Tanpa Penyesalan



Aku berdiri di hadapanmu.
Dengan tubuh yang basah kuyup, namun bukan karena hujan.

Air mataku sendiri yang membasahinya. 

Aku memang pelupa,
Meski ku tahu seberapa dalam luka yang kau toreh,
Masih saja ada doa yang tersisip untuk kembalimu.

Kenyataannya aku ini pemaaf serta perindu.
Nurani kecil yang menyala dalam diriku, mengiyakan maafmu.

Ku tau ia sedang rindu,
Dibuai oleh dusta yang nista dari ujung lidahmu.

Tapi kemudian nurani sadar, bersamamu bahagiaku semu, senyumku palsu, cintaku kelabu.

Lalu aku kembali pada hidupku, dengan sebuah lambaian tangan dari balik punggungku.

Tanpa terucap perpisahan, tanpa penyesalan. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

S.O.S !!!

Begini saja, Aku Pamit !!

Menanggung Pertanggung Jawaban