Tangan Pemilik 'Renjana'
Dear Nisa,
Hai Princess !
Salam
Hai Princess !
Mungkin kau sudah menduga, surat hari ini kulayangkan untukmu. Atau belum ya ?
Baiklah ku beritahu, aku merencanakannya sudah cukup lama, sejak 'Renjana'mu bermain - main di ruang kepalaku. Setiap kalimatnya seolah ingin dipahami maksudnya. Kau tau, aku suka sekali surat yang tidak kumengerti, sehingga membutuhkan waktu lama untukku tenggelam dalam maknanya.
Kau bilang surat itu maknanya gelap. Aku merasakannya meski tak paham gelap seperti apa yang ingin kau lukiskan. Itu pun yang jadi alasan aku menyukainya. Aku sedang dalam kegelapan yang pekat saat ini. Yaa ampun, aku curhat.
" Merapal namamu berpuluh juta kalipun sekat sekat. Februari kelabu, tak
lagi merah jambu sebab kaktus terlanjur tumbuh didadaku, kupupuk dengan
nanah yang kian membiru."
Aku sedang merasakannya Nisa, setiap kata yang kau tatahkan, meresap masuk mengaliri setiap relung. Hanyut bersama darah yang mengalir dalam pembuluh menuju otak. Kalimat itu seperti teruntai menjadi seutas tali, lalu menjeratku. Aku sesak...
" Lalu kudatangkan Tuhan menghirup milo, Ia menggerutu 'sebegitu satirkah
hidupmu, sayang?' dan berlalu, membuatku menimang - nimang sepi juga
tanya."
Kemudian kalimat itu yang meremukkan belikat kuat - kuat. Menghancurkan setiap inchi harapan yang memang mulanya sudah kering. Aku mati. Ah... tidak, egoku yang mati. Aku menangis. Lihat ini ??
'Renjana'mu yang ingin ku wujudkan lalu ku kirimkan pada seseorang. Namun seseorang itu tak pantas menerimanya. Karena tahu aku ada pun tidak. Surat ini cantik Nisa. Seperti ganja yang meminta di bakar lalu di hirup lagi dan lagi. Mencanduiku Nis, aku membacanya berulang. Lalu menangis hingga puas. Terima kasih telah menciptanya. Tanganmu yang berharga itu menyayat hatiku lalu menumpahkan isinya melalui suratmu. Mungkin aku kegeeran.
Nisa, yang baru - baru ini sedang pilu, aku berharap kau segera menemukan monster yang kau cari. Aku juga akan mencari monsterku sendiri. Karena kita ini sama - sama monster, bisakah kita berteman lebih dekat lalu lekat ? Tak perduli berapa laut yang perlu di lintasi. Jujur saja aku kebosanan karena sepi.
Demikian Nisa, ku torehkan kekagumanku,
Salam
Vina
Komentar
Posting Komentar