Prolog

Kepada Tuan Tampan,
Pemilik janji temu malam itu pukul tujuh

Hai,
Tuan yang kini kau ijinkan aku menyandingmu. Aku tak pernah lupa dengan janji temu malam itu. Janji yang sebenarnya ragu. Kemudian kita berhadapan bergelimang malu. Psssttt... aku suka padamu. Bisik nuraniku ketika melihat tawa pertamamu.

Tuan yang tak pernah ada kata cinta seperti romansa pada umumnya. Yang tak pernah semata bilang aku cantik tanpa embel - embel kritik, terima kasih untuk jatuh cinta uniknya. Membuatku tak pernah bosan menerka apa cerita selanjutnya.

Tuan prolog yang membuka hidup baruku, terima kasih untuk segelas hazellnut latte dinginnya. Yang akhirnya membawa kita ke halaman berikutnya. Terima kasih untuk tawa renyahnya. Terima kasih untuk menghangatkan jumpa pertama.

Sekarang bersamamu, janji temu tak lagi pukul tujuh. Kapanpun aku mau, tuan hadir menggantikan mentariku. Sekarang bersamamu, jumpa pertama adalah saat membuka mata, dan rindu terus menggoda saat malam mengganti senja.

Tuan pemilik janji temu malam itu pukul tujuh, berkaus hitam bercelana abu, yang bilang jariku bulat tapi lucu, pemilik hatiku, terima kasih untuk jatuh cinta setiap hari sejak saat itu. Bagiku, mengulang kisah temu malam itu, tak pernah mengenal kata jemu.

Dariku,
Perempuan berbaju biru,
yang kau bilang "aku kira kamu ngga segendut itu"
Tapi kau minta menemani hidupmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

S.O.S !!!

Begini saja, Aku Pamit !!

Menanggung Pertanggung Jawaban