Kamu
Halo,
Senja sudah menghitam. Kelelawar bermain - main di pepohonan. Berceloteh dan tertawa. Mengalunkan suara alam yang menenangkan. Sejenak mata ku pejam sembari menyesap aroma tanah basah karena hujan sore tadi
Di sini, di atas atap rumahku, beralaskan genting oranye yang kecoklatan karena lapuk. Serta sejuk angin dingin penghujung hari ini yang di bumbui wangi khas lumut setelah hujan. Paru - paru ini di manjakannya. Aku mengingatmu.
Bersama derak derik kaki - kaki jangkrik yang beradu, aku menenggelamkan diri kedalam imajinasiku yang berlarian. Lalu bulan perbani membaca hatiku. Kamu adalah dia. Yang indahmu sanggup di sandingkan dengan kelip bintang malam ini. Dia yang membuatku memancarkan rona merah di wajah.
Aku yakin kopi iri padamu, karena kalimatmu mampu membuatku terjaga selarut ini. Tapi semesta akan sangat menyukaimu. Sebab kamu yang membuatku menemaninya menghabiskan hari. Kamu seindah ini. Seindah malam yang selalu ku cumbui sendiri. Kamu adalah dia, yang membuat bintang - bintang malu karena tak lebih terang cahayanya.
selalu saja dia...
Baiklah, sudah ya ....
Cukup begitu hari ini. Sisannya akan ku tulis di buku diary. Akan ku pinjamkan kelak ketika kamu sudah menyadari siapa dia.
Terima kasih
Dariku yang menggenggam pena
Komentar
Posting Komentar