Empat Perempuan ( Ketika Jodoh Tidak Kemana )

Maha Suci Allah yang telah mencipta semesta beserta isinya dan aku. Namaku Thaufiq Ridwan Khadaffi. Jika teman - teman sekampus memanggilku Awan berbeda dengan murid - murid sekolah menengah atas tempatku praktik mengajar memanggilku Pak Ridwan. Lalu adik kandungku Khumaira dan adik angkatku Hillal dan Zahra memanggilku Bang Iwan. Siapapun aku dimata mereka namun aku tetap Ridwan di mata Allah  Segala puji syukurku rasanya belum cukup melukiskan kenikmatan yang aku dapat dari-Nya sepanjang usiaku ini. Aku hidup di keluarga yang sangat berkecukupan. Mama dan Papa adalah pengusaha sukses. Mereka berdua membesarkan dua buah perusahaan raksasa yang berbeda. Papa memiliki perusahaan Retail sedangkan Mama pemilik beberapa franchise restoran cepat saji. Hari mereka sangat padat, sehingga rasanya aku tidak pernah mencium tangan mereka untuk sekedar meminta izin menimba ilmu di universitas. Tapi aku tidak pernah mengeluhkan hal ini, aku yakin semua ini demi aku dan Uma adikku. Aku besar di asuh oleh pengasuhku, Marini dan Firdaus, begitu juga dengan Uma. Kemudian kami terbiasa memanggilnya Emak dan Abah bukan mamang atau simbok selayaknya pengasuh. Emak dan Abah memperlakukan kami seperti anak mereka meskipun mereka juga mempunyai anak kandung. Ia lah yang ku sebut Zahra dan Hillal. Usia Rarah -panggilanku untuk Zahra- hanya terpaut 2 tahun denganku yang menjadikan aku begitu akrab dengannya. Kami pun merupakan teman satu universitas sehingga tiada lagi kegaguan di antara kami berdua. Sedangkan Hillal masih duduk di bangku SMP kelas 2. Dan adik kandungku Siti Khumaira Nazzulah menduduki bangku kelas 2 Madrasah Aliyah. Kemudian ada Eyang Putri di rumah kami, ibu dari papaku beliau lah yang menyandangkan namaku dan uma ketika kedua org tua kami tak dapat lagi memikirkan nama untuk kami.

" bang Iwan, nanti kalau mau jemput Uma jam 3 an aja ya bang ?" terdengar suara Uma dari dalam kamar, mungkin ia melihatku melintasi kamarnya. aku hanya mengangguk. Aku berlalu menuruni tangga lantai 2 rumah kami. Berjalan menuju halaman belakang rumahku. Disana lah keluarga Emak dan Abah tinggal. Papa membangunkan 4 petak kamar untuk mereka. Emak dan Abah, adalah orang yang menolong Papa yang kecelakaan sebelum aku lahir, emak dan abah sendiri adalah tunawisma. Ah... aku tidak ingin mengungkitnya. Tidak ada yang ingin mengungkitnya. Aku menuju kamar yang paling ujung ku ketuk pintunya lalu mengucapkan salam. terdengar jawaban dari dalamnya. Keluarlah seorang gadis berjilbab putih yang anggun dan cantik. Dialah Siti Fatimatus Zahra. Gadis itu pun menyandang nama yg dberikan Eyang Putri.

" wa'alaikum salam bang Iwan... pagi" senyumnya terukir lembut.

" bawa jas hujan ya Rah ? kayaknya mendung"

" Iya Bang" 

Kamipun berangkat berdua menggunakan motorku. Kami sedang praktik mengajar di sekolah yang sama. 

***
" Pagi Pak Ridwan ..." sapa beberapa siswi yang berlalu di depanku. Akupun menjawabnya.

Aku sebenarnya malas mengajar di sekolah ini. Muridnya terkenal genit dan bandel. Hanya saja aku menuruti perintah papa karena putri rekan bisnisnya bersekolah di sini. Namanya Marsheila Ayurischa, atau Sheila. Ternyata Sheila adalah murid ter badung di sekolah ini.

Pagi ini aku menyibukkan diri di perpustakaan sekolah, karena aku baru mulai mengajar di jam pelajaran terakhir. Aku membaca buku - buku materi mengajar siang nanti. Diseberang meja, seorang siswi berjilbab duduk dan sibuk menikmati bukunya. Akidah Akhlak ... judul buku yang sedang dibacanya. Aku sering melihatnya membaca buku di perpustakaan sendirian. Entah mengapa hari ini hatiku tergelitik untuk memperhatikannya. Aku tidak sadar berapa lama aku memandangnya, yang jelas gadis itu merasa tidak nyaman, ia menaikkan bukunya tinggi2. Aku jadi tidak enak hati. Aku beranjak dari tempatku dan mendekatinya. Aku ingin meminta maaf atas ketidaknyamanan yang kubuat.

" Assalamu'alaikum" sapaku. Gadis itu menurunkan bukunya dan menoleh ke arahku. Subhanallah, wajahnya sungguh cantik dan teduh, sebuah maha karya Allah SWT nampak di hadapanku, tatapannya sungguh membuat hatiku bergetar hebat sesaat kemudian hatiku meleleh dan akupun mendadak gugup berhadapan dengan gadis berwajah teduh berjilbab itu. 

" Wa'alaikum salam" jawabnya, suaranya lembut dan hangat.

" Sering keperpustakaan ya ?" 

" iya, Pak" 

" Jangan panggil pak ya ? " Aku mengulurkan tangan, mengajaknya bersalaman " Panggil saja Mas Iwan sepertinya usiaku belum berselisih banyak denganmu" dia tak menjabat tanganku, hanya saja dia mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada.

" Nama saya Khairranaa Fitriyah. Panggil saja Ranaa pak, eh, Mas Iwan" gadis itu tak sedikitpun mendongakkan wajahnya untuk memandangku. Hatiku makin bergetar.

" Kelas berapa ? "

" 3 IPS 2 Mas"

Pembicaraan kami berlangsung singkat karena Ranaa harus kemasjid mengurusi organisasinya ROHIS. Yaa Allah, sepertinya aku jatuh cinta padanya. Hingga Usai jam sekolah pun aku masih memikirkan Ranaa. Wajah dan suaranya yang begitu indah membuatku terus melamunkannya. 

" Wan ! " seseorang mengagetkanku dari belakang, serasa jantungku mau copot.

" Masyaallah, David ! " 

" Ya Allah Wan, siang - siang ngelamun aje ente... balik yuk, sekolah udah bubar ente masih disini aje... dikunci satpam loh" 

***
Selepas menjemput Uma, aku bergegas masuk kedalam kamarku. Setelah bersih - bersih aku menjatuhkan tubuhku di atas tempat tidur. Pikiranku kembali berkelana ke perpustakaan sekolah siang tadi. Masih melekat jelas dalam ingatan, kecantikan Ranaa yang menyejukkan. Tiba - tiba hati ini di gelayuti rasa haus dan rindu untuk berjumpa dengannya. Khairranaa Fitriyah ... indah sekali  nama itu. Aku tenggelam dalam lamunanku. 

" Assalamu'alaikum Bang Iwan, Bang" terdengar ketukan dan suara Uma dari luar kamar, yang seketika memecahkan lamunanku tentang Ranaa. Aku bergegas membukakan pintu untuk adikku.

" Bang, inget ngga yang waktu Uma cerita soal temen Uma yang kesusahan belajar matematika, dia di bawah bang... bantuin ya ?" adikku merengek - rengek begitu aku membukakannya pintu.

" Iya, tapi bang Iwan mandi lalu sholat dulu ya ? tunggu di bawah" 

" Siap Bos, Syukron Bang Iwan ganteng" Ucap Uma, tangannya menempel di dahi seolah memberi hormat. Sedetik kemudian ia menghambur berlarian menuruni tangga.

***

" Siapa nama temanmu ini Uma?" tanyaku sembari memandangi seorang gadis berjilbab putih berseragam SMU.

" Oh ... ini bang Namanya Fatiha Taufika ... Ini abang gue Tih, panggil aja bang Iwan " Uma membuka pembicaran, Fatih hanya tersenyum simpul. Manis sekali. Tapi wajahnya tidak secantik bidadari surgaku Ranaa.

Kami memulai membahas mata pelajaran sore itu. Fatih terus menatapku entah karena memperhatikanku mengajar, entah karena alasan lain. Sayub - sayub terdengar deru sepeda motor di luar pagar. Dari kejauhan tampak sosok Rarah turun dari sepeda motor. Laki-laki yang memboncengnya berlalu. Rarah Masuk.

" Assalamu'alaikum" salamnya. Kami yang berada di ruangan itu kompak menjawab. Ada yang berbeda dengan Rarah hari ini, airmukanya, sorot matanya, senyum malu yang tak dapat ia sembunyikan dan rona merah muda di kedua pipinya. Aku belum pernah melihat aura Rarah terpancar sedemikian jelas. 

