Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2015

Aku Menunggu...

Aku ingin memenjara segurat jarak dengan cinta. Apa daya ? Ingin pula ku binasakan selingkar waktu, dengan rindu yang gebu. Mana bisa ? Ingin ku rangkum sejuta jengkal kala tak berpijak pada satu alas. Pun ingin ku halau mentari agar tak lekas menyentuh senja. Jemari ini hendak menggunting jarum yang berputar di atas angka. Inginnya agar waktu terbunuh atau terhenti barang sesaat. Agar terbalas segala bias dahaga akan tiadamu. Raga ini nyaris pula menggulung seruas jalan yang membentangi kedua pasang kaki. Agar jarak terpenggal atau tersekat barang sedepa. Agar tersambut segala gapai sepasang lengan di pundakmu. Apa daya ? Semesta berkuasa... Ku lawan jarak dengan cinta yang berserak. Waktu dengan rindu yang memburu. Bersama mereka ku menebar doa untuk lekas kembalimu, aku menunggu...

Bahagiamu

Jika aku diharuskan menukar hidupku dengan sesuatu di dunia ini, ku harap itu bahagiamu. Tawamu adalah nafas, yang ku hirup, mengaliri rongga dada. Karenanya aku sedia, jika hanya nyawa sebagai bayarannya. Senyummu adalah darah, yang berlayar mengarungi ratusan ribu kilometer pembuluh di sekujur tubuh. Karenanya aku mau, jika hanya rindu yang membunuhku. Sedihmu adalah sakit, menggerogoti setiap sel yang menyusun hidupku. Karenanya, aku akan meronta jika tak lekas dapat menebusnya. Patut jika ku taut syukur yang amat sangat, karena bahagiamu dapat ku lihat, dengan nyawa yang masih melekat.

Hati

Aku sedang duduk bercumbu dengan angin, Tertawa amgkuh bersama sang penebar terik, Bisuku riuh mengeja awan yang berlarian. Sendiri, yang tak benar sendiri.... Bersama mereka, Ku pintal seutas keputus asaan. Pedih ku hasut hingga hanyut. Kemudian jemari langit yang gesit, merogoh sakunya, di sodorkannya padaku, sebuah cerita baru. Hadiah hati ini, ku tempel bersama sajak - sajak rindu, ku lipat rapat, Kemudian ku larung di samudra harapan. Semoga ada keajaiban yang meniupnya hingga labuh... Kemudian ada sebuah doa manis yang tersisip, kala aku memeta nebula - nebula kecil yang serak di matamu, Hati, jatuh cintakan kami, semudah dan sesederhananya, setulus mentari sinari dunia...

Perpindahan

Gambar
Pic Source From Google " Nyatanya, pindah tak berarti pisah" Ku dapati secercah cahaya sendu, bias dari kedua bola mata yang menggumam cinta. Merapal berpuluh kali rindu dalam setiap kalimat pertemuan. Sendu itu sedu dan bukan milikku... Aku tahu... Ganar nalar mengejawantahkan bahasa bisu yang sirat dan sarat. Kejujuran kelu terikat sekat cekat. Ku paham, mengapa diam berujung lebam, rupanya masih ada sisa dari sebuah perpindahan. Gemerisik bisik yang berisik memetakan penasaran dalam angan. Di biarkan pilunya mengurai, pedihnya menjuntai, akhirnya berderai membantai perasaan lain hingga terkulai. Nyatanya pindah tak berarti usai. masih sempat, jika meninggalkan ternyata berat, masih dini untuk memilih kembali atau pergi, lalu aku siap, jika harus kembali senyap atau menggandeng tanpa mengungkap. tiada pinta tuk lupakan, karena lupa itu menyesak dan mengisakkan. Mengerti saja, ada segenggam hati yang tersentuh, tertelusuri hingga jauh. Ada cinta y...

Meramu Rindu

Vina punya pacar ? Ah... Masa sih vina punya pacar ? Iya deh kayaknya ? Kayaknya ? Iya gitu... Maaf hatiku masih melayang gamang. Tak mudah memulai apa yang sudah ku tutup satu setengah tahun lalu. Membongkar kembali janji yang ku buat sendiri. Janji tak akan mencinta lagi. Tapi apa daya, senyummu mengusiknya. Keyakinanku. Dengan kuat kucoba mengingat. Perasaan apa yang merayapi. Rupanya cinta sedang meramu rindu, uapnya memanggil - manggil namamu. Tiba - tiba menjadi bodoh dan bisu, aku masih enggan mengaku. Aku takut, takut pada ketakutan yang ku ukir sendiri. Maafkan aku rindu - rindu ini masih meragu. Aku pasrah pada waktu, yang mungkin membawamu menjadi akhirku. Tapi sudahlah mari kita mulai. Menghidupkan hatiku yang nyaris mati. Mari kita mulai, membuka jalan baru untuk di titi. Semoga raguku aus di kikis rindu... Galih Fajaryanto 13 Mei 2015

People and Their Box

Gambar
pic source from google Manusia punya sebuah kotak, kotak itu Ia ciptakan sendiri dan hanya beberapa manusia yang menurut 'seleranya' di ijinkan masuk ke kotak tersebut. Ku namai kotak tersebut 'perbedaan'. Benar kata Risa Saraswati di bukunya yang berjudul Sunyaruri. Manusia lah yang meciptakan perbedaan, bukan Tuhan. "Kamu berbeda keyakinan denganku, kita ngga bisa bersama" WHY ?? Apakah ketika kita berbeda keyakinan lantas salah satu dari kita bukan manusia ? "Kamu berbeda cara pandang denganku, kita beda" I hate this word !! Apakal ketika kita berbeda cara pandang kemudian salah satu dari kita itu seekor godzilla ? "Kita berbeda strata, orang tuaku ngga akan ngijinin" dan sejuta kata - kata penghakiman yang lain yang menjadikan manusia berkelompok - kelompok dan tidak cocok dengan kelompok lain. Mengapa kita tidak mengkotaki sesuatu dalam satu penjabaran, 'Makhluk Tuhan' ? Huh ? Bukankah itu lebih menyen...