Paranada Tanpa Not
Malam ini berbeda. Aku tak sedang berdiam di atas kasur sembari bergumul dengan selimut. Malam ini kalian akan mendapatiku berkaos bola merah jeans abu, berhigh heels dan berlipstick merah. Aku mau kencan kau tahu ? Tapi bukan dengan pria. Haha. Kali ini dengan Ibu - ibu satu anak.
Setelah kenyang dengan seporsi tenderloin steak dan cappucino float kami memutuskan untuk berkeliling kota Semarang. Semarang berubah, dari setelah ku putuskan tidak akan meninggalkan kamarku tanpa kepentingan. Aku kagum sekaligus terkejut. Selama ini aku hanya berimajinasi di bantu dengan cerita orang - orang. Sepeda motor kami berhenti di parkiran Lawang Sewu. Kami berencana duduk di Tugu Muda sembari mengobrol.
Di tengah pusat pemerintahan kota Semarang, aku duduk di hamparan rumput taman Tugu Muda yang membentang bak karpet hijau yang luas. Ku lihat temanku sibuk mengejar anaknya yang berlarian. Entah mengapa perasaan ini sunyi. Kosong. Sepi. Hanya ku dengar detak jantungku yang terus berdetak seperti metronom. Sesekali ku pandangi langit Semarang yang mendung. Kemudian ku tenggelamkan hatiku dalam kesenyapan yang pekat.
Ku lihat temanku kelelahan. Ku ajak dia dan anaknya mengunjungi komunitas pecinta reptil yang di ikuti adikku. Barang kali anaknya bisa tenang. Ku antar mereka dari kejauhan. Aku takut ular jujur saja. Lelah menggelayut. Ku putuskan duduk agak jauh dari mereka. Sendirian. Kemudian datang seorang pemulung kecil, duduk di seberang tempatku. Ia sedang makan.
Tiba - tiba hatiku terasa sesak. Ku lihat dia sendirian di antara lalu lalang ratusan manusia. Sendirian sepertiku. Mungkin hati kami sama senyapnya. Sama sunyinya di tengah hingar bingar pusat kota. Bak paranada kosong yang tak di gantungi not. Hanya detak metronom di dada kami masing - masing yang terdengar. Ku amati lagi. Lebih dalam ku resapi. Sialan ! Anak itu tak benar - benar sendiri. Ia duduk bersama harapannya. Iya ! Harapannya ada di karung itu. Sedang aku ? Harapanku telah terbang jauh meninggalkan ragaku yang duduk di sini. Aku kosong.... Aku paranada yang kosong. Tak ada not yang ingin ku gantungkan. Tak ada lagu yang ingin ku cipta untuk di perdengarkan pada dunia. Hidupku tak ubahnya seperti garis - garis tipis yang sejajar. Begitu monoton.
Kelamaan ragaku melemah. Jiwaku lelah. Hatiku sepi. Aku hanyut dalam kekosongan....
Sekembaliku, aku berakhir di pojok kasur, bergulat dalam selimut. Seperti biasa.
Komentar
Posting Komentar