Aku kembali melanjutkan mengajar Uma dan Fatih. Satu jam kemudian kami selesai. Fatih pamit pulang. Aura yang sama muncul dari diri Fatih ketika menyalamiku. Entah apa, aku masih belum mengerti.

***

Pagi itu seperti biasa ku ketuk pintu kamar petak paling ujung di halaman belakang rumahku. Ada yang berbeda pagi ini, sudah 3 kali ku ucapkan salam, si empunya kamar belum juga menjawab. Ku ketuk sekali lagi.

" Bang Iwan, teh Rarahnya udah berangkat dari jam 6 " anak laki - laki melongokkan kepalanya dari balik pintu kamar sebelahnya.

" Gitu ya ... Tumben..." aku keheranan "Kok kamu ngga sekolah Lal ?" tanyaku pada Hillal basa basi.

" Ngga bang, kelas 3 Try Out" 

" kalau begitu abang langsung berangkat ya ? Assalamu'alaikum" aku berlalu tanpa menunggu Hillal menjawab.

***

Sesampainya di sekolah, aku langsung menuju ke perpustakaan. Kulihat disana sudah ada David, Amar, Chyntia, Kris, Fitri, dan Rarah. Aku bergegas menghampiri mereka. Aku mengambil bangku kemudian duduk di samping Rarah. 

" Rah, berangkat naik apa ? kok ngga nunggu Bang Iwan ? emang Rarah ada kelas pagi ?" Serbuku pada adik angkatku itu.

" Ngga Bang, maaf Rarah lupa bilang hari ini Rarah bareng kak Rendy. Maafin Rarah Bang?" Wajah cantiknya menunduk takut. Tentu saja, karena Rarah menghormatiku sebagai kakak.

" Rendy ?" Namanya begitu asing di telinga.

" Adik ente ini ude punya pacar Wan, jadi jangan heran kalo ngga bareng sama ente" David menyerobot.

" Lu mau tau Rendy itu siapa Wan ?" tambah Amar, aku hanya diam berharap mereka memberi tahu.

" Eta Wan, budak universitas sebelah, nu ngajar kelas hiji" Kris menimpali. Memang mahasiswa praktik di sekolah ini berbeda universitas di setiap tingkatannya. Tapi aku tidak mengenal Rendy. 

" Tapi seleranya Zahra oke juga loh ! Rendy itu ganteng, tajir, pemain band gitu... sempurna lah " Chyntia menimpali. Fitri tak tertarik terjun dalam pembicaraan. Dia gadis cuek.

Kami asyik mengobrol sampai ku lihat bayangan orang yang menghantui pikiranku selama ini. Ranaa. Aku tertegun melihat pesonanya, betapa indah akhlak gadis itu, betapa indah bisa memiliki teduh cahayanya. Rupanya teman-temanku menyadari gelagatku.

" Wan, jadi dia yang bikin ente rajin ngelamun ?" Tanya David yang langsung tepat sasaran. Mukaku panas, aku tersipu malu.

" Ranaa ? cewek yang cerdasnya minta ampun itu, lu suka Wan?" Kali ini Fitri angkat bicara. " Jangan macem - macem, dia itu tulang punggung keluarga, adeknya 4 dan Uminya lagi sakit. Bukan barang mainan" sambungnya.

" Siapa juga yang mau main-main ? ya kan Wan ? Lu ngga liat betapa solehnya sahabat kita ini ? Awan mah ngga kenal pacaran, kenalnya taaruf. Ya kan Wan?" Amar mencoba membelaku. Aku hanya bisa tersipu mendengar mereka beradu mulut.

" Oke, nanti gue coba mintain nomor handphone nya" Akhirnya Fitri percaya. Aku hanya bisa tersenyum lebih lebar, aku yakin semua temanku melihat bahagia menyelimutiku.

***

Handphoneku bergetar empat kali, pertanda ada 4 sms masuk. Setelah selesai mandi aku langsung membukanya.

From : Rarah 08432134
Bang, maaf sebelumnya, tolong sampaikan pada abah dan emak kalo Rarah pulang agak malem, ba'da magrib mungkin. Rarah sedang ada urusan. Syukron.

To : Rarah 08432134
Urusan apa ? Kampus ? Jaga diri ! jangan lebih dari jam 8 ! ngga baik ... nanti abang sampaikan.

From : Unnamed 08423145
Assalamu'alaikum, ini Bang Iwan kakaknya Uma, Ini Fatih Bang, tolong simpan nomor Fatih Bang, siapa tahu Fatih ada tugas yang susah. Makasi.

To : Fatih 08423145
Wss. Iya Tih

From : Unnamed 08442242
Malem Kak Iwan, Ini Sheila anaknya Pak Adicipto, save nomor Sheila ya ? Thanks.

To : Sheila 08442242
Ok Sheil

Aku melihat layar ponselku, Sms terakhir dari Fitri. Entah mengapa hatiku jadi berdebar cepat. Keringat dingin mulai menuruni dahiku. Jempolku menekan tuts hijau untuk membuka pesan.

From : Fitriyana 08497867
Ini nomor handphone Ranaa Wan 08456789.

Tergurat senyum yang amat lebar di wajahku. Aku begitu bersemangat. Ku copy dan simpan nomor Ranaa di kontak ponselku. Kemudian aku bergegas membalas pesan Fitri.

To : Fitriyana 08497867
Makasih banget Fit, kamu baik banget... Sekali lagi makasih.

From : Fitriyana 08497867
Ye lebay ! Kalo udah kenal ngapain ngga minta sendiri sih ?

To : Fitriyana 08497867
Maklum Fit, Pemula.

From : Fitriyana 08497867
ok deh

Aku menyudahi mengirim pesan pada Fitri. Mataku kini tertuju pada nomor handphone Ranaa. Tangan ini mendadak kaku ketika akan menulis pesan untuk Ranaa. Jantungku berdegub sangat kencang hingga bunyinya terdengar. Kini keringat dingin tak hanya mengaliri wajahku. Kini tanganku basah dibuatnya.

To : Ranaa 08456789
Ass Khairranaa Fitriyah

Pesan singkatku langsung terkirim. Hati ini semakin was was menanti jawaban Ranaa. Cukup lama Ranaa membalas pesanku hingga aku khawatir apabila Ranaa merasa terganggu. Beberapa menit kemudian kekhawatiranku buyar. Ranaa membalasnya.

From : Ranaa 08456789
Wss. Betul, ini siapa ?

To : Ranaa 08456789
Ini Mas Iwan, mahasiswa praktik yang tempo hari menyapa Ranaa di perpustakaan. Ingat ?

From : Ranaa 08456789
Ingat, maaf ada perlu apa ?

To : Ranaa 08456789
Hanya ingin mengenal Ranaa lebih dekat boleh ?

From : Ranaa 08456789
Boleh

Pembicaraan kami melalui Sms berlangsung cukup lama dan panjang. Sampai akhirnya Ranaa mengakhiri karena mau mengajar Les dan mengaji. Ranaa adalah gadis yang lembut ramah dan tekun. Makin bertambah perasaanku ini padanya.

***

Akhir - akhir ini Rarah pulang telat, aku mencium gelagat tidak baik atas perubahan sikap Rarah. Rarah sangat berbeda sekarang, bahkan ia berani keluar rumah tanpa mengenakan jilbab yang sudah dipakainya berpuluh - puluh tahun. Emak dan Abah mengeluhkan sikap Rarah yang tidak lagi lembut dan penurut. Rarah yang sekarang lebih suka membantah. Aku sebagai kakak tertua harus mengambil tindakan

" SITI FATIMATUS ZAHRA !!" Panggilku dengan lantang dan berat melihat bayangan Rarah mengendap - endap masuk melalui pintu depan sambil menenteng tas dan sepasang sepatu hak tinggi. Sekarang pukul sebelas malam. Aku menghampirinya lalu ku renggut pergelangan tangannya, ku dudukkan di sofa ruang tamu. Mukanya yang penuh make up rambut ikal yang berantakan, rok skatter selutut dan blouse tanpa lengan.Aku memandangnya jijik. Rarah tertunduk.

" Dari mana kamu ?!" Bentakku, Rarah masih terdiam. " Darimana ?!" Ulangku dengan nada yang lebih tinggi. Rarah tampak kaget.

" Nonton dengan kak Rendy bang " 

" Nonton apa kamu dengan pakaian begini ?! Pantas ?! Mana jilbabmu Rah ?!!" Emosiku tersulut begitu cepat, ingin rasanya tangan ini menampar Rarah, tapi aku masih kuat menahannya.

" Ini kan ngga terlalu terbuka bang ..." Bantah Rarah, aku belum pernah mendengar nada bicara Rarah segenit ini.
 
" NGGA TERBUKA ?? ZAHRA KAMU NGACAA !! KAMU MIRIP PEREMPUAN JALANG SEKARANG !!!" Akhirnya aku meledak juga.

