dari belahan dunia manapun. Menyenangkan. Kami menertawakan semua topik pembicaraan. Kemudian kami menertawakan diri sendiri. Aku suka mereka. Lebih dari apapun. Kelak ketika kami temukan hidup masing - masing, akan ada tawa yang selalu kami kenang. Ada cerita yang kami simpan bersama. Ada pedih yang kami bagi rata. Atau  mungkin kami akan selalu bersama. Selamanya. Semoga ya .....

Mita

Mita dimana ? Preti rindu, Mita sedang apa ? Biasanya kita ngapa - ngapain berdua. Sudah begitu lama Mit, Beberapa bulan yang lalu,  setelah terakhir aku melihatmu di bonceng motor oleh suamimu sembari menangis. Aku yang terbengong hanya melihatmu mengacungkan jempol dan kelingking sebagai isyarat kau akan menelponku. Tapi setelah itu kau menghilang. Tak ada telepon, atau kabar apapun. Kau tak kembali. Tak pernah lagi kembali. Aku sedih Mit, aku kehilangan tempat berkeluh. Kehilangan teman bercanda. Kehilangan begitu banyak celoteh polos. Kehilangan seseorang yang selalu yakin bahwa hidupku akan menjadi lebih baik, padahal aku sendiri tak yakin. Mita rindukah ? Preti menangis Mita aku ingin peluk ? Preti lelah sendirian Mita aku ingin ketawa ? Tapi kamu tak ada Hanya jalan buntu yang ku temukan ketika mencarimu. Seperti terselubung kabut pekat yang hitam. Membungkus rindu dan penasaranku. Mita kamu dimana ? Preti rindu...... Sangat rindu......