Setelah Bapak Pergi
18 Januari 2017
Bapak kami pergi untuk selamanya....
Aku tidak pernah melihat kematian sebelumnya. Hal - hal yang membuat hampir semua orang ketakutan. Tapi setelah hari itu, rasanya mati bukanlah hal yang sulit. Aku menggenggam tanganya ketika mulutnya tersengal - sengal mengucapkan sesuatu yang tak dapat kudengar. Matanya tertutup. Mungkin di saat itulah, ia sedang diperlihatkan kisah hidupnya. Kesempatan terakhirnya meminta ampunan. Aku menggenggam tangan kanannya dengan tangan kiriku. Ku saksikan dengan mata kepalaku beberapa tarikan nafas panjang dan berat. Ku saksikan dengan mata kepalaku, bagaimana akhirnya tubuh itu berhenti bergerak, Aku menangis sejadinya. Jika dapat ku tahan ruhnya agar tidak pergi, agar kembali ketubuhnya yang semakin kurus. Tapi dia milik Tuhan. Aku tidak pantas mencegah Tuhan mengambil kembali milikNya.
Ketika pertama kali mengantarnya ke rumah sakit, Tuhan sebenarnya sudah memberikan firasat pada kami semua. Padaku, hingga aku tidak begitu merasa sedih dan kehilangan. Aku berdoa sepanjang siang dan malam untuk kesembuhannya, dipikiranku. Namun hati kecilku berdoa agar aku mengikhlaskan kepergiannya. Terus berulang seperti itu. Namun aku menyangkalnya. Kami menyangkal firasat - firasat itu dalam hati masing - masing.
Setelah bapak pergi, mendung dilangit kami menghitam. Meskipun tak ada air mata yang tumpah berlarut - larut, aku tau, kami menyimpan pedih di hati masing - masing dan menangis jika ada kesempatan. Semuanya berubah. Hidup tidak begitu menyenangkan. Ibu yang menjadi sangat pemalas dan pemarah. Ia malas melakukan kegiatan sehari - hari. Adik jarang dirumah dan aku menjadi bosan dengan hidupku.
Kebosanan membuatku membayangkan apa yang bapak lihat menjelang kematiannya. Bagaimana aku mati besok?
Aku ingin mati seperti bapak dan nenek. Pergi meninggalkan rasa sakit fisiknya. Aku yakin Tuhan begitu menginginkan mereka kembali. Bapak adalah ayah yang baik meskipun terkadang pemarah. Umat yang rajin mengunjungi rumah Tuhan. Bapak yang akan melakukan apa saja demi kebaikan anak - anaknya. Nenek juga adalah nenek yang baik, meskipun sangat galak tapi beliau tidak pernah membuatku bersedih. Dan bapak adalah anak kesayangan nenek. Kini mereka berkumpul, bapak, nenek, dan kakek. Mereka pasti sangat bahagia. Meninggalkan rindu dihati kami yang kelabu.
Selamat jalan bapak,
Selamat bahagia bapak,
hidup tidak pernah sama tanpa bapak,
kami tidak akan pernah sama tanpa bapak,
biar saja kami begini,
kelak mendung dikepala kami akan mereda,
mungkin saja...
atau mungkin akan ada orang yang memberi kami payunh untuk beteduh.
biar saja kami begini dulu...
dadah bapak...
Aku menyayangimu, tunggu aku menemuimu ...
Komentar
Posting Komentar