" Abang ! Abang ngga suka liat Rarah modis !! Rarah capek harus ngikutin syariat syariat syariat ! bahkan syariat ngga bisa bikin Rarah punya pacarkan ?!Abang juga ! Abang kan bukan kakak kandung Rarah !" Rarah berlalu meninggalkanku. Seperti kesetanan dia berani melawanku. Ucapannya pun menukik tajam menembus jantungku. Harga diriku sebagai seorang laki - laki di injak - injak habis olehnya. Aku kecewa dengan adikku sendiri. Bukan, bahkan dia tidak menghargaiku sebagai kakak. Meskipun bukan kakak kandung.

Aku dan Rarah tidak saling bicara setelah kejadian itu. Aku tak lagi memperdulikannya. Aku sibuk mengajar Fatih. Ranaa semakin dekat denganku, dan Sheila, entah kenapa anak itu terasa begitu mengganggu.

***

" Heh ! Jilbab palsu ! Lu jangan coba - coba deketin Kak Iwan ! Orang tua gue, sama orang tua Kak Iwan itu udah ngejodohin kita ! Lu jangan ganjen ngerebut calon suami orang ! Muka aja alim ! Kelakuan bejat !" Seorang gadis berambut panjang dan ikal bersama dua orang temannya menghadang gadis berjilbab di toilet.

" Astagfirullah Sheil, kalo yang seperti ini kan bisa di bicarakan baik - baik" Gadis itu berusaha melepaskan cengkraman dua sahabat Sheila.

" Heh Ranaa kampung ! ini juga baik - baik ngomongnya !" Sahabat Sheila menghardik Ranaa. Salah seorang dari mereka merenggut jilbab Ranaa melemparnya kelantai lalu menginjaknya sembari berlalu. Ranaa bersimpuh di lantai kamar mandi sambil terisak. Rambut panjangnya yang indah berurai berantakan. Untung Riffah seorang anggota Rohis menemukan Ranaa dan membantunya.

***

" Kak Iwan ! ada acara ngga ? Sheila boleh minta tolong ?" Sheila menepuk bahuku dan mengagetkanku di parkiran.

" Ngga ada Sheil, tolong apa ?"

" Kak anterin Sheila pulang boleh ? Pak Dimas lagi jemput kakak di bandara" 
 
" Ga sama pacar kamu aja Sheil ?"

" Sheila jomblo kak. Emh ... kalo kakak keberatan, Sheila jalan kaki aja deh" Sheila hampir berlalu. Sudah pasti aku mencegahnya. Aku tak tega melihat anak gadis pulang sendiri. Tiba - tiba fikiranku melayang pada Rarah. Ah sudahlah.

" Kak berhenti sebentar"  Tiba - tiba tangan Sheila menepuk bahuku. Dia mengajakku menepi di sebuah cafe. 

" Kok berhenti di sini ?" Aku masih keheranan. 
 
" Makan dulu kak, Sheila belum makan siang" 

" Sheil, makan dirumah aja ya?" Bujukku.

" Please kak, masa udah nyampe sini pulang sih, ayo dong please, Sheila yang traktir deh" Rengeknya.

" Tapi Sheil ..." Belum selesai aku berbicara, tangan Sheila sudah begitu gesit menarik lenganku. Aku sangat gugup, aku belum pernah berduaan dengan perempuan yang belum terlalu ku kenal. 

" Kakak kenapa sih di ajak makan malah ngelamun ?" Sheila membuka pembicaraan. Sepertinya dari tadi dia memperhatikan aku.

" Aku ngga pernah berduaan begini sebelumnya" 

" Lucu ... oh iya kak, gimana kabar om Erwan sama tante Lulu ?" 

" Mereka belum pulang ke rumah"

Aku hanya menjawab singkat pertanyaan-pertanyaan yang di lontarkan Sheila. Usai makan siang aku langsung mengantar Sheila pulang.

***
Aku membaringkan tubuhku di atas tempat tidur, hari ini cukup melelahkan, akhir - akhir ini sekolah sedang banyak kegiatan. Pikiranku melayang - layang menembus langit - langit kamarku. Sudah hampir dua bulan Ranaa tidak membalas smsku, akupun jarang bertemu dengannya, aku maklum, Ranaa gadis yang sibuk. Banyak kegiatan - kegiatan yang bermanfaat sedang ia kerjakan. Dua bulan pula aku tidak berbicara pada Rarah. Apa kabar dia ya ? kita sudah tidak bertemu sejak kejadian malam itu. Tiba - tiba ponselku bergetar 1 kali.

From : Fatih 08423145
Bang Iwan, afwan, Fatih sudah ada di depan. Ngga berani masuk nih ... soalnya ngga sama Uma. Umanya sedang ekskul. Syukron.

Aku bergegas turun dan membuka pintu pagar. Benar saja di luar sudah ada Fatih. Aku mempersilahkan Fatih masuk. Hari ini aku mengajaknya belajar di taman belakang dekat dengan kamar Rarah.

" Kamu sudah tambah mahir menganalisa rumus Tih" pujiku pada Fatih. Gadis itu tersipu. Benar - benar tersipu. Mukanya memerah lucu sekali. 

" Bisa aja. Kapan - kapan belajar di luar rumah ya Bang, Fatih sudah mulai suntuk" 

Aku berfikir sejenak, haruskah aku berduaan dengan perempuan lagi. 

" Iya deh" menurutku tidak apa - apa jika hanya belajar.

" Makasih bang, emm bang... Fatih boleh tanya ?" Wajah Fatih berubah semakin tersipu. Senyum - senyum kecil yang berusaha di sembunyikannya tetap terlihat olehku.

" Silahkan "
" Abang, sudah punya ..." suaranya tercekat.

" Punya ? Punya apa ?" 

" Ngga bang ... ngga apa -apa"

" oh ..." 

" Em ... bang, Fatih pulang dulu bang, udah sore" Fatih cepat membereskan buku - bukunya lalu bergegas pulang. Kenapa anak itu. Aku masih duduk di bangku taman menghadap ke arah kamar Rarah. Di tengah lamunanku, aku melihat seorang gadis berambut panjang, mengenakan rok yang sangat minim. Aku nyaris tidak mengenali gadis itu. Aku memicingkan mata dan mengamatinya. Rupanya itu Rarah. Benar itu Rarah yang sedang masuk kedalam kamarnya di susul emak dan abah. Astagfirullah.

***
" Kamu mau menjerumuskan bapakmu ke neraka Rah !" Suara emak memekik setengah terisak.

" Ah Emak lebay ! Rarah mau hidup normal Mak ! seperti gadis yang lain Rambut panjang terurai cantik ! ngga di bungkus - bungkus seperti itu " Rarah berteriak memaki - maki ibunya. Terdengar suara isakkan dahsyat. 

" Kamu durhaka Zahra !" Abah tersulut amarah.

" Halo, iya gue keluar sekarang" terdengar Rarah berbicara dengan seseorang di telpon. " Udah deh ! emak sama bapak tenang aja Rarah bisa jaga diri kok ! Udah  ya Rarah mau pergi dulu" Terdengar suara pintu di buka. Aku gugup. Belum sempat aku meninggalkan teras kamar Rarah, Rarah sudah keluar. Kami berhadapan, mata kami bertemu. Kami tercenung sejenak, mulutku ternganga melihat penampilan Rarah saat itu, mataku mengerjap - ngerjap tidak percaya. Rarah hanya menatapku sesaat kemudian berlalu meninggalkan tubuhku yang terpaku. Entah mengapa hatiku semakin sakit melihat penampilannya. Terdengar tangisan emak semakin keras dan menyayat. Yaa Allah ampuni Rarah.

***
" Ranaa! Ranaa ! " aku mengejar gadis itu. Langkahnya begitu cepat. Setengah berlari aku berusaha menyebelahinya. Akhirnya terkejar. Aku menghadangnya, dia sangat terkejut namun pamdangannya tetap menunduk.

" Khairranaa, sebentar saja aku ingin bertanya" Bujukku. Hatiku sudah tidak kuat menahan penasaran tentang Ranaa yang tidak pernah lagi membalas pesan yang ku kirimkan.

" Ada apa bang, eh Pak... maaf saya buru-buru" 

" Kenapa Ranaa tidak membalas smsku lagi ? adakah kata - kata ku yang kurang berkenan ?" 

" Ngga ada Pak, maaf Ranaa tidak mau di tuduh sebagai perusak hubungan orang, maaf" pandangannya masih tertunduk.

" Hubungan apa ? dengan siapa? Tolong Ranaa, aku tidak mengerti" Aku kebingunan setengah mati dengan jawaban Ranaa. Hubungan apa ?

" Sudah lah pak" Ranaa berlalu secepat kilat ia melangkah. Aku masih tercenung. Aku kembali ke perpustakaan dengan gontai. Yaa Allah apa maksudnya semua ini ?

***
Tumben sekali aku melihat keluargaku lengkap malam ini. Papa, Mama, Abah, Emak, Eyang Putri, Aku, Uma, Rarah, Hillal. Semua berkumpul di satu meja makan. Makan malam hari ini terasa sempurna.

