Second Life

Mungkin aku adalah orang yang paling beruntung di seluruh muka bumi. Dan mungkin seharusnya aku menghabiskan lebih banyak waktu untuk berterima kasih pada Tuhan. Sejak aku memutuskan keluar dari zona nyamanku, dan memutuskan untuk menemukan tantangan baru, kebaikan sepersatu datang menghampiri.

Setelah kecelakaan waktu itu, ku anggap diriku yang dulu telah mati. Diriku yang penggerutu, yang angkuh, yang malas dan yang tidak pernah merasa cukup. Resap kedalam tanah bersama setiap tetes darah yang tumpah dari tubuhku. Larut disapu hujan dan kering diterpa surya. Kemudian Tuhan menghidupkanku kembali. Dengan sebuah garis nasib yang baru. Diriku yang baru sempat terpuruk begitu lama. 1,5 tahun aku mencoba menyesuaikan diri, dengan apa yang ada menjadi tiada, lalu apa yang punya menjadi tak punya, apa yang leluasa menjadi begitu terbatas. Kecewa. Hanya perasaan itu yang menyergap dan membungkam hati.

Sulit, sakit, pahit. Kemudian aku hanyut dalam keterpurukan. Hingga pada suatu waktu, aku bertanya pada diriku sendiri. Beginikah akhir hidupku ? menjadi jomlo dan pengangguran ? Menjadi beban keluarga sepanjang sisa usia, menjadi manusia yang paling tidak bahagia di dunia ? Lalu, suara dalam hati kecil memekik begitu keras memecah riuhnya pertanyaan - pertanyaan yang mmenggema dalam kepala. Tidak Vina, bukan begini akhirnya, kamu masih bisa bahagia. Kamu masih layak menikmati hidupmu. Jangan biarkan keadaan menelanmu. Ujarnya.

Perlahan bermodal iseng, aku membuktikan pada diriku, apakah aku masih layak untuk di cintai. Aku mendownload aplikasi chatting W* C**t  lalu mencari teman dengan salah satu fiturnya. Ku pajang foto terbaik dengan tak lupa ku sertakan foto yang menampakkan kekuranganku. Ternyata, masih banyak pria baik di kotaku yang tidak hanya memandang rupa. Ku temukan beberapa. Hingga hatiku berlabuh pada satu nama. Semangat dan percaya diriku kembali perlahan. 

Kemudian aku mulai mensyukuri apa yang masih aku miliki, merendahkan ego karena tak lagi ada yang bisa ku sombongkan. Semua begitu mudah karena dia membantuku menemukan kelebihanku yang lain. Agar tak lagi ku ratapi kekurangan yang ternyata hanya secuil. Berkatnya pula, aku memberanikan diri untuk kembali terjun ke dunia kerja. Ku buktikan pada siapapun bahwa kemampuanku tidak terbatas oleh kekuranganku. Kemudian aku menemukan pekerjaan yang baik.

Semua yang hilang sudah di ganti oleh Tuhan, kekasih yang lebih baik, hidup yang lebih baik, pekerjaan yang lebih baik. Serta sudah di perbaiki pula apa - apa yang salah dalam hidupku. Sikapku, prinsipku, dan keyakinanku. Kini aku percaya, bahwa tiada suatu yang di ambil melainkan untuk di gantikan. 

Untuk yang sedang mengalami hal yang sama, mungkin kalian perlu melihat kedalam diri kalian. Temukan jutaan kelebihan kalian, percayai bahwa diri kalian unik dan istimewa. Yakini bahwa, Bahagia itu diciptakan bukan dipicu atau dicari.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

S.O.S !!!

Begini saja, Aku Pamit !!

Menanggung Pertanggung Jawaban