Seongsil Saram


Dear I'im,
Ibu Rifan,
Sahabatku,
Kekasihku,

Im, bergetar dua katup kelopak mata ini, seolah hendak menumpahkan harunya. Aku selalu melihatmu begitu, selalu melihatmu sebagai sesuatu yang berharga milikku. Sahabatku.

Sudah berapa lama kita berkawan ? 8 tahun kira - kira. Aku selalu bertanya, dan kau tak bosan menjawab. Aku tak ingat bagaimana kita berkenalan. Yang ku ingat kita duduk di bangku yang sama hingga akhir perjalanan.

Seutas heran menggelitik hatiku. Bagaimana bisa tiada pernah secercahpun amarah kita tumpahkan ? Menilik aku adalah orang yang keras dan temperamen. Bagaimana bisa berada di sampingmu begitu hangat dan menyenangkan ? Bagaimana kau bisa selalu menyokongku sedangkan yang ada di kepalaku tidak selalu masuk akal ?

Ah Im ... Akupun begitu padamu. Entah tertular atau empati.

Kau sedikit berbeda sekarang. Bukan lagi I'im yang duduk di sebelahku dan memainkan handphone dengan hebohnya. Bukan I'im yang berbagi bilah headset lalu menyanyi sekeras - kerasnya bersamaku. Sekarang kau seorang Ibu. Dengan kekonyolan yang tak pernah berubah. Bagaimana kau bisa jadi seorang ibu, lalu menjadikanku tante - tante? Kau kejam ! Usiaku baru 21 tau !

Im ada setitik kekaguman yang menodai hatiku. Kagum yang membuatku menganugerahkan gelar wanita luar biasa kepadamu. Hati yang sepertimu ingin ku miliki. Begitu lapang, teduh, penuh ketulusan. Begitu besar cintamu pada sosok yang belum pernah kau temui. Meskipun sosok itu pernah membuatmu terpinggir dan kesakitan. Sosok yang kau ciptakan dari cintamu yang tulus pada orang yang menyebalkan. Andai ku tau Im siapa dia, sudah pasti aku akan membunuhnya. Mungkin itulah alasan mengapa kau bungkam.


Tak mengapa Im aku lega, cinta yang tulus kepunyaanmu itu sudah bertemu nahkodanya. Pun masih ada aku. Yang selalu mencintaimu dengan tulusku meskipun tak sebanyak punyamu. Masih ada lengan - lenganku yang meskipun cacat satu hehe, Tapi akan tetap nyaman untuk memelukmu.

terima kasih sudah sering membelaku. Melindungiku karena kau selalu tahu, kau lebih kuat dariku. Terima kasih untuk hangat, yang deras mengaliri perjalanan hidup kita. Akan ada gersang yang ku terima jika kau bagi. Akan ada hujan yang ku tadah jika kau tuang. Akan selalu begini. Selalu berdua menghadapi dunia. Meskipun kita sama - sama tahu, ia kejam tanpa ampun.

Terima kasih Im, terima kasih untuk tulus yang ku pelajari. Untuk cinta tanpa tepi yang kau punyai.

Dariku,

Pitty, (the way you call me )
Teman sebangku,
Teman kerja,
Sahabat,
Kekasih,
Tantenya Rifan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

S.O.S !!!

Begini saja, Aku Pamit !!

Menanggung Pertanggung Jawaban