" Gimana sekolah kalian ? " Papa membuka pembicaraan. " Rarah, kamu berubah, Papa sampe pangling kenapa jilbabnya di buka?" Rarah tertunduk malu.

" Oh iya Wan, gimana Marsheila ?" Sekarang mama gantian bertanya kepadaku.

" Baik Ma" Jawabku singkat dan tidak tertarik.

" Bagus kalau gitu ya, berarti rencana kita bisa mulus" Mama membuatku terkejut.

" Rencana ?" 

" Mama , Papa, Om Adi, dan Tante Mila berencana menjodohkan kalian berdua, gimana? Setuju kan ?" Semua yang ada di ruang makan terkejut, terutama aku. Aku menghentikan kegiatan makanku.

" Ma ... Sheila baik, tapi Ridwan ngga cinta" Aku berusaha menolak.

" Udah deh Wan, cinta itu bisa datang kalo sudah terbiasa" Mama mulai memaksa.

" Mama kamu benar Wan, sudah kamu harus menurut" Papa menimpali. Makan malam yang indah berubah menjadi petaka. Aku meninggalkan mereka semua kembali ke kamar. Aku menghempaskan tubuhku ke atas tempat tidur. Aku masih memikirkan kata - kata mama, kepalaku berdenyut-denyut dan pening. Aku tidak bisa menikahi orang yang tidak ku cintai. Aku hanya mencintai Ranaa. Bayangan Ranaa berklebat - klebat di dalam kepalaku, berputar - putar. Hatiku terasa sangat sakit, sesak. Akhirnya aku tertidur.

***
" Pagi Kak, sarapan nih ye" Sheila mengejutkanku, tangannya merangkul pundakku. Aku sangat terkejut, tanganku segera menghempaskan tangan Sheila.

" Astagfirullah Sheila ! Apa - apaan kamu !"

" Kak Iwan gimana sih ! Om sama tante belom bilang ya kalau kita di jodohin ? Ya wajar dong kalo Sheila mesra dengan calon suami Sheila" Nadanya genit, tangannya berusaha menggapai pundakku, aku jijik dibuatnya. 

" Sheila ! tolong ! aku tidak cinta sama kamu ! tolong ! aku tidak bisa menikahi orang yang tidak ku cintai" Nada suaraku meninggi.

" Ah Kak Iwan ngga usah malu, Sheila seneng mengakui hubungan kita" Sheila masih saja genit, aku semakin muak. Tiba - tiba Ranaa lewat di hadapanku. Memandang ke arahku dan Sheila kemudian berlalu.

" MARSHEILA ! tolong !" aku membentaknya, lalu pergi menyusul Ranaa.

***

Aku menunggu seseorang di bangku sebuah taman kota. Sepulang mengajar aku langsung menuju taman itu. Sudah setengah jam berlalu seseorang yang ku tunggu belum juga datang. Tiba - tiba sebuah angkutan umum berhenti tepat di depanku, dari dalam angkutan umum tersebut turun seorang gadis berjilbab biru muda. Gadis itu sangat ku kenali sehingga aku spontan melambaikan tanganku ke arahnya.

" Fatih !" panggilku. Gadis itu menoleh lalu bergegas mendekatiku.

" Afwan bang, Fatih telat tadi beli obat dulu untuk umi" Fatih terengah - engah. Kemudian gadis itu duduk di bangku di depanku.

" Ngga apa - apa tih, umi kamu sakit ? Sakit apa?" 

" Liver bang, sudah lama sejak abi meninggal, kita mulai yuk bang belajarnya" Aku mulai mengajari Fatih. Usai belajar aku mentraktir Fatih eskrim gadis itu tampak gembira sekali.

" Bang, Taaruf yuk" ucapannya begitu polos dan ringan. Aku melihat ekspresi kelegaan setelah mengucapkan kata - kata itu. Muka malunya tersembunyi di balik tiga scoop eskrim cone yang sedang ia nikmati.

" Tiba - tiba ngomong gitu" Aku terkekeh. Aku pun tersipu, tapi tidak ada eskrim yang menghalangiku karena eskrimku sudah habis duluan.

" Habis bang Iwan tipe Fatih banget" ucapnya lagi.

" Tipe kamu gimana coba ?" 

" Iya, kaya bang Iwan, lembut, baik, ngga sombong"

Aku terkekeh lagi, aku malu sekali. Lama kelamaan ku amati Fatih menarik juga. Gadis itu begitu polos dan lugu. Aku memutuskan menerima tawarannya untuk bertaaruf. Mungkin karena aku frustasi kepada Ranaa yang terus menghindari aku dan Sheila yang selalu saja menggangguku.

Hubungan kami berlangsung cukup lama ternyata Fatih gadis yang sangat dewasa. Aku mulai menyayanginya. Hubungan kami sangat lancar. Aku berfikir, Fatih kah jodohku kelak ?

***
Seorang gadis cantik mengenakan midi dress berwarna hitam dengan aksen garis berwarna putih di pinggangnya dan juga collar neck. Rambutnya yang panjang dan ikal pada bagian bawah di biarkan terurai. Wajahnya yang begitu cantik di poles dengan make up natural dan lip balm. Tapi make up yang begitu sempurna itu tidak dapat menyembunyikan ketakutannya. Ia duduk sendiri di sudut cafe sore itu sambil sesekali melihat ke luar jendela seolah menunggu seseorang. Matanya kemudian berbinar melihat sesosok laki - laki mendekat ke arahnya. Laki - laki tersebut menarik kursi lalu duduk di depan gadis itu. Gadis itu mengambil sesuatu dari dalam tasnya lalu menyodorkan kehadapan laki - laki itu. Mata laki - laki itu membelalak lebar. Benda itu adalah alat test kehamilan dengan dua garis merah di atasnya.

" Kapan kamu siap bertemu abah Ren ?" gadis itu menanyakan kepastian.

" Apa - apaan ini Za ? kamu bercanda" laki - laki itu terkekeh sinis.

" Aku ngga lagi bercanda Rendy ! Aku hamil ! Aku mengandung anak kamu !" 

" Nggak mungkin Zahra, itu ngga mungkin anakku !"

" Siapa lagi Rendy ?! aku ini pacar kamu ! cuma kamu pacarku !"

" Ngga ! kamu itu murahan Zahra ! liat pakaian kamu ? begitu gampangnya kamu lepas jilbabmu !"

" Kamu yang ingin aku seperti ini Ren !!"

" Memang !! tapi harusnya kamu punya pendirian Zahra !" Sekarang seisi cafe menoleh ke arah mereka karena suara Rendy yang begitu keras.

" Kamu harus nikahin aku Rendy ! Harus !!"

" Ngga ! aku ngga bisa !"

" Kenapa kamu ngga bisa Ren ?" kini Rarah mulai terisak suaranya berat ada sesuatu yang menusuk jantungnya. Air mata mulai berjatuhan. Laki - laki itu menyodorkan sesuatu. Rarah membuka bungkusan plastik yang ternyata sebuah undangan pernikahan. Tertulis dua nama di dalamnya. RENDY ARYA DWIYANTORO & CHRISAN AMELIA RUSYANDI. Tenggorokan Rarah tercekat, dadanya semakin sesak dan sakit, air matanya berderai deras jatuh ke meja. Dia menatap Rendy seolah meminta kejelasan. 

" Iya, dua minggu lagi aku nikah ! Perut Amel sudah buncit tak mungkin di sembunyikan lagi. Lagi pula ayahku tidak akan mengijinkanku menikahimu ! Aku tau Za ! kamu ini anak babu ! ngga selevel denganku" Seperti tersengat listrik jutaan volt Rarah menghentikan tangisnya. Kekecewaannya kini berubah menjadi amarah yang begitu besar. " Untuk isi perutmu itu, karena masih muda, buang sajalah, ini ongkosnya" Sambung Rendy sambil menyodorkan segepok uang kertas seratus ribuan. Rarah memanas, sakit di hatinya tak lagi terasa. Ia mengambil uang itu lalu menghamburkannya di depan muka Rendy. Rarah beranjak meninggalkan Rendy keluar cafe. Berjalan terhuyung - huyung menembus hujan lebat Rarah membawa perasaannya yang hancur.

***

Aku mulai mencintai Fatih, gadis kecil itu membuatku banyak belajar. Meskipun aku sendiri pun tahu, aku masih sangat mencintai Ranaa. Sampai detik ini aku masih bertukar pesan dengan Ranaa, Ranaa mau membalas pesanku setelah aku mengirimkan ratusan pesan maaf. Aku lega sekali. Dan Sheila, dia masih saja menggangguku dan menganggap aku ini calon suaminya. Setiap siang ia membawakanku bekal makan siang. Teman - teman mengira aku dan Sheila berpacaran. Sore ini aku berjanji pada Fatih menemuinya di taman kota. Sepulang mengajar aku bergegas menuju taman tersebut.Sekarang pukul dua siang. Sesampainya di taman, mataku berkeliling mencari Fatiha, kekasihku. Seorang gadis melambai - lambai ke arahku. Aku tersenyum lebar dan segera menghampirinya. Aku duduk menyebelahinya, gadis itu tak lantas berbicara. Ia menyodorkan secarik kertas kepadaku. Ku buka kertas itu. Senyum bangga terukir di wajahku.

