Ramalan Ampas Kopi
Pagi ini kembali ku seduh secangkir kopi hitam pekat dan panas. Kira - kira perbandingannya 3 : 2. Ku hirup aromanya. Kebiasaan baru sebab seseorang. Seseorang yang membuatku duduk berjam - jam di ruang tamu, melingkari beberapa iklan lowongan pekerjaan. Seseorang yang mengembalikan semangat hidupku.
Setelah kopi menghangat, ku sesap perlahan rasa manis pahitnya. Seperti hidup ini, yang tak melulu manis sesuka hati. Pahitnya pun harus di kecap untuk kemudian mendapatkan rasa akhir, asam di lidah. Asam..... Salah satu rasa favoritku selain pedas. Asam, yang menjadikan hidupku begitu unik. Lain dari yang kebanyakan. Segala asa yang telah kering mulai kembali basah.
Di temani playlist lagu kesukaan aku merenungkan banyak hal. Kamu, juga cita - citaku yang sempat terabai. Dulu aku ingin menjadi banyak hal. Penulis, designer, ilustrator, chef, perawat, dan banyak. Namun setelah dewasa, cita - cita itu mengkerucut menjadi satu. Apa saja yang membahagiakan orang lain. Ku sesap lagi, kopiku tinggal setengah.
Aku melamun lagi, ternyata banyak lagu yang ku download karenamu, termasuk Edge Of Desire. Hatiku malu - malu jadinya. Sekarang aku melamunimu sembari melakukan latihan tangan agar lekas pulih. Aku ingat katamu bahwa cinta tak seperayu itu. Oke jika kau tak lakukan, aku yang akan menyanyikan Edge Of Desire untukmu. Tapi tunggu aku belajar memetik gitar ya ? Ku sesap lagi. Tinggal seperempat gelas.
Ku sesap sampai tinggal ampasnya. Ku sandarkan tubuh dan kepala di sofa ruang tamu. Ku amati sisa ampas kopi yang mengendap di dasar cangkir. Aku tergelitik. Kemudian aku browsing ramalan ampas kopi untuk membaca masa depanku.
Ku baca dan ku cari - cari bentuk yang serupa dengan ampas kopi di cangkirku. Tapi tak ada. Aturannya, kopi yang di seduh sebanyak 1 sendok teh, kemudian di minum. Lalu setelah habis di tambahkan satu sendok lagi kemudian di aduk. Sedangkan aku, sekali seduh sudah 3 sendok teh. Jadilah ampas kopinya terlalu tebal. Hahaha ....
Ya sudah lah, biar saja masa depanku itu jadi kejutan. Jalani saja seperti biasanya, tak perduli ramalan ampas kopi dan ampas - ampas lain berkata apa.
Nikmati saja kopinya, jangan pikirkan ampasnya.
Komentar
Posting Komentar