Untuk Si Otong dan Vespanya
Hai Tong!
Ijinkan aku menyapamu melalui surat ini.
Maaf aku hanya menulis nama panggilanmu, karena akan banyak sekali orang yang menaruh sangka kepada kita jika aku menuliskan namamu sebenarnya, jadi aku fikir ini cara terbaik untuk menyampaikan surat ini padamu.
Otong yang tidak terduga, kamu pasti bingung mengapa aku memanggilmu seperti itu. Baiklah mari ku ceritakan alasannya. Bacalah dengan baik lalu omeli jika aku salah.
Tong, ku sebut namamu berkali - kali untuk membuka paragraf suratku ini. Aku lupa cara kita berkenalan. Mungkin aku yang polos dan tidak tahu diri ini tiba - tiba menginvite pin BBM mu untuk memantau kegiatan mantanku. Iya Tong, aku menyebutnya mantan. Temanmu yang dulu bersamaku itu, kini sudah pergi. Aku memang naif dan posesif sehingga pasti merepotkan sekali saat itu.
Tapi kita tidak pernah bertemu langsung. Bertatap muka lalu bicara berhadapan. Kebutuhanku menghubungimu pun hanya untuk bertanya tentang mantanku. Sebatas yang ku tau, banyak orang mengacuhkan pertanyaanku, ketika aku bertanya tentangmu. Beberapa hanya tersenyum sinis. Dan dari sedikit yang ku ketahui, kamu adalah orang yang tertutup dan hanya berkutat dengan duniamu. Benar begitu kah ?
Lalu aku pulang kembali kekotaku, membawa kepercayaan bahwa orang tertutup sepertimu tidak akan berbohong. Aku menjalani hubungan LDRku masa itu, terbantu dengan informasimu. Maaf lagi aku baru sadar, itu pasti sangat mengganggu.
Dan kemudian masalah pun datang, pria itu, temanmu, tiba - tiba menghilang dariku. Memutus semua kontak dan membuatku kebingungan setengah mati. Jujur aku merasa bodoh menulis paragraf ini. Karena kala itu, aku masih wanita yang akan mempertahankan hubungan yang sudah lama, aku memutuskan bertandang kembali kesana. Kekota yang pernah ku tinggali 9 bulan itu. Dengan terus mengusikmu, diantara kesibukanmu yang menggunung, aku memintamu untuk membantuku lebih banyak.
Ku beri tahu ya, itu adalah pertama kalinya aku pergi jauh seorang diri. Dan pertama kalinya aku naik kereta api eksekutif dengan harga yang membuatku sulit bernapas beberapa bulan. Ah... Aku sudah gila sepertinya.
Kemudian ketika kaki - kakiku berpijak pada bumi ibukota, taksi membawaku ke kotamu, ketempat kita akan bertemu. Saat itu pukul 01.30 pagi. Udara sejuk pagi kotamu, menyeruak mengaliri paru - paruku. Ku buka kaca jendela taksi lebar - lebar untuk menikmati deretan bangunan di sepanjang jalan yang dulu sering ku lalui. Aku hanyut dalam nostalgia.
02.20 aku sampai Tong, di restoran cepat saji dekat kantormu yang juga pernah menjadi kantorku. Sembari menikmati sup hangat, aku terus menghubungimu agar segera menemuiku. Hingga ponselku kehabisan daya, kamu tak kunjung datang. Berbagai menu sudah ku pesan, berbagai gaya duduk sudah ku coba, hingga hampir habis harapanku menunggumu.
04.00 akhirnya pecah juga penantianku. Kamu datang dengan wajah mengantuk yang lucu. Aku terus tertawa dalam hati, karena pertemuan intens pertama kita, aku bisa melihat wajah aslimu. Kemudian dengan vespamu yang suaranya memecah keheningan subuh, kita berkeliling. Kamu juga perlu tahu itu pertama kalinya aku naik vespa. Duduk di belakangmu, tanpa helm, membiarkan pashminaku berkibar - kibar. Berhenti dari hotel ke hotel untuk mencari tempat yang nyaman dan terjangkau untukku beristirahat.
Lalu kita sampai di sebuah hotel yang aku lupa namanya. Kamu akhirnya merebahkan tubuhmu di tempat tidur karena aku merengek takut sendirian. Lagi - lagi aku menyusahkanmu. Aku yang lelah akhirnya turut menjatuhkan diri di sampingmu.
Kamu pasti tak sadar, kalau aku beberapa kali curi - curi pandang melihatmu tertidur seperti bayi. Wajah polosmu itu, menghantarkan kedamaian yang hangat kedalam hatiku. Begini rasanya tidur di sebelah sahabat sepertimu.
Kemudian ketika mentari menyapa, kita membunuh waktu dengan saling bercerita, kemudian tertawa bersama, kamu banyak menasehatiku, mengomeliku dan membantuku membuka pikiran sempitku. Tidak ada hal buruk terjadi, karena kita saling menjaga kepercayaan masing - masing.
Kemudian ketika sang raja siang mulai terik, dengan vespamu, mengantarku kerumah mantanku. Hanya sampai di situ, lalu aku tidak sempat mengucapkan terima kasih padamu secara langsung. Dengan surat ini ingin ku sampaikan segalanya.
Tong,
Maaf aku sudah banyak merepotkanmu. Maaf aku mungkin tidak bisa membalas kebaikanmu. Maaf aku tidak sempat mengucapkan terima kasih. Maaf sudah membuatmu terlibat dalam semua kekonyolanku.
Terima kasih sudah membantu memperbaiki hubunganku saat itu, meskipun sekarang malah berakhir tragis. Terima kasih sudah membawaku berkeliling meskipun sebentar. Terima kasih untuk banyak hal yang kau lakukan tanpa pamrih.
Tong,
Satu yang ku tau sekarang, orang cuek dan tertutup sepertimu mampu meninggalkan kesan berharga di hatiku. Tiket keretannya memang mahal, tapi bagiku itu sepadan dengan pertemuan pertama dan singkat kita.
Tong, terima kasih untuk pertemanan yang jauh lebih langgeng dari pada kisah cintaku.
Tong, Jika nanti ada orang yang menjelekkanmu, aku adalah orang yang akan berdiri paling depan untuk membelamu.
Terima kasih, salam hangat untuk vespamu, dan berbahagialah.
Dari Aku,
Gadis berpashmina leopard.
Komentar
Posting Komentar