" Selamat ya ! Bang Iwan bangga ! " kataku sambil mengembalikan kertas hasil ulangan bernilai sempurna itu.

" Iya ini kan berkat bang Iwan, Fatih mah ngga bisa begini deh. Makasih ya bang" 

" Sama - sama Fatiha... jajan Eskrim yuk !" Ajakku. Kami berdua segera bangkit dari tempat duduk kami.

Di tempat eskrim, Fatiha terus bercerita tentang kegiatannya di sekolah hari ini. Lucu sekali mendengarnya berceloteh. Sambil menikmati eskrim di bawah rindangnya pohon ku lantunkan syukur kepada Maha Mulia Allah SWT.

***
Setelah memarkirkan motorku, aku segera masuk kedalam Rumah. Badanku terasa sangat kelelahan. Aku terkejut sekali melihat keadaan ruang tamu yang ramai. Terlihat semua orang menangis termasuk papa dan mama. ada apa sebenarnya.
 
" Ridwan ! dari mana kamu !" Papa memanggilku.

" Pulang ngajar, terus main ke taman sama Fatiha" mendengar jawabanku Uma langsung mendongak. Ia terkejut.

" Fatiha ?! Siapa Fatiha?" Mama giliran bertanya. Sebelum aku sempat menjawab, Uma sudah angkat bicara.

" Fatiha teman sekelas Uma Mah"

" Hah ?! Pacaran kamu sama dia, Ridwan ?!! Iya ?!!" Mama mulai tersulut emosi.

" Iya Ma" Aku memberanikan diri.

" Apa maksud kamu ?! kamu itu sudah dijodohkan dengan Marsheila !" Mama makin meninggikan nada bicaranya.

" Sudah Ridwan bilang Ridwan ngga cinta sama Sheila !" 

" SUDAH ! bukan saatnya membahas itu ! kita sedang memikirkan Rarah !" Papa menengahi adu mulut kita. " Ridwan ! kamu ini ngapain aja ! Sampai kamu lalai menjaga adikmu ! kamu tau Rarah itu hamil !" Sambung papa. Aku sangat kaget tapi berusaha menyembunyikannya. Aku memasang tampang datar.

" Bukan urusan Ridwan !" Semua mata di ruangan itu membeliak lebar.

" Jelas urusan kamu !" bentak papa. 

" Rarah sudah dewasa pa ! Dia bisa memilih jalan hidupnya sendiri ! Termasuk memilih melepas jilbabnya untuk laki - laki ngga jelas" Aku bersungut - sungut mengucapkannya seperti ada gumpalan amarah terlepas begitu saja. Aku memicingkan mata, ku tatap Rarah sinis. Aku melihatnya begitu hancur dan berantakan. Tapi ada rasa puas yang menyeruak.

***

Sekarang setiap hari aku mendengar suara mama dan papa bertengkar soal Rarah. Papa ingin menikahkanku dengan Rarah untuk menutupi aib keluarga sedangkan mama bersikeras menjodohkanku dengan Sheila. Ditambah aku harus mendengar tangisan Abah dan Emak. Semua ini membuatku pusing. 

Sepulang mengajar, aku berniat langsung tidur. Ketika aku berjalan menuju kamarku, aku melewati kamar Uma.

" Bang, " Panggil Uma. Aku hanya menghentikan langkahku. Berdiri mematung di tempatku berhenti. Aku sama sekali tidak menoleh. Aku sedang tidak ingin mendengarkan keluhan dari siapapun. " Abang harus tegas ! Memilih mana yang akan abang nikahi ! yang abang hadapi ini perasaan ! bukan batu ! yang bisa seenaknya abang hempas " di luar dugaan Uma menceramahiku. " Tolong jujur pada Uma, siapa yang akan abang pilih, Marsheila, Teh Rarah atau Fatiha?" Sambungnya.

" Ngga ada !" Sahutku ketus. Uma mendekatiku.

" Fatiha pun bang ?" wajahnya penuh keheranan dan tanda tanya.

" Ngga juga Fatiha" 

" lalu kenapa abang beri Fatih harapan ? "

aku tidak menjawab. 

" Lalu siapakah orang yang abang cintai?" Tanya Uma lagi. Air matanya menggenang di pelupuk mata. Entah apa yang membuatnya ingin menangis. 

" Khairranaa Fitriyah" Jawabku singkat. Hanya dengan menyebut namanya saja di otakku sudah tergambar indah wajahnya 

" Khairranaa ? Kak Ranaa ?" Uma mengernyitkan dahi. Aku heran bagaimana Uma bisa tau nama panggilannya. 

" Kamu kenal ?"

" ABAAAAAAAAANGGGG!!"

***

"'Yang ini Uminya bang, Ini kakaknya Fatih, Khairranaa Fitriyah, terus ini Fatiha Taufika, yang laki - laki ini adiknya Fatih Ahmad Umar Jusuf, nah kalo yang ini, Latifa Islamiyah lalu yang paling kecil ini Sayyida Istiqaah" Kata - kata Uma terus terngiang di telingaku.

Hari ini aku berniat menemui Fatiha dan menceritakan semuanya. Sepulang mengajar aku menemuinya di taman tempat kita biasa janjian empat bulan ini. Aku menunggunya dengan was - was. Aku masih bingung kata - kata apa yang akan ku gunakan untuk menjelaskan pada Fatiha. Akhirnya dia datang. Dia duduk dengan tenang seperti biasa. Lalu ku tumpahkan semua isi hati dan fikiranku saat itu. Aku juga menunjukan beberapa ekspresi kepadanya betapa aku tidak main - main dengan ceritaku.

" Memang bang Iwan harus memberi keputusan untuk semua ini. Fatih senang bang Iwan masih bisa berpikir jernih setelah semua ini. Fatih ngga apa - apa kok. Bisa dekat dengan bang Iwan saja Fatih sudah bahagia" Sembari mengusap air matanya Fatih tersenyum. Aku tau betapa hancur hati Fatih saat ini. Tapi aku tau dia gadis yang tegar.

" Senang kok nangis Tih" Godaku.

" Perpisahan itu memang sakit bang, tapi Fatih senang, Fatih bangga dengan Bang Iwan" senyumnya tetap tulus. Fatih serius dengan ucapannya. " Tapi ajarin Fatih sampai lulus sekolah ya bang ?" senyumnya kini berubah menjadi senyum jahil. Aku lega. Tak dapat di pungkiri aku mulai mencintainya.

***
" Saya terima nikahnya Siti Fatimatus Zahra binti Ali Firdaus dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai" seisi ruangan menjawabnya dengan kata SAH. Semua orang mensyukuri pernikahan ini. Ada yang tidak, ada yang berat hatinya dengan pernikahan ini. Aku. Aku bingung antara harus bahagia atau sedih bukan kepalang 

" Selamat ya Wan, Rah, gue pikir lu sodara kandung" Sapa seorang teman sembari menjabat tanganku dan Rarah. Aku hanya menyambutnya dengan senyum getir penuh ke pahitan. Hingga resepsi usai aku belum berbicara dengan Rarah. Rasanya malas sekali. Aku kembali ke kamarku. Tak ku hiraukan hiruk pikuk keluargaku di ruang bawah.

Ku kunci pintu kamarku, mengganti Setelan kemejaku dengan kaus oblong dan celana training panjang. Ku hidupkan AC lalu ku rebahkan tubuhku di atas kasur. Aku sangat kelelahan terutama hatiku. Aku tertidur.

Entah berapa lama aku tertidur yang jelas aku mendengar suara ketukan dari luar kamarku. Ketukannya keras dan berulang - ulang memaksa mataku terbuka.

" Bang ! Bang Iwan ini Uma bang !"

" Nanti saja ! abang masih ngantuk !"  Aku menjawabnya dari dalam kamar. Aku masih malas sekali bertemu siapapun.

Sudah beberapa hari menjadi suami istri, tapi aku masih saja tidur sendiri di kamarku dan Rarah tidur di kamarnya. Seperti aku, mama juga belum bisa menerima Rarah sebagai menantunya. Beliau memutuskan keluar negeri selama beberapa bulan untuk mengurus bisnisnya. Semua orang di rumah menceramahiku soal hukum pernikahan. Aku tidak perduli.

***
" Pak Ridwan...." suara lembut itu mengagetkanku. Aku langsung menutup buku yang sedang ku isi. Ranaa menarik kursi di depanku lalu mendudukinya. 

" Ranaa " mulutku terasa kaku. Sakit sekali hati ini barang sekedar menyebut nama itu.

