DESTINY
" Kau, kau pernahkah merasakan cinta?" Sebenarnya itu adalah pertanyaan yang cukup wajar. Tapi ini jadi sangat mengherankan ketika yang bertanya padaku adalah gadis kecil berusia 9 tahun. Dengan gaun putih lusuh dan kecoklatan sembari memeluk boneka anak perempuan yang berambut sama panjang dengannya. Berdiri anggun, penuh kepercayaan diri, dan tegas, membuatku terpaku sejenak. Aku menghela napas. Menggeleng sambil tersenyum ke arahnya.
" Lalu kau bisa jelaskan padaku, apa itu cinta" Jawabku. Aku penasaran apa yang akan keluar dari bibir mungilnya. Dia mengulurkan tangannya, mengajakku bersalaman. Ku raih tangan kecilnya, dan ia kembali membuatku terkejut. Genggaman tangannya kuat dan mantap. Penuh keyakinan, ketika anak seusianya seharusnya malu - malu dan tertutup pada orang lain. Gadis itu terkekeh kecil.
" Aku Casey" Ucapnya sembari menatap mataku. Mata kecilnya berbinar tajam. Jantungku berdenyut.Aku gugup di buatnya.
" Aa... aku... Ed..." jawabku terbata. Ia melepaskan tanganku lalu duduk di sampingku, dengan tegak dan anggun, pergelangan kakinya bertautan. Benar - benar memiliki perilaku yang mengesankan. Matanya memandang langit - langit halte.
" Kau ini, sudah tahu tidak pandai berbohong, masih saja memaksa. Dari tadi aku melihatmu mengejar kekasihmu sampai kesini, berteriak - teriak mengatakan kau masih cinta, lalu mencoba memukuli orang yang di gandeng oleh gadismu. Naif sekali" Gumamnya. Kepalanya mendongak. Bintang bertaburan di atas langit. Hanya ada kami berdua di halte itu. Cinta, kekasih, naif, kata - kata itu keluar dari bibirnya. Aku melihatnya begitu dewasa. Jantungku kembali berdenyut.
" Kau... kata - katamu... apa maksudnya. Kau sedikit menakutiku" Gumamku. Udara disini cukup dingin. Mulut kami mengeluarkan asap ketika berbicara.
" Dengar Ed... ah... bolehkah aku memanggilmu begitu?" ia menatapku. Aku spontan mengangguk, kemudian ia tersenyum. " Berapa usiamu ?" Ia bertanya lagi, tapi kali ini tidak menatapku.
" Dua puluh" Jawabku lirih. Aku melihatnya tersenyum dari sudut mataku.
" Aku yakin kau sudah bisa menebak berapa usiaku" Balasnya. " Ed, yang ku lihat, kau tidak benar - benar mencintainya... gadis itu... kurasa kau hanya ingin memilikinya" Matanya menerawang jauh.
" Aku mencintainya... sungguh"
" Melihatnya begitu, apa karena dia cantik ? tidak apa - apa kah kalau dia tidak bahagia bersamamu ? Melihatnya muram setiap hari, kau sanggup?" Ia memojokkanku. Aku mulai merasa kesal, aku digurui oleh gadis kecil ingusan.
" Sebenarnya, apa maksudmu ? pergilah kalau kau hanya ingin mengolok - olokku ! aku sedang ingin sendiri !" Bentakku. Tak sedikitpun ia terkejut atau ciut. Perangainya masih sangat berwibawa.
" Aku pergi ketika Jessy mengusirku, ia berkata, aku akan sangat mengganggu hubungannya dengan kekasih barunya. Katanya, jika aku mencintainya aku harus pergi untuk melihatnya bahagia. Meskipun aku tidak punya tujuan, aku melangkah pergi" Kali ini ia menghela napas panjang dan berat. Senyum di bibirnya tak bisa menyembunyikan keseriusannya. Aku sedikit tertarik dengan ceritanya.
" Siapa Jessy ?" Tanyaku.
" Ibuku"
" Ibumu ? ia mengusirmu ? kenapa kau tidak datang saja kerumah ayahmu ? daripada berkeliaran di malam hari ?" Kata - kata itu spontan mengalir dari mulutku. Rasanya seperti aku sedang mengobrol dengan teman sebayaku.
" Aku tidak tahu, siapa dan dimana ayahku. Jessy tidak mau menceritakan padaku"
" Kau ... memanggilnya Jessy..."
" Ia tidak mengijinkanku memanggilnya ibu. Bahkan aku baru tahu kalau dia ibuku saat aku berusia 6 tahun" Aku tertegun. Tenggorokan ini tercekat. Ia begitu tenang membicarakan penderitaannya. Bahkan orang dewasapun akan menangis tersedu - sedu jika mengalami penderitaan yang sama. Aku tertarik padanya. Ku condongkan tubuhku untuk mendengar lebih jelas setiap kata yang ia ucapkan.
