MENIKMATI KESURAMAN TAK BERUJUNG

Sampai detik ini, aku belum paham dengan jalan pikiranku. Bagaimana bisa aku sesantai ini sedangkan kebutuhan dan keinginan seolah berlarian mengejarku. Tidakkah aku punya harapan ? Harapan ? Pikiranku bias lalu berpendar kemudian lenyap ketika mengingat kata itu. Ku coba menghimpun kembali cita yang dulu terbersit. Nyeri, hati ini bagai tergurat dan berdenyut. Seolah mustahil aku memilikinya.

Masih ku nikmati kesuraman yang abu - abu ujungnya. Masih mampu aku menggaris senyum. Dengan seolah aku tidak apa-apa. Aku memang tidak apa - apa, hanya tangan kananku yang cacat. Bukan masalah besar kata mereka. Memang bukan, karena mereka bukan aku.

Kepalaku masih pening jika kupaksa berfikir akan jadi apa aku selepas ini. Tapi kesuramanku yang nikmat selalu mengaburkanya. Malas terapi, malas berobat, malas beranjak dari tempat tidur malas melakukan perubahan dan usaha, serta berjuta malas lain yang begitu nikmat rasanya.

Suram yang makin pekat dikukuhkan oleh kata - kata aku cacat sekarang dan mau apa lagi ? ini nyatanya mampu menguasai jiwa dan ragaku. Tak lagi ku lihat api semangat di kedua bola mataku dalam bayangan cermin. Tak ada api, tak ada apapun. Kosong dan hening.

Aku mencoba peka, dari mana suram itu berasal. Hatiku kembali berdenyut. Penolakan, pengabaian dan kekecewaanlah penyulutnya. Entah kapan aku bisa memaklumi hal ini. Masih terngiang dalam ingatan, kedua tangan ini masih sempurna. Dan raga ini masih ingin di miliki oleh beberapa orang. Tapi entah kemana mereka sekarang.

Suram kembali menguasai. Aku melamun. Imajinasi ini berlayar entah kemana. Menyita 24 jamku di atas kasur . 180° berubah. 24 jamku beberapa bulan yang lalu tersita pekerjaan hingga kesehatanku terabai. Sepi memang. Tapi entah mengapa begitu nikmat rasanya.

Sekarang ku lihat lagi bayanganku dalam cermin. Sambil merapal kata - kata ajaib berharapkulihat ada api semangat walau sepercik. Namun bocah cacat ini salah duga. Yang ku lihat malah kesuraman yang menari - nari. Merengkuh kedua tanganku menenggelamkan aku dalam buaiannya. Semakin erat kesuraman pekat ini menggenggamku seolah tidak ingin lepas.

Mengajakku lalai lalu hancur melebur bersama masa laluku. Hingga ku temukan orang yang menyeretku keluar dari kenikmatan menuju masa depan yang keras. Orang yang memperbaiki ku tanpa menghiraukan masa laluku.

Tapi sepertinya mereka sudah punah. Hanya menyisakan orang - orang yang bertumpu pada ego. Menebar keangkuhan yang silau. Tak layakkah aku memiliki kesempatan kedua ? pikiranku kembali bias. Ya sudah tidak perlu muluk - muluk. Ku nikmati saja kesuraman ini hingga jenuh. Hingga ujungnya tak lagi jauh. Sampai kapan ? aku belum tahu.*clown*



Not allowed copy picture or story from this blog without permission.*clown*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

S.O.S !!!

Begini saja, Aku Pamit !!

Menanggung Pertanggung Jawaban