"Seandainya pak Ridwan peka, Pak Ridwan pasti dapat merasakan perasaan kami" Ranaa terdiam sejenak menghela napas dalam yang berat. " Baik Rana, Marsheila, dan juga Fatiha" menyebutkan nama terakhir seolah menguras kekuatannya. Rupanya Ranaa tahu hubunganku dengan Fatiha. Aku tertunduk malu. Air mata menggenang di pelupuk mata Ranaa.

" Kamu sudah tahu Ranaa"

" Kami menaruh perasaan pada Pak Ridwan. Perasaan kami sama. Seharusnya Ranaa belajar tegar dan ikhlas seperti Fatiha. Meskipun di rumah Fatiha menangis hatinya hancur berkeping - keping" mulutku ternganga. Ternyata gadis seperti Fatiha menyimpan kehancuran seorang diri. " Selamat ya Pak Ridwan, semoga Sakinah Mawwadah Warrahmah. Maaf Ranaa tidak dapat menyembunyikan perasaan Ranaa" Ranaa beranjak pergi. Aku hanya mematung. Aku hancur di buatnya. Kata - katanya menggema di hatiku. Menikamku bertubi - tubi. Aku limbung. Pikiranku melayang. Aku memutuskan izin pulang untuk menenangkan diri. Aku kecewa pada diriku sendiri yang tidak tegas memutuskan sesuatu. Aku mengorbankan kebahagiaanku.Sampai di rumah Rarah membukakan pintu mencium tanganku kemudian tersenyum. Aku tidak membalas senyumnya langsung naik ke kamarku. Ku percepat langkahku. Rarah mengikutiku.

" Bang, hargai usaha Rarah bang" Rarah berteriak merengek kepadaku. Aku acuh sambil berlari menaiki anak tangga. Aku masuk ke dalam kamar, melempar tas ke atas meja lalu duduk di pinggiran tempat tidur. Rarah masuk kemudian duduk di sisi lain tempat tidur. 

" Kenapa abang tidak mau menyentuh, berbicara atau bahkan sekamar dengan Rarah" Seolah tanpa dosa Rarah mengucapkannya. Amarahku langsung naik ke ubun - ubun. " Apa bang Iwan ngga bisa sedikit menghargai Rarah?" Sambungnya. Aku makin muak.

" Ketika aku berusaha mengarahkanmu sebelum terlambat, kamu menginjak - ijak harga diriku. Sekarang setelah semua ini terjadi kamu memintaku menghargaimu ?" Dengan nada datar dan tanpa ekspresi aku mengucapkannya. Aku beranjak dari tempat tidur dan hendak keluar dari kamar.

" Tapi kenapa abang nikahi Rarah?" Rarah mulai menangis dan merengek.

" Aku punya tanggung jawab menjaga nama baik keluarga" Aku melangkah pergi meninggalkan Rarah yang masih menangis di kamarku.

***

Dear Kak Iwan,

Mungkin aku lupa jelaskan resikonya membatalkan perjodohan kita. Tapi ngga ada yang perlu aku jelaskan lagi. Kita akan segera melihat keporakporandaan perusahaan om Erwan dan tante Lulu. Aku tidak pernah main - main.

-MRS-

Surat ancaman itu terselip di buku tugas Sheila. Cobaan apa lagi ini. Pantas saja mama bersikeras menjodohkanku dengan Sheila. Papa Sheila adalah investor terbesar di perusahaan mama dan mama adalah investor terbesar di perusahaan papa. Yaa Allah bagaimana aku menghadapi semua ini.

Aku memutuskan pergi ke masjid sekolah. Aku berniat untuk melaksanakan Sholat Dhuha. Sholatku hari ini berbeda dengan Sholat biasanya. Aku hari ini datang menemui Allah dengan hati yang hancur berkeping - keping dan keterpurukan dahsyat.

Yaa Allah tuhan semesta alam
Pemilik segala rencana kehidupan...
Semua yang terjadi adalah kehendakMu
aku berpasrah kepadaMu
Cukupkan lah kekuatanku menghadapinya
Kuatkan aku untuk memaafkan siapa saja yang menyakitiku.

***
Aku memutuskan untuk menemui Rarah di kamarnya. Tidak seharusnya aku bersikap dingin pada Rarah. Aku menghela nafas panjang di depan pintu Rarah. Aku memberanikan diri mengetuknya. Rarah membukakan pintu. Wajahnya tertunduk.

" Rah, boleh abang masuk?"

" Silahkan bang"

Aku masuk kedalam kamarnya yang ternyata cukup luas. Aku duduk di bangku di depan tempat tidurnya. Kami berhadapan namun wajahnya masih tertunduk.

" ada apa bang?"
" Rah, maafkan bang Iwan ya sudah bersikap dingin padamu. Tidak seharusnya abang seperti itu kan?" Aku berusaha mengucapkannya meskipun terbata - bata. Rarah menghambur ke arahku. Dipeluknya kedua kakiku, lalu ia membenamkan wajahnya kemudian menangis.
" Bang, maafkan Rarah. Ini semua salah Rarah, seharusnya Rarah mendengarkan kata abang. Sekarang abang yang harus menanggung semuanya. Abang tidak bisa menikahi Khairranaa lalu Marsheila meneror abang. Semua salah Rarah " Aku sedikit terkejut Rarah tahu Marsheila mengancamku. Setelah kami menikah, Rarah memutuskan tidak melanjutkan kuliahnya.
" Sudah lah Rah, semuanya sudah terjadi" Aku membangunkannya, lalu mendudukannya kembali ke tempat tidur.
" Apa yang harus Rarah lakukan untuk menebus perbuatan Rarah ?" Aku mengambil jilbab di gantungan bajunya. Ku sodorkan padanya jilbab itu. Rarah menerimanya tapi ia heran.
" Kembali lah menjadi Rarah yang ku kenal" Rarah kembali menangis. Dipeluknya erat - erat jilbab itu. " Kemasi bajumu Rah, tinggalah bersama ku. Aku akan memperlakukanmu sebagai seorang istri, dan sebaliknya, tapi aku tidak bisa menyentuhmu, aku belum bisa mencintaimu. Tapi tidak ada salahnya mencoba saling mencintai" Sambungku. Rarah tersenyum lebar. Kemudian kami mengemasi barang - barang Rarah.

***
" INI SEMUA SALAH KAMU ZAHRA !!! PERUSAHAAN SAYA HANCUR LEBUR !!! ADI CIPTO MEMBATALKAN KONTRAKNYA KARENA RIDWAN BATAL MENIKAHI MARSHEILA !!! KAMU PENYEBAB KEHANCURAN INI ! SAYA TIDAK MENYANGKA KAMU AKAN TUMBUH MENJADI PELACUR !!"  seorang perempuan separuh baya memaki gadis di hadapannya. Gadis itu terus menangis dipelukan kedua orang tuanya.
" RINI MEMANG NGGA BECUS NGURUS ANAK !"
" LUTFIAH ! kanu tidak pantas berkata seperti itu kepada Rini ! Rini yang membesarkan kedua anakmu ! kamu yang tidak becus mengurus anak !" Eyang putri tiba - tiba muncul dari ruang tengah.
" Liat dong Mam, Zahra ini ngga cuma menghancurkan keluarga kita, menghancurkan masa depan Ridwan, perusahaan Lulu, semuanya ! Tau begini Lulu usir mereka dari dulu !"
" Lutfiah ! keterlaluan kamu ! Jangan jadi orang munafik ! ingat Firdaus menyelamatkan suamimu ! ingat ginjal siapa yang ada di tubuh suamimu !" Eyang putri meninggikan nada bicaranya. Mama hanya memalingkan wajahnya lalu pergi meninggalkan mereka semua.

