Gadis Di Bawah Payung
Sulur hujan terburai menyapu tanah, menguapkan pertrichor. Dihirup aromanya lekat - lekat, damai tiada kira. Di bawah payung ini, seorang gadis menantang hujan, mengadu langkah - langkah telanjangnya pada bumi. Menikmati butiran air yang jatuh mencumbui kedua telapak kakinya. Dingin menusuki lapisan kulit. Tapi hanya dengan ini dirasa dapat melarutkan harapan. Harapan yang mati dalam sebuah perjalanan mengejarmu.
Tiada kata terlalu, yang pantas bersanding dengan ungkapan cinta, bila itu kau pemiliknya. Di bawah payung ini seorang gadis sedang melebur pedihnya. Pedih karena terluka dalam perang untuk memenangkan hatimu. Masih hanyut dalam aroma petrichor, sekarang ia merasa hujan sedang memanggilnya, membisikkan namanya, menggelitik telinganya. Di ulurkan telapaknya keluar payung. Meraba butiran hujan yang belum sempat mencium tanah. Dingin.....
Dingin lalu menggema menjadi sejuk, merayapi ruang - ruang sesak di dalam hatinya. Ia menurunkan payungnya. Sekarang hujan dapat mencumbuinya, menyentuh kulitnya, dan meresapi hatinya. Ia hanya berdiri, tanpa geming. Bungkam, tanpa kata. Menikmati bercinta dengan hujan. Seolah kesakitan luruh mengalir kebawah bersama tiap butir air yang jatuh dari tubuhnya.
Ada yang hangat, nyala api dalam ruang kecil di dadanya. Menyalakan kembali cinta - cintanya untukmu. Air matanya tenggelam oleh hujan. Gadis di bawah payung itu menjadi sepengecut ini menghadapimu. Membiarkan perasaannya berderai dalam tangis. Membiarkan tangis tersamarkan hujan. Membiarkan hujan merenggut rindunya dan menjadikanya berpendar di udara, menyublim di lapisan langit lalu lenyap. Rindu itu untukmu darinya. Yang kini melayang diantara atmosfer yang menaungimu. Memejamlah kemudian rasakan, hadirnya, hadirku.....

Komentar
Posting Komentar