MENIKMATI KESURAMAN TAK BERUJUNG
Sampai detik ini, aku belum paham dengan jalan pikiranku. Bagaimana bisa aku sesantai ini sedangkan kebutuhan dan keinginan seolah berlarian mengejarku. Tidakkah aku punya harapan ? Harapan ? Pikiranku bias lalu berpendar kemudian lenyap ketika mengingat kata itu. Ku coba menghimpun kembali cita yang dulu terbersit. Nyeri, hati ini bagai tergurat dan berdenyut. Seolah mustahil aku memilikinya. Masih ku nikmati kesuraman yang abu - abu ujungnya. Masih mampu aku menggaris senyum. Dengan seolah aku tidak apa-apa. Aku memang tidak apa - apa, hanya tangan kananku yang cacat. Bukan masalah besar kata mereka. Memang bukan, karena mereka bukan aku. Kepalaku masih pening jika kupaksa berfikir akan jadi apa aku selepas ini. Tapi kesuramanku yang nikmat selalu mengaburkanya. Malas terapi, malas berobat, malas beranjak dari tempat tidur malas melakukan perubahan dan usaha, serta berjuta malas lain yang begitu nikmat rasanya. Suram yang makin pekat dikukuhkan oleh kata - kata aku caca...