***

Aku sering memperhatikan Ranaa di perpustakaan. Dia seperti tidak pernah mengenalku. Seperti aku tidak pernah menyapanya. Sikapnya begitu tenang dan datar seperti biasanya. Sedangkan Sheila, gadis itu membuat gosip yang tidak - tidak tentang pernikahanku dengan Zahra. Hari ini aku pulang lebih awal karena harus mengantar Rarah ke dokter kandungan. Meskipun kami sudah menikah, aku tetap belum bisa mencintainya sebagai seorang istri. Perasaanku hanya sebatas seorang kakak kepada adik seperti dulu namun aku tetap menunaikan kewajibanku sebagai seorang suami.
" Sudah siap Rah ?" tanyaku pada Rarah yang keluar dari kamar.
" Sudah bang"

***

Rarah tidak mengizinkan aku ikut masuk kedalam. Akhirnya aku menunggu di ruang tunggu Rumah sakit. Sendirian di ruang tunggu membuat pikiranku melayang jauh merindukan Ranaa. Sedang apa dia ya. Dua minggu lagi praktik mengajarku usai. Dan aku tidak akan pernah bertemu Khairranaa lagi. Rarah keluar dari ruang pemeriksaan. Wajahnya datar dan terlihat tidak bahagia. Tapi dia memaksa tersenyum ketika aku melihat ke arahnya.
" Gimana Rah?"
" Hasilnya besok siang bang"
" Ya udah besok abang anter"
" Ngga usah bang, kan abang harus ngajar, biar besok Rarah sendiri naik taksi"
" Kamu yakin"
" Iya, ayo pulang bang Rarah capek"

***

Aku melihat Ranaa, Ranaa juga melihatku. Aku tau dia menyadari kedatanganku di masjid sekolah siang itu. Masih seperti biasa, wajahnya tetap teduh dan cantik. Hari ini adalah hari terakhirku mengajar di sekolah ini. Aku mencari Ranaa di seluruh sudut sekolah. Itu dia, di ruang sekretariat Rohis.
" Assalamu'alaikum" Ranaa menoleh dan tampak sedikit terkejut dengan kemunculanku.
" Wa'alaikumsalam"
" Ranaa, aku pamit ya, besok aku sudah tidak mengajar"
" Iya Pak" kami berdua terdiam beberapa saat. Aku kehilangan kata-kata.
" Ranaa, Maafkan kesalahanku ya" Aku berlalu meninggalkan Ranaa tanpa menunggu jawaban darinya. Mukaku memerah, energiku untuk berbicara pada Ranaa sudah habis. Pertahanan diriku runtuh. Hatiku serasa terkoyak.
Aku mengemasi buku - bukuku bersiap meninggalkan sekolah ini. Sekolah yang memperkenalkan aku pada sebuah perasaan. Sekolah yang mengajarkanku banyak hal.
" Ridwan !" Sebuah suara mengagetkanku. Aku sontak mencari sumbernya. Rupanya pemilik suara itu adalah Sheila. " Sudah siap miskin ?" Sambungnya lagi. Aku tidak menanggapi ucapannya. Setelah selesai berkemas aku langsung meninggalkannya tanpa pamit.

***
Seorang perempuan nampak turun dari taksi. Matanya sembab seperti habis menangis. Ia buru - buru masuk kedalam rumah dan berlari menuju kamarnya. Kamarnya bukan kamar kami. Kamar lamanya di halaman belakang rumahku. Ia duduk di meja belajarnya dulu. Menarik salah satu lacinya mengambil pulpen dan kertas. Ia juga mengeluarkan sebuah amplop hasil pemeriksaan kehamilannya. Di bukanya amplop itu, di bacanya tulisan di kertas dalam amplop tersebut berulang - ulang. Berharap tulisan tersebut berubah. Seperti tidak percaya ia mengerjab - ngerjabkan matanya. Perasaan sesak mengisi relung hatinya. Perih bukan kepalang yang ia rasakan. Sambil menangis ia menulis sebuah surat. Sesekali ia memijit - mijit pelipisnya. Setelah selesai surat tersebut dilipat dan dimasukkannya kedalam amplop bersama hasil pemeriksaannya. Lalu amplop tersebut di masukkan kedalam laci tempatnya mengambil pulpen tadi. Gadis itu mengusap air matanya, kemudian beranjak keluar dari kamarnya.
" Rarah, kamu teh kunaon ceurik kitu?" Sebuah suara mengagetkannya. Gadis itu lalu memasang senyum palsunya.
" Teu nanaon Mak, Rarah cuma terharu" Setelah menjawab Rarah buru - buru berlari kedalam rumah.

***
Hari ini rumah sangat sepi. Hanya ada aku dan Rarah. Emak, abah dan Hilal pergi kepasar untuk membelikan kebutuhan sekolah Hilal. Eyang Putri, sedang ada acara perkumpulan istri purnawirawan. Uma belum pulang sekolah. Mama dan Papa belum pulang dari kantor. Rasanya canggung sekali duduk berdua dengan Rarah meskipun kami adalah suami istri. Padahal Rarah pun duduk lumayan jauh di ujung Sofa.
" Rah, gimana hasilnya kemarin ?" tanyaku basa basi. Tampak senyuman lebar di wajah Rarah.
" Alhamdulillah bang, sehat janinnya' Rarah mengusap - usap perutnya.
" Alhamdulillah ... makan yang sehat dan banyak. Kalau pengen apa - apa bilang sama Bang Iwan"
" Rarah pengen apa ya bang, Soto, somay, mie ayam, ayam bakar" Rarah menggodaku. Senyum jahil yang dulu sering ku lihat semasa kecil tertoreh kembali. Hatiku tiba - tiba terasa sejuk.
" Catet aja Rah, nanti abang bawaain se tukang - tukangnya"
" Bang..."
" Iya ?"
" Kalo anak Rarah lahir boleh pake nama belakang abang ?" Rarah menatapku penuh harap.
" Boleh ... emangnya mau di kasih nama siapa ?"
" Kalau perempuan Rarah kasih nama Kahlila Azzahira Khadaffi... Bagus kan?"
" Bagus ... Kalau laki - laki siapa?"
" Aduh, kalo laki - laki ngga kepikiran bang, Bang Iwan aja deh yang kasih nama"
" Kalo... Kahlil Zaha Khadaffi ?"
" Bagus bang mirip hihihi" Kami berdua terkekeh kecil. Suasana mencair, Rarah mulai mendekatkan duduknya denganku. Beberapa saat kami hanyut dalam celoteh - celoteh mesra.
Terdengar suara pintu di ketuk dengan kerasnya. Rarah beranjak menuju ruang depan dan membukakan pintu. Dua orang laki - laki bertubuh besar mengagetkannya.
" Selamat siang bu?"
" Siang, maaf cari siapa ya ?"
" Betul ini kediaman Ibu Lutfiah Nuraini dan Bapak Erwanto?"
" Iya betul, tapi bu Lulu dan Pak Erwannya belum pulang"
" Nggak apa - apa bu, saya titip surat ini aja, tolong sampaikan rumah ini harus di kosongkan dalam waktu seminggu ! Rumah ini akan di sita" salah seorang dari mereka menyerahkan selembar amplop.
" Astagfirullah ! kenapa di sita pak??"
Aku mendengan Rarah memekik segera beranjak menuju pintu depan. Aku melihat Rarah memegang sepucuk surat sambil menangis.
" Kenapa Rah ? Ada apa ini"
" Ibu silahkan sampaikan, kami berdua pamit dulu" kedua laki - laki itu pergi meninggalkan aku dengan rasa penasaran. Aku melihat kearah Rarah berharap mendapat penjelasan.
" Bang, Rumah ini mau di sita" Rarah terisak sembari reflek memelukku. Aku masih tertegun. Tanganku mengambil amplop yang ada di genggaman Rarah. Aku membaca sampul amplopnya.
" Adicipto group... Marsheila... Yaa Allah, anak itu ngga main - main rupanya" Bisikku. Aku membalas pelukan Rarah. Aku melamun, apa jadinya jika Mama dan Papa tahu.

***

Kami semua duduk di meja makan. Makan malam hari ini terasa begitu tegang.  Saat kami selesai makan, tiba saatnya papa memberikan pengumuman. Semua yang ada di ruang makan hening, tegang, nampak pula raut wajah sedih dari mereka. Aku pun begitu. Hati ini terasa kalut dan tidak siap menerima kenyataan.
" Seperti yang kita semua tau, kita harus mengosongkan rumah ini secepatnya. Rumah ini akan di sita. Rekan bisnis papa, Pak Adi Djarwo Sucipto memutuskan kontrak karena Ridwan batal menikahi Marsheila"
" Ini semua karena kamu Zahra ! Kamu juga Rini ! ngga becus ngurus anak ! semua usaha saya jadi sia - sia ! kita jatuh miskin ! harusnya dari awal saya usir kalian biar jadi gembel !" Mama menyambar.
" Sudah ! kamu tidak seharusnya berbicara seperti itu Lutfiah ! sesama perempuan kamu tidak peka !" Eyang Putri angkat bicara.
" Ngga usah bela Rini terus bu ! Lulu ini menantu ibu ! bukan Rini! Rini itu ngga tau di untung ! melahirkan pelacur seperti Zahra!" Zahra lalu terisak. Sekarang aku memanas. Hatiku sakit sekali mendengar ucapan mama.
" Mama ! mama ngga pantas ngomong seperti itu ! Zahra ini istri Ridwan ! Menantu mama !" Suaraku begitu lantang. Semua tertunduk kecuali mama yang makin bersungut - sungut.
" Kamu sama dengan papamu Ridwan. Sok bijaksana ! Yang pasti mama nggak mau miskin ! Gembel di pinggir jalan !" Mama berteriak-teriak kesetanan.
" Tenang, Papa sudah siapkan rumah untuk kita tinggal. Bangunan tua sih, tapi insyaallah cukup buat kita semua"
" Kita semua mas ? setelah semua ini terjadi kamu masih nampung Rini dan Daus ? yang bener aja mas ? ini semua karena mereka ! Mereka lahirkan anak sialan itu ! Aku mundur mas ! Aku minta cerai !" Semua kaget. Emak, Rarah dan Uma menangis tersedu - sedu. Tinggalah aku yang bingung bukan kepalang.

