Titik - Titik Luka

Dini hari lalu tuan,
Aku bercakap pada sebongkah rindu yang mulai beku.
Ia berkisah bahwa tuan ini lah yang andil mendinginkannya.

Mungkin sikap tuanlah...
Aku iba tuan, rindu ini terus merengek minta kembali.
Namun ia terlalu rapuh untuk mendobrak masuk kedalam rumahnya yang hendak tuan kunci.

Salah apa dia tuan ?
Sehingga tuan mendesaknya keluar ?
Sudahkah dia tak menarik ?

Parasnya biasa saja ?

Ibarat periuk tuan, paras hanya luarnya...
Tak menarik mungkin karena tuan sudah kosongkan isinya.
Hingga tak lagi ada yang menggelitik penasaran tuan kembali.

Tidak takutkah ?
Periuk pecah atau dicuri rindu lain yang gelandangan.
Dijadikannya tempat bernaung bahkan pulang.

Tuan, rindu itu memang tak sehangat dulu.
Cobalah tuan tengok lebih dekat agar tuan lihat sebabnya.

Titik - titik luka itu menjamur melubangi rindu.
Dijadikannya sedemikian rapuh.

Rindu tak pernah segelisah ini,
Sebelum ketidakyakinan tuan menjelma jarum - jarum kecil yang sibuk menusukinya.

Ketidakyakinan tuan yang dingin...
Lalu untuk apa sepasang jarum jam kita putar bersama jika akhirnya tuan memilih untuk tetap tidak yakin ?

Panggil rindumu tuan, sebelum ia habis mengempis...
Lalu tak tersisa apapun untuk tuan sesalkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

S.O.S !!!

Begini saja, Aku Pamit !!

Menanggung Pertanggung Jawaban