Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2015

12 November yang ke 22

Selamat mengulang masa untuk yang ke 22 kalinya, diriku. Gerbang kedewasaan dan labirinnya yang rumit menantimu. Berhentilah mengeluh, merengek, dan terus - terusan meracau bahwa dirimu masih anak - anak. meskipun kau masih suka boneka, balon, kembang gula, pita, dan benda - benda bercahaya, ingatlah bahwa usiamu tak lagi satu angka. meskipun kau masih manja, berusahalah buat orang - orang di sekitarmu bahagia. Mulailah menghitung mundur !!! Sisa nafas yang masih bisa kau hirup, Sisa bahagia yang masih bisa kau nikmati, Sisa cinta yang masih bisa kau himpun. Sejatinya bertambahnya usia adalah cara Tuhan mengurangi masa hidupmu di dunia. Menangis saja jika kau ingin, tertawa saja jika kau mau, buatlah bahagiamu sendiri. Jangan pemalu lagi. mukamu sudah cukup merah muda. Berterimakasihlah pada siapa saja yang menoreh cerita sepanjang ini. Aku menyayangimu, Diriku.

Aku Rindu Dia

Gambar
Kira - Kira Hari Sebelas, Bulan terakhir musim semi Aku rindu dia, Rindu tuan itu. Yang duduk di hadapanku sembari sesekali menyesap segelas kopi dingin. Yang bilang jariku gendut. Tapi memainkannya. Lalu mengambil foto diam - diam. Tuan yang itu. Yang di sudut ruangan kedai kopi. Malam selasa. Tanggal sebelas kira - kira. Yang bilang, dia kira aku tidak segendut ini. Tapi memintaku jadi pacarnya. Tuan yang hari pertama jadian, Bilang perutku bertingkat kaya kontrakan. Tapi juga bilang rindunya tak bisa ditunda. Mungkin waktu itu dia sepi. Lukanya minta di obati. Tuan yang itu sudah ramai. Lukanya sembuh. Larinya kencang. Tidak menoleh. Hanya memanggil. Berbeda. Dulu menghampiri. Aku diam. Bingung. Kesal. Tapi cinta. Tapi rindu. Semua perkara waktu. Bisa saja satu tambah satu jadi tujuh. Dua tambah dua jadi seribu. Atau nol ? Seperti sepiku. Kosong, Berlubang, ...

Tepuk

Tangan kanan melambai minta di tepuk. Tangan kiri diam saja. Tepuk... Tepuk... Tepuk... Wussh. Wussh. Wussh. Angin yang menjawab. Tangan kanan iri. Tubuh lain bisa bertepuk... Gandengan... Menggenggam... Lalu mengapa ? Tidak bising. Hening... Tepuk... Wussh... Tepuk... Wussh... Tepuk... Wussh...