***
Keputusan sudah bulat. Kami jadi pindah dan Mama tetap ngotot minta cerai. Rumah yang di beli Papa begitu unik. Ada 6 kamar yang cukup luas. Hanya satu lantai. Bangunan berarsitektur belanda itu amat cantik.

Aku sekamar dengan Rarah. Perasaan aneh menyeruak, antara iba dan sedih. Perut Rarah membuncit begitu besar. Mungkin kembar. Raut wajah Rarah sayu. Baru kali ini aku melihatnya begitu redup. Sembari menyisir rambut panjangnya, Rarah duduk di tepi tempat tidur.

" Bang, dua bulan lagi Rarah melahirkan. Maafkan semua kesalahan rarah ya bang ?" mata Rarah nanar. Bayangannya membias di depan cermin. Aku bangkit dari sofa lalu duduk di sebelahnya.
" Rah, maafkan abang yang pernah menyakiti Rarah. Abang sadar semua ini harus terjadi..." aku memeluknya. Tubuh hamil itu terasa begitu dingin menempel tubuhku.

***
" Uma, teh Rarah titip ini ya ? tolong titipkan surat ini ke teman sekelasmu Fatiha. Sampaikan kepadanya, surat ini untuk Khairranaa"
Rarah menyerahkan sepucuk surat dengan amplop bertuliskan sebuah nama Rumah sakit ibu dan anak.
" Surat apa ini teh ?"
" Sampaikan saja... ini amanah"
" insyaallah teh"
" Terima kasih" Rarah beranjak kembali ke kamarnya. Ia duduk di depan cermin seperti biasanya, tapi kali ini ia menangis tersedu. Terisak begitu hebat hingga tubuhnya bergetar dan dadanya sesak. Lantas ia mengambil air wudhu lalu melaksanakan shalat. Di tengah shalatnya ia kembali terisak lebih dahsyat dari sebelumnya.

***
Seorang gadis berjilbab duduk di sebuah ruangan sempit beralaskan tikar. Di tangannya ada sepucuk surat putih. Bingung mendera hati gadis itu. Hatinya gelisah mencoba menerka - nerka apa isi surat itu.
perlahan ia membuka amplop yang di genggamnya. Terdapat dua kertas di dalamnya. Gadis itu membuka lembar yang di tulis tangan terlebih dahulu.

Kepadamu,
Khairranaa Fitriyah
Assalamu'alaikum
Mungkin kamu akan bertanya - tanya mengapa aku menulis surat ini untukmu. Ranaa, mungkin kamu tahu bahwa Ridwan mencintaimu dan kamu mencintainya. Jangan membohongi diri. Aku tahu itu. Jangan karena Ridwan menikahiku lantas kamu menganggapnya berkhianat. Tidak Ranaa, Ridwan tidak pernah setitikpun mencoba menyakitimu. Ini semua salahku.
Ranaa, orang tuaku memohon Ridwan menikahiku karena ayah kandung anakku tidak mau bertanggung jawab kepada kami. Sepanjang usia pernikahan kami, tidak pernah sedikitpun ku rasakan Ridwan mencintaiku. Masih saja ia melamunkanmu. Aku sangat tau Ridwan. Perasaan yang ada di antara kami masih sama seperti dulu. Ranaa, Ridwan juga tidak pernah menyentuhku, ia menjaganya untukmu. Jangan benci Ridwan.
Ranaa, sebentar lagi aku akan pergi, aku meminta padamu, menikahi Ridwan, serta aku titipkan anakku. Temani Ridwan ketika aku pergi, kuatkan dia karena aku yakin dia akan sangat terpukul dan merasa bersalah.
Kamu pasti bertanya kemana aku akan pergi. Ku sertakan hasil pemeriksaan kandunganku. Dokter bilang aku harus menggugurkan kandunganku karena aku menderita tumor rahim dan berbahaya untuk nyawaku. Tapi aku nenyayangi anak ini.
Sudah ya Ranaa, terima kasih.
Wassalamu'alaikum

Siti Fatimatus Zahra

Gadis itu menyeka air matanya. Ia melihat lembar kedua, kemudian memasukan kembali ke amplopnya.
" Mbak, Masyaallah mbak Ranaa kenapa?" Fatih terkejut melihat kakaknya berlinang air mata.
" ngga apa - apa tih. Umi mana?" Ranaa kembali menyeka air matanya.
" Umi di teras mbak" Fatih berlalu dengan perasaan bingung.  Ranaa segera keluar menuju teras. Ia melihat sosok Uminya sedang duduk menghadap jalan. Matanya yang sayu terlihat kosong. Segera Ranaa bersimpuh di pangkuannya dan menceritakan apa yang terjadi .



***
Malam ini Rarah terlihat berbeda. Wajahnya terlihat lebih bersinar. Lagi - lagi ia duduk di depan kaca sambil menyisir rambutnya.
" Gimana
bang wawancaranya?" ia membuka pembicaraan. Pagi ini memang aku baru saja melamar kerja.
" Belum tau Rah, senin baru di telepon" Aku melanjutkan membaca buku. Hening tiba - tiba menyeruak di antara aku dan Rarah.
Usai menyisir rambutnya, Rarah berbaring di sampingku.
Ia
tertidur lelap.
Pagi ini Rarah menyiapkan sarapan untuk kami semua. Berkumpul di sebuah ruang keluarga besar tanpa meja makan seperti dulu.
"Aa..aaduhh" Rarah tiba - tiba mengerang kesakitan. Ia jatuh bersimpuh di dekat meja dapur. Kami semua segera berlari meninggalkan makan pagi kita menuju suara Rarah. Melihat Rarah sudah tak berdaya, kami semua panik lalu membawa Rarah kerumah sakit. Rarah langsung masuk ke UGD dan tidak ada seorangpun yang boleh masuk.
Seorang suster keluar dari ruangan tempat Rarah di rawat. Kami semua mendekati suster itu dan bertanya keadaan Rarah.
" Maaf, siapa yang bernama Khumairra ?" Suster itu mengitarkan pandangannya kepada kami.
" Saya sus, " Uma mendekati suster itu. Tanpa menunggu lama suster langsung memakaikan pakaian steril kepada Uma. Dan membawa Uma masuk kedalam ruangan.
Berjam - jam kami menunggu Rarah dan Uma keluar dari ruangan itu. Berdebar - debar sekali hati kami. Terutama aku, ada perasaan takut dan khawatir yang menyeruak. Pintu kaca terbuka sedikit, kami semua sontak berdiri. Uma keluar, mukanya merah, matanya membengkak berlinangan air mata. Baru beberapa langkah keluar dari ruangan, Uma limbung jatuh di hadapan kami semua. Perasaanku mengisyaratkan hal buruk terjadi. Segera kami berlari menghampiri Uma, ku rengkuh tubuh adik kecilku itu. Badannya terasa begitu dingin. Setelah terlihat tenang, uma memberikan selembar kertas kumal yang sedari tadi di genggamnya. Ku buka kertas itu, air mata tiba - tiba berderai di pipiku tanpa komando.
Nikahi Khairranaa, Maafkan aku

***
Aku menggendong bayi perempuan cantik itu, ku rengkuhnya erat - erat, sejuta perasaan bersalah kepada ibunya, istriku. Hari ini pemakamannya, Istriku, adik angkatku. Kami semua masih menangis, hingga di hadapan pusaranya yang masih basah, aku begitu lemah. Ku kecup kening putriku berkali - kali. Kahlila Azzahira Khadaffi kau begitu mirip dengan ibumu. Semua pelayat sudah pergi, termasuk papaku dan keluargaku. Mereka membiarkan aku sendiri di hukum penyesalan. Aku masih saja memeluki nisannya dan Kahlila. Tiba - tiba seorang perempuan bergamis hitam berjongkok di hadapanku, menaburkan bunga di pusara Rarah lalu mendoakannya. Begitu terkejut ketika ku lihat perempuan itu adalah Ranaa.
"Khairranaa ...?"
"Mas Ridwan, Ranaa siap menjalankan amanah, menjadi ibu dari Kahlila" Aku kembali terkesiap, rupanya Rarah sudah menyiapkan semua ini tanpa ku ketahui. Betapa kejamnya aku sebagai suami

***
" Saya terima nikahnya Khairranaa Fitriyah dengan mas kawin seperangkat alat shalat di bayar tunai"
"SAH ! "
"Alhamdulillah..."
Ku kecup kening Ranaa, kami semua berdoa untuk pernikahan ini dan untuk Rarah. Aku melihat Ranaa istriku menangis tersedu.Rarah, terima kasih, maafkan aku tidak pernah sedetikpun membahagiakanmu. Aku berjanji akan menyayangi Kahlila setulus hatiku.


Tamat




Not allowed copy picture or story from this blog without permission.*clown*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

S.O.S !!!

Begini saja, Aku Pamit !!

Menanggung Pertanggung Jawaban