Consistency In Life

Cuaca Semarang Maret ini sedang entah - entahnya, langit sedang pilu untungnya hatiku tidak. *aku bohong*. Sembari tertelungkup di atas kasur, bertemankan tissue yang sebagiannya sudah berserakan ternodai ingus, aku melakukan rutinitasku mengecheck Timeline Twitter di setiap menitnya. Aku kurang kerjaan ? Memang hahahaha.

Hari ini Senin, 16 Maret 2015. Hari dimana recent update di penuhi dengan kalimat I Hate Monday, atau MONDAY = MONster DAY atau habis Minggu terbit lah Senin dan lain - lain yang sejujurnya malah ku rindukan kesibukannya. Maklum sudah 16 bulan aku menganggur. Kenapa aku menganggur ? Email dong ..... Hahahaha.

Jadi begini, ketika sedang mencermati isi timeline hari ini, aku menemukan twit mas Alitt @shitlicious yang sedang mewawancarai mbak @dijahyellow mengenai bukunya yang berjudul "Rembulan Love" yang rencananya akan di post di majalahnya nyunyu.com . Membaca semua perdebatan mas Alitt dengan beberapa orang yang pro dan kontra dengan ide ini, hatiku tertepuk, begitu rasionalnya cara mas Alitt menjawab pertanyaan dan pernyataan yang di layangkan oleh followersnya..

Baginya, bakat bisa di kalahkan dengan niat. Okey, lantas tiba - tiba sebuah kalimat milik @MungareMike melayang di dalam kepala. "Talent without consistency, persistent, and resistant is bullshit". Kemudian aku sadar beberapa tulisan yang tidak selesai bukan karena aku tidak berbakat, tapi karena kurang niat.

Jadi kalau di pikir aku masih belum ada apa - apanya di bandingkan dengan mbak dijah yang besar sekali konsistensinya mampu menyelesaikan novelnya dalam waktu 9 sampai 10 hari. Tapi kadang kita masih menghakimi isi karya seseorang dari kualitas manusianya. Padahal karya yang baik menurutku adalah karya yang di hasilkan berdasarkan ketekunan hati.

Maka kerdillah kita manusia yang menghakimi karya dari mapannya ilmu pengetahuan bukan dari niat dan usaha. Meskipun kadang tak dapat di pungkiri, sengaja atau tidak dalam hati kita sering mencibir karya orang lain. Yang pada akhirnya malah menunjukan bahwa kita malah tak lebih baik darinya.

Konsistensi memang di butuhkan dalam segala aspek kehidupan. Bukan hanya tentang karya. Pun pekerjaan dan cinta. Mungkin konsistensi juga lah yang menjadi salah satu faktor terjadinya fenomena sarjana pengangguran. Menyadari hal ini aku mulai memupuk konsistensi sedikit demi sedikit agar dapat meraih keberhasilan dalam hidup. Dan mungkin suatu saat dapat menelurkan karya nyata seperti mbak dijah ini. Amin.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

S.O.S !!!

Begini saja, Aku Pamit !!

Menanggung Pertanggung Jawaban