Not Always There ( Part 3 )
Senyum bibir merah Sarah melebar. Ia tampak mengerikan seperti seorang nenek sihir yang menyeringai. Ia masih punya satu lagi kejutan untuk El. Dengan kerepotan, Sarah mengaduk - aduk tas tangannya. Kemudian wajahnya seperti mendapatkan jackpot ketika menemukan benda yang ia cari. Iya segera menyodorkan benda itu pada El. Senyumnya kali ini lebih mengerikan. Senyum kepuasan. El terbelalak. Apa yang ia lihat membuatnya sangat shock. Sebuah alat test kehamilan dengan dua garis merah di atasnya. El merutuki Ji dalam hati. El tak menyangka bahwa lelaki pintar seperti Ji bisa jadi sangat pengecut. Untuk meminta perceraian saja, Sarah yang melakukannya. Hati El perih. Tubuhnya menjadi dingin dan wajahnya memucat. Ia kecewa.
Sarah menjadi - jadi. Ia terkekeh seperti orang gila. Ia lantas bangkit, membetulkan mantel kemudian melangkah pergi menuju mobilnya. Meninggalkan El yang terbengong begitu saja. Tubuh El kaku di teras rumahnya. Keringat dingin bercucuran bersama air matanya. Ini sudah berakhir. Penantian El sudah berakhir. El sekuat tenaga menggerakkan tubuhnya. Tapi terasa lemas. Ia sadar ia belum makan sejak tadi malam. Tubuhnya ambruk. El tetap terdiam namun air matanya terus mengalir.
El menggapai kaki meja, berharap mendapat bantuan untuk bangkit. Tapi meja seolah ikut merasakan apa yang El rasakan. Meja itu ikut limbung menimpa El. Cangkir - cangkir kopi dan piring sarapan jatuh menghujam tubuh El. Di pagi yang dingin ini tubuh El terguyur kopi hangat. El pingsan.
Sayup - sayup terdengar suara sendok yang bersentuhan dengan keramik. Siapa itu? Apakah Ji ? Tidak mungkin. Ji baru saja mengajukan perceraian melalui sarah tadi pagi. Kepala El sakit. Tubuhnya dingin. Rupanya bekas kopi masih sedikit basah di bajunya. El segera mengganti baju dan mengikat rambutnya. Dengan meraba - raba ia berjalan menuju dapur untuk melihat siapa yang ada di sana. El tak menyadari seseorang sudah memindahkan tubuhnya dari teras ke kamar.
Komentar
Posting Komentar