Aku Rindu Dia
Rindu tuan itu.
Yang duduk di hadapanku sembari sesekali menyesap segelas kopi dingin.
Yang bilang jariku gendut.
Tapi memainkannya.
Lalu mengambil foto diam - diam.
Tuan yang itu.
Yang di sudut ruangan kedai kopi.
Malam selasa.
Tanggal sebelas kira - kira.
Yang bilang, dia kira aku tidak segendut ini.
Tapi memintaku jadi pacarnya.
Tuan yang hari pertama jadian,
Bilang perutku bertingkat kaya kontrakan.
Tapi juga bilang rindunya tak bisa ditunda.
Mungkin waktu itu dia sepi.
Lukanya minta di obati.
Tuan yang itu sudah ramai.
Lukanya sembuh.
Larinya kencang.
Tidak menoleh.
Hanya memanggil.
Berbeda.
Dulu menghampiri.
Aku diam.
Bingung.
Kesal.
Tapi cinta.
Tapi rindu.
Semua perkara waktu.
Bisa saja satu tambah satu jadi tujuh.
Dua tambah dua jadi seribu.
Atau nol ?
Seperti sepiku.
Kosong,
Berlubang,
Bau,
Dan pilu

Komentar
Posting Komentar