Surat Untuk Raja
Selamat Siang Yang Mulia,
Tolong jangan kirimkan pasukan - pasukan keraguan untuk menghentikan langkah saya. Tekad Sudah bulat. Terhunus pedang sakit hatipun saya siap.
Bagaimana keadaan anda hari ini ?
Saya harap anda selalu baik - baik saja.
Yang Mulia, hari ini saya mulai mencari seseorang untuk menggantikan anda dari singgasana di kepala saya. Tolong, anda jangan lantas murka. Jangan lantas mencambuki saya dengan kerinduan yang membabi buta.
Maafkan saya. Saya lelah bergantung di kaki anda, sedang pandangan anda selalu mengarah ke atas. Apa yang ingin anda raih ? Lintang yang gemintang di atas sana, hanya menggoda anda dengan kelipnya namun sudah pasti tak tergapai. Ataukah mega putih yang menggantung di wajah langit ? yang terlihat bersih namun pendar menjadi butir hujan jika tersentuh ? tidakkah cukup hanya saya yang selalu menaungi kaki anda dari kerikil di setiap jalan yang anda tapaki ?
Mungkin anda belum melihat betapa saya cakap di medan perang. Di adu dengan berlian dan saphire pun saya masih berdiri. Namun sekarang telah usai. Tiada lagi yang ingin saya tunjukkan. Semua sudah habis terabai. Air mata pun telah kering karena berai. Menggenangi kaki - kaki singgasana yang anda duduki.
Tolong jangan kirimkan pasukan - pasukan keraguan untuk menghentikan langkah saya. Tekad Sudah bulat. Terhunus pedang sakit hatipun saya siap.
Teruslah memimpin selama saya mencari. Karena saya sedang mencari yang menuntun bukan memerintah. Nikmati saja dulu tahta anda. Jangan terburu - buru bangkit.
Sekian saja Yang Mulia, saya pamit.
Salam Hormat,
Saya
Komentar
Posting Komentar