MENIKMATI
Sepulang dari menengok kawan yang terluka kena bacok, aku pulang di bonceng seorang kawan lainnya. Jangan heran, kawanku banyak dan baik - baik. Dan kebanyakan cowok. Aku jomblo paling senang sepertinya.
Di guyur hujan dan di cambuki angin dingin perut kami riuh bernyanyi. Sepanjang perjalanan mulut kami tak lantas diam. Dia banyak bercerita tentang pacarnya dan aku bercerita tentang kejombloanku yang sejatinya dia sudah paham betul apa yg ingin ku ceritakan. Hatiku perlahan membusuk.
"Pacarku senengnya curigaan, padahal mau aku kenalin sama temen - temen cewekku tapi dia ngga mau. Malah ngambek aku di diemin" celotehnya di tengah - tengah hujan. Aku terkekeh kecil. Begitu paham dengan sifat wanita yang seperti itu. Wanita memang begitu. " Biarin lah di nikmati aja. Aku dulu lama jomblo ngga ada yang giniin. Sekarang ada yg giniin. Rasanya beda, tapi di nikmatin aja lah" sanggahnya sendiri kemudian. Aku hanya mengamini.
Namun dalam otak bergerak - gerak mencari maksud kata menikmati barusan. Menikmati, meskipun tahu kita tak nyaman tapi kita harus menikmati. Menikmati, walau bisa di bicarakan dengan baik tapi kita tetap diam dan harus menikmati. Menikmati, meskipun bisa di perbaiki, tapi kita tetap bertahan dan menikmati. Kenapa kata menikmati dalam otakku seolah menggambarkan ketersiksaan namun tak dapat berbuat apa - apa untuk mengubah ?
Laju kendaraan terhenti di sebuah warung bakso di dekat rumahku. Kami mampir karena lapar sudah menguasai raga. Satu porsi mie ayam bakso, satu porsi bakso mie kuning, satu gelas teh panas tawar dan satu gelas es teh. Kami melanjutkan pembicaraan seputar menikmati cinta tadi, di warung bakso ini.
"Tapi aku takut, kalo dia terlalu nurut mamanya, nanti mamanya nyuruh jangan mau kalah sama cowok" katanya. Sorot matanya berpendar menatapku. Nada bicaranya berat dan serius. Kemudian aku berpikir dengan gayaku yang sok santai. "Ya kamu harus tegas dong, meskipun kamu ngalah tapi kamu harus punya prinsip" begitu kira - kira nasehatku malam itu. Aku menjawab cukup serius. Agar dia kelak tak jadi penikmat yang salah jalan. Menikmati ketersiksaan karena di curigai habis - habisan.
Selesai makan, dia mengantarku pulang. Sepeninggalnya aku terus terngiang ceritanya tadi. Bagiku, perempuan tak seharusnya begitu. Perempuannya seharusnya mengingat, siapa - siapa yang menemani kekasihnya dulu semasa jomblo. Dan bukankah sebuah hubungan itu di dasari kepercayaan ?
Entahlah.... Di nikmati saja.....
Komentar
Posting Komentar