Hangsang Sarang

2045 i-wol 20
Gangnam, Seoul
Korea

Ramalan cuaca hari ini :

" Salju terus turun dalam intensitas rendah menjelang berakhirnya musim dingin di bulan ini "

Hai Pak Tua,

Apa kabar ? Bagaimana usia senjamu ? Apakah menyenangkan ? Apakah kau sedang duduk di atas kursi goyang sembari menyesap cerutu yang kau linting sendiri ? Siapa wanita beruntung yang dapat melihat senyummu setiap pagi ? Ahh aku ini banyak bertanya sepertinya. Tapi tak mengapa lah, sesekali aku ingin mencerewetimu seperti dulu.

Bagaimana kabar negriku ? Problematika pelik apa yang sedang mereka hadapi ? Sepelik cinta dalam hatiku yang nyatanya belum sirnakah ? Mungkin kau lupa padaku pak tua, aku yakin kau mulai pikun. Setelah membaca suratku ini, ku pikir kau sedang mengerutkan keningmu dan menegakkan dudukmu untuk berusaha mengingat siapa orang di balik surat ini. Tak perlu seberusaha itu, nanti di akhir surat akan ku terakan namaku sejelas - jelasnya yang mungkin akan mengingatkanmu pada seseorang.

Aku disini pak tua, di tempat jauh, yang tak bisa kaki - kaki peotmu itu capai. Berapa cucumu ? Aku akan sangat iri jika mendengar kau bahagia dengan keluargamu. 29 tahun yang lalu, aku meninggalkanmu, meninggalkan negeriku bersama rasa sakit dan kecewa karena menanti sebuah jawaban yang tak kunjung kau berikan. Pun petunjuk. Segumpal darah dalam diriku telah habis sabarnya.

Mungkin kali itu kau anggap ini adalah sebuah candaan anak - anak muda. Bagaimana tidak, tak sedetikpun nafas kita berada dalam satu atmosfer tapi aku sudah seyakin itu mencintaimu. Tapi apakah sekarang kau pikir ini main - main ? Jika pemikiranmu terbuka saat ini, kau terlambat. Usia kita sudah larut. Dan aku sudah berkeluarga. Bahagia dengan tiga anak dan sembilan cucu. Tapi tak sebahagia jika aku bersamamu. Ku habiskan hidup, di negeri ini. Negeri impian, dan suami idaman yang malah sudah mendahuluiku. Aku kesepian, kemudian mengingatmu.

Kau sudah baca ramalan cuaca di negeriku kan pak tua ? Disini dingin sekali. Anganku menguap di udara. Andai aku bersamamu, takkan ku tinggalkan negeri itu. Menikmati petang dengan dua cangkir teh hangat, di teras belakang rumah. Aku menjahit, dan kau menghisap cerutu sembari memandangi ladang yang kau tunggu masa panennya. Hanya dengan membayangkannya saja tubuhku menjadi hangat. Oh tidak ! Aku lupa ! Aku menulis surat ini di depan perapian. Tentu saja hangat.

Lalu aku berbicara takdir. Kau di sana dan aku disini, adalah takdir yang memainkan alur.

Pak tua, semoga kau sehat dan masih hidup. Maklumi tubuhmu yang sering masuk angin dan sakit - sakitan. Jangan bekerja terlalu rajin. Ini adalah waktumu menuai apa yang kau tanam ketika muda. Angin berhembus dingin sekali pak tua, sesekali ku betulkan mantel dan memandangi kulit keriput di baliknya.

Aku baru sadar, akulah yang terlambat. Terlambat menjelaskan padamu bahwa perasaan ini ada. Ya sudahlah apa boleh buat. Jika kehidupan tak bisa menyatukan kita, maka kematian yang akan melakukannya.


Sudah ya pak tua, tanganku yang renta mulai gemetar karena kelelahan.

Salam,

Fretilia DNS
(Mengingatku ?)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

S.O.S !!!

Begini saja, Aku Pamit !!

Menanggung Pertanggung Jawaban