Menyalakan Mentari
"Hai hati" Ku tepuk pelan dadaku sendiri... " Terima kasih untuk apa yang sudah kau lalui dan baik - baik saja" Aku menghela napas panjang. Segitu aja untuk hatiku. Mataku beralih ke sebuah taman ... Taman yang tidak benar benar ku lihat... " Terima kasih sudah mengijinkan ku merawat cintamu hingga subur di hatiku" Waktu adalah mentari, yang membakar setiap jengkal perasaanmu hingga kering lalu mati. Anggap saja takdir sudah meledak irinya karena kita terlalu lalai. " Terima kasih sudah mengijinkan ku mengenang kekosongan... " Akarmu sudah tercabut habis dari tamanku... Jikalau kau tidak bisa bertahan... Tumbuh sudah belukar belukar kasar Yang kuat Yang erat Yang rapat... " Apakabar hatiku ?" Tepuk saja... Rasakan belukar di dalamnya Seperti itu ia tumbuh, liar tak terkalahkan... Bahkan akar - akar bunga mataharimu yang cantik itu, Yang kalah dengan mentari itu Tak punya ruang untuk berkembang Belukarnya terus tu...