Not Always There ( Part 4 )

El mencium aroma bubur yang hangat dan sedap. Dengan tertatih ia terus berjalan. Sesampainya di pintu dapur, El tiba - tiba berhenti. Ia sangat terkejut karena yang sedang berada di dapur bukan lah Ji. Melainkan Rob. Mantan kekasihnya yang ia putuskan sebelum pernikahan. Rob menyadari kedatangan El. Ia mendekati tubuh El lalu merengkuh pundaknya. Ia mengajak El duduk. Kemudian Rob menyiapkan makan malam untuk El. Mereka duduk berhadapan seperti sebelum berpisah.

El mencoba menyuap sesendok bubur kedalam mulutnya. Kemudian tangannya terhenti. Sendoknya terjatuh. Berdentum keras menimpa meja, bersamaan dengan jatuhnya air mata El. Tubuhnya melemas, ia menelungkupkan tubuhnya di atas meja. Ada perasaan sesak yang masuk kedalam hatinya. Sesal pun turut ambil bagian. Harusnya ia tidak meninggalkan Rob untuk Ji. Untuk uang - uang yang ayahnya inginkan. Harusnya ia tegas pada dirinya sendiri.

Rob bangkit dan memeluk tubuh El yang lemah. Rob bercerita pada El bahwa ia datang kemari untuk memberikan sebuah hadiah ulang tahun. Tapi ia malah mendapati El tergeletak di lantai bersama piring dan cangkir kopi yang pecah berserakan. Benar, hari ini adalah ulang tahun El. Ia sendiri tak menyadarinya karena terlalu sibuk memikirkan Ji. El kembali terisak di dalam pelukan Rob. Ia malu kepada Rob.

hari - hari El berlangsung seperti ini, bangun, bersiap, pergi ke gereja, berdoa untuk kebahagiaan Ji dan dirinya sendiri, membeli kue, bertemu dengan Rob di taman, pulang, menjahit lalu tidur. Begitu setiap harinya. El sudah memaafkan Ji meskipun Ji lah satu - satunya orang yang membuatnya menjadi sebodoh ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

S.O.S !!!

Begini saja, Aku Pamit !!

Menanggung Pertanggung Jawaban