Kita


Halo,

Hari ini surya sedang angkuh - angkuhnya. Menjadikan siangku begitu terik. Di temani tiup angin yang sekelebat menyapa tubuhku, aku kembali duduk di atas atap. Di payungi langit yang biru keemasan. Aku tak peduli kulit ini akan menghitam. Karena yang ku rasakan di sinilah tempat paling nyaman untuk memikirkanmu.

Dari atas sini, ku pandangi burung - burung gereja yang saling berkejaran. Seolah ingin menunjukkan padaku kebahagiaan yang mereka miliki. Ah ... Sial. Sekarang ranting - ranting pohon pun saling beradu. Seperti sedang berbisik menanyakan adakah kamu yang juga dia, dan aku dapat menjadi kita ?

Kita ? Sebuah kata yang tak pernah terlintas dalam kepala. Angin kering tiba - tiba saja melintas. Mencekat tenggorokanku dan menjadikannya dahaga. Pikiran tentang kita yang bagiku tak akan terjadi itu, memaksaku beranjak dari sini. Tapi hati ini terus bertanya. Segumpal awan datang untuk meneduhkan. Seolah menginginkanku tetap tinggal. Hening menyelimuti. Aku hanyut kembali dalam lamunan.

Seperti semesta ini, yang hanya bisa ku pandangi sampai puas, tanpa bisa ku rengkuh dan ku cegah berganti waktu. Tak apa jika kita itu tak pernah ada. Berbaring di atas atap sambil membayangkanmu pun aku sudah puas. Membebaskan imajinasiku tentangmu tanpa pernah berharap. Biarlah kita ini hanya ada dalam kepalaku. Tanpa perlu kau juga dia tahu. Akan terus ku lakukan meski langit berganti warna. Akan terus ku bayangkan, sampai kepala ini kehilangan kewarasannya. Karena aku tak pernah ingin memaksa menjadikanmu kita. Tapi, jika akhirnya kamu menyadari ini, dan membawaku menjadi kita, aku adalah wanita paling bahagia di semesta.

Cukup ya, ini surat terakhir untukmu. Selanjutnya masih ku tulis dalam diary. Yang mungkin ketika kamu baca akan membuatmu geli karena ada ratusan namamu tertulis di sana.

Terima Kasih

Dariku,

Komentar

Postingan populer dari blog ini

S.O.S !!!

Begini saja, Aku Pamit !!

Menanggung Pertanggung Jawaban