Not Always There ( Part 2 )
Saat itu masih pagi sekali. Kabut belum memudar dan embun terus menetes. El sudah bangun dan duduk di depan pintu. Ia sudah bersama secangkir kopi dan sarapan untuk dirinya dan Ji. El semakin cemas, ini hari ketiga Ji tidak pulang kerumah. Dengan sabarnya El menunggu seperti biasa. Di pangkuannya sudah terdapat peralatan kristik. Gulungan - gulungan benang dan selembar kain itu yang menemani El ketika sedang menunggu Ji. El tidak buru - buru sarapan. Perutnya terasa kenyang oleh kecemasan.
Dari kejauhan terdengar deru mobil memecah keheningan pagi. Hati El berdegup tak beraturan. Tubuhnya seketika berdiri. Matanya memicing kearah lampu mobil yang bersinar. Gulungan - gulungan benang itu jatuh dari pangkuan El. Kakinya lemas, hatinya seperti terbakar. Seolah - olah cangkir - cangkir kopi tumpah ke hatinya. El terkesiap. Yang turun dari mobil bukan Ji. Seorang wanita,dengan sepatu stilletto merah dan gaun anggun setinggi lutut.
Wanita itu langsung duduk di hadapan El. Mengeluarkan selembar surat untuknya. Dan tanpa ragu - ragu meminum kopi hangat yang El sediakan untuk Ji. El membaca surat itu. Hatinya remuk tak bersisa. Dan yang di hadapannya adalah Sarah. Jemari tangan Sarah yang lentik di ketuk - ketukkan ke meja seolah tidak sabar menunggu jawaban dari El.
El kepayahan. Namun tangannya yang gemetar itu ia paksa untuk meraih surat yang di berikan oleh Sarah. Setelah El cukup memahami, hatinya membulat. Dengan gemetar yang semakin dahsyat, El sepakat membubuhkan tanda tangan pada surat itu. Dengan begitu, El telah menyetujui perceraiannya dengan Ji.
Komentar
Posting Komentar