Unsend Letter
Tuan, Selamat pagi,
Aku senang dengan caraku menyapamu hari ini. Kau terdengar lebih tampan. Kau memang tampan tuan, setidaknya begitu menurutku dan ibumu. Hahaha...
Negeri mana yang sedang kau kunjungi ? Selepas kepergianmu, aku sering pergi ke kota. Mengamati untaian gerbong kereta. Barangkali kau ada di salah satunya. Aku sadar aku bodoh tuan, mungkin juga aku sudah gila. Aku tahu tak akan ku temukan kau disana. Tak dimanapun. Aku juga tahu, pergimu tidak dengan kereta. Tapi bukankah berharap itu tidak melanggar hukum ?
Aku tahu tuan, surat ini tak akan sampai pada alamat manapun. Kertas ini tak kan pernah berlabuh di jemarimu. Tak akan pula ku lihat, sepasang bibirmu yang komat kamit membaca kalimatku. Tapi setidaknya, ketika aku membacanya keras - keras, kau akan mendengarnya. Maafkan suaraku yang parau dan terkadang tak terdengar. Karena, pasti aku membacanya dengan sesenggukan.
Bagaimana wajah Tuhan ? Kau bertemu dengannya ? Dia yang setiap waktunya tiba, mendengar ceritaku tentangmu. Aku tau Dia baik menjagamu. Tuan, apakah Dia mengatakan padamu tentang perasaanku ? Ini sungguh tak adil. Kau tau perasaanku, tapi aku tak tau perasaanmu. Tapi tak masalah, perasaan ini tercipta bersama segenggam ketulusan. Hingga ia lapang tanpa jawaban.
Kau sungguh pergi tuan, tanpa mau menungguku mengutarakan langsung padamu. Sudahlah tuan, suatu saat aku akan bertemu denganmu. Sekian saja tuan, surat ini akan ku titipkan pada bumi, diatas pusara tempat kau terlelap. Kita hanya terhalang tanah setebal dua meter, tapi kau terasa begitu jauh.
Selamat tinggal tuan...
Tidurlah bersama kenanganku tentangmu.
Aku senang dengan caraku menyapamu hari ini. Kau terdengar lebih tampan. Kau memang tampan tuan, setidaknya begitu menurutku dan ibumu. Hahaha...
Negeri mana yang sedang kau kunjungi ? Selepas kepergianmu, aku sering pergi ke kota. Mengamati untaian gerbong kereta. Barangkali kau ada di salah satunya. Aku sadar aku bodoh tuan, mungkin juga aku sudah gila. Aku tahu tak akan ku temukan kau disana. Tak dimanapun. Aku juga tahu, pergimu tidak dengan kereta. Tapi bukankah berharap itu tidak melanggar hukum ?
Aku tahu tuan, surat ini tak akan sampai pada alamat manapun. Kertas ini tak kan pernah berlabuh di jemarimu. Tak akan pula ku lihat, sepasang bibirmu yang komat kamit membaca kalimatku. Tapi setidaknya, ketika aku membacanya keras - keras, kau akan mendengarnya. Maafkan suaraku yang parau dan terkadang tak terdengar. Karena, pasti aku membacanya dengan sesenggukan.
Bagaimana wajah Tuhan ? Kau bertemu dengannya ? Dia yang setiap waktunya tiba, mendengar ceritaku tentangmu. Aku tau Dia baik menjagamu. Tuan, apakah Dia mengatakan padamu tentang perasaanku ? Ini sungguh tak adil. Kau tau perasaanku, tapi aku tak tau perasaanmu. Tapi tak masalah, perasaan ini tercipta bersama segenggam ketulusan. Hingga ia lapang tanpa jawaban.
Kau sungguh pergi tuan, tanpa mau menungguku mengutarakan langsung padamu. Sudahlah tuan, suatu saat aku akan bertemu denganmu. Sekian saja tuan, surat ini akan ku titipkan pada bumi, diatas pusara tempat kau terlelap. Kita hanya terhalang tanah setebal dua meter, tapi kau terasa begitu jauh.
Selamat tinggal tuan...
Tidurlah bersama kenanganku tentangmu.
Komentar
Posting Komentar