Terima Kasih
"Kalo sama aku jaketnya di buka aja, ya ?"
"Aku... Aku ngga biasa"
"Biasain..."
Aku merasa sudah gila. Setelah kecelakaan, aku belum pernah membuka jaketku di hadapan orang asing. Dia orang asing saat itu. Aku baru mengenalnya beberapa hari. Dan kemudian begitu saja memutuskan Jadian tanpa proses penjajakan. Aku gila. Ya aku sudah gila.
Bagiku, pertemuan pertama kami cukup untuk membuat sebuah keputusan. Entah baginya. Yang jelas, sepanjang pembicaraan aku terus memandangi senyumnya. Dan beberapa kali aku di buat salah tingkah. Saat itu aku bisa menutupinya. Semoga dia tidak menyadari. Kemudian akhir dari pertemuan kami malam itu adalah, dia menyatakan cintanya padaku.
Dia yang gila sepertinya. Menyatakan cinta pada perempuan dengan sejuta kekurangan sepertiku. Tanpa proses pendekatan. Secepat dan segila itu. Pria bersenyum manis itu menyatakan cinta padaku. Bagaimana bisa ku sia - siakan kesempatan ?
Semua menjadi seperti mimpi. Saat sendiri aku memandangi bekas - bekas luka yang lebar dan mengerikan di tangan dan paha kananku. Pria semanis itu, jatuh cinta padaku ? Hampir gila rasanya jika mengingat sampai detik ini, otakku hanya dapat memikirkan pujian apa yang bisa membuat perasaan yang meletup - letup ini mencapai orgasmenya.
Pujian itu mengalir keluar begitu saja dari mulutku, namun tak juga dapat menuntaskan perasaanku. Setiap melihat senyumnya aku seperti sedang jatuh cinta berulang - ulang. Aku pasti sudah gila.
Pria manis yang menerimaku dengan segala kekurangan yang ku sandang itu adalah hadiah. Tuhan tau aku sedang membutuhkannya, untuk berada di sampingku sekedar mendengar keluh kesah atau menemaniku mentertawakan hidup.
Mungkin aku akan benar gila jika akhirnya dia sadar kemudian beranjak meninggalkan aku. Tanganku akan lelah menghapus postingan - postingan puisi dan sajak tentangnya.
Orang asing itu menempati seluruh ruang di hati sehingga tak lagi tersisa untuk orang asing lain. Pria asing bersenyum manis yang gila itu milikku. Benar begitu kan Tuhan? Ku mohon jangan lagi - lagi kau candai hidupku, Tuhan! Cukup! Biarkan dia terus di sampingku. Hingga habis waktu kami, dan biarkan malaikat mautmu yang mengucapkan selamat tinggal ketika menjemput salah satu diantara kami.
Entah kalimat apa lagi yang bisa ku ucapkan untuk melukis betapa jatuh cintanya aku pada pria itu. Entah berapa lama peluk untuk melepaskan kasihku. Entah berapa juta tetes air mata untuk menggurai rinduku.
Entah berapa doa dan syukur harus ku rapalkan pada Tuhan. Tuhan, aku bersyukur memilikinya. Aku merasa beruntung. Terima Kasih.
Sekarang di hadapnya, tak lagi ku tutupi kekuranganku. Tak lagi ku tangisi kesedihanku. Tak lagi ku ratapi kekecewaanku. Di hadapannya, aku kuat. Menghadapi dunia yang kejam ini, aku berani.
Pria bersenyum manis, berpeluk hangat, terima kasih sejauh ini menemaniku.
Semarang, 07 Juli 2015
Komentar
Posting Komentar