Dia
Halo Lagi,
Masih terlalu dini untukku menyapa sang mentari yang baru bangkit dari pembaringannya. Cahayanya masih sayup - sayup. Embun - embun berjatuhan bagai kristal yang turun dari langit. Kemilauan.
Tapi sepagi ini aku sudah duduk di atas atap lagi. Menghirup jutaan kubik oksigen sebagai temanku memikirkan dia. Aku bertahan, tubuhku yang ku rebahkan ini sedang mengalirkan energi senang meskipun angin dingin menusuk - nusuk.
Dia seindah ini. Seperti dedaunan yang sedang segar - segarnya. Seperti langit biru dengan awan - awan pucat yang menggantung, dan semburat oranye di ufuk timur. Dialah anugerah sesungguhnya.
Aku harus tunduk pada semesta yang menciptakan kedahsyatan pagi ini. Juga yang menciptakan dia. Yang hanya dengan memikirkannya saja aku di buat kehilangan gravitasi. Tubuhku ringan, melayang hanyut bersama sang bayu. Berharap di terbangkan kepadanya, lalu dapat mengetuk hatinya. Agar dia tahu, bahwa dia itu kamu.
Masih saja kamu...
Sekian saja. Aku masih menulis sisanya di buku diary. Dan aku masih ingat janjiku untuk meminjamkannya.
Terima kasih
Dariku yang masih menggenggam pena
Komentar
Posting Komentar