" Cinta itu pedih Ed, kau tahu itu, butuh banyak sekali pengorbanan, terkadang kita harus menunggu sangat lama, meskipun kita tidak tahu apa yang sedang kita tunggu. Merelakan sesuatu, yang tidak bisa kita miliki, melepaskan sesuatu yang kita genggam, Itu cinta menurutku, mungkin kau sedikit terkejut mendengar anak seusiaku berbicara seperti ini" Dengan anggun ia menoleh ke arahku lalu tersenyum seolah meminta pendapatku.
" Iya... kau benar, aku sangat terkejut dan... takut. Kata - katamu itu... dari mana kau dapat ?"
" Dua tahun aku hidup liar, tidur di kotak telepon, melihat dan mendengar orang berlalu lalang, berpindah - pindah tempat, hanya agar aku dapat melihat Jessy dari kejauhan, meskipun terkadang merasa sakit ketika melihat Jessy bermain dengan anak dan suaminya di taman. Tapi aku lega melihatnya baik - baik saja dan bahagia" Celotehnya. Ia terdiam sejenak. " Dari setiap kaki - kaki kecilku melangkah, aku mendapat banyak pelajaran tentang hidup, cinta, dan kebahagiaan" Lanjutnya.
" Dua tahun ? lalu, bagai mana kau makan ? " Aku heran. Aku memicingkan mata padanya. Ia kembali terkekeh kecil.
" Di sini banyak orang - orang baik Ed, masih banyak cinta untukku, aku mendapat sarapan pagiku di toko kue Toasty, makan siang di Kedai kopi The Cup, dan makan malam di Toko Pizza Delicia, para pemiliknya sangat ramah, terkadang aku membantu pekerjaan - pekerjaan mereka. Dan... oh ya, setiap seminggu, ada petugas dari rumah veteran mencariku untuk memberiku pakaian" Senyum penuh optimisme terkembang dari bibirnya.
" Menarik ..." Aku mengangguk pelan.
" Terus berdiam di sini hanya akan membuatmu kedinginan. Pikirkan perkataanku Ed" Gadis itu beranjak dari sampingku. Aku terhenyak, seolah tidak rela kehilangannya.
" Kau mau kemana?"
" Aku harus pergi Ed, di sini dingin, mungkin aku akan pergi ke taman kota, ada rumah pohon di sana. Senang bisa berbicara denganmu, butuh waktu yang lama untuk aku melakukannya." Kakinya mulai melangkah. Aku berusaha sekuat tenaga menahannya.
" Casey, kau bisa tinggal bersamaku, aku hidup sendirian, aku menyewa sebuah rumah di dekat universitasku. Aku pekerja paruh waktu, aku bisa memberimu makan dan pakaian" Gadis itu membalikkan tubuhnya, ku lihat senyumnya sangat lebar.
" Selain naif kau juga gila Ed, Kau laki - laki dan aku perempuan. Bagaimana bisa kita tinggal serumah?" Jawabnya. Aku semakin heran di buatnya.
" Baiklah, boleh aku memotretmu, agar aku lebih mudah mencarimu esok" Pintaku sambil merogoh saku celanaku.
" Kau akan langsung mengenaliku ketika nanti kita bertemu. Sudah ya ? aku pergi" Ucapnya, kemudian ia berlari kecil menjauh dariku. Aku memutuskan pulang, sepanjang perjalanan dan setelah aku membaringkan tubuhku di kasurku yang hangat, aku terus memikirkan kata - katanya. Sulit sekali melupakan wajahnya. Akhirnya aku tertidur karena kelelahan.
Dua belas tahun berlalu, sejak malam itu aku terus mencarinya kemana - mana, tapi tidak ku temukan, dua tahun lamanya hingga akhirnya aku putus asa dan menyerah mencari gadis itu. Namun kata - kata dan wajahnya masih selalu jelas terbayang.
Sekarang aku adalah seorang pengusaha sukses, memiliki apartemen, dan mobil mewah. Namun tidak sekalipun kisah cintaku bertahan lama. Seperti saat ini, aku dan kekasihku Maria sedang bertengkar, Maria tiba - tiba datang ke kantorku dan meminta untuk memutuskan hubungan kami. Aku merasa tidak terima karena sangat tiba - tiba. Kami berteriak satu sama lain.
" Sudah lah Ed, tidak semua yang kau beli dengan uangmu itu membuatku bahagia ! jangan berusaha membuatku tetap di sisimu dengan cara seperti itu ! aku bosan Ed, setiap aku menelfonmu sekertarismu yang menjawab ! apa kau tidak punya mulut untuk berbicara padaku sendiri ?" Teriak Maria. Otot - otot di lehernya menyembul keluar.
" Apa lagi yang kau mau Maria ! aku sibuk ! tak banyak waktu yang tersisa ! terima saja lah ! ini juga demi kebaikanmu saat kita menikah nanti" Jawabku tak kalah berteriak.
" Menurutmu, aku akan menikahi orang yang hanya untuk berbicara padanya saja, aku harus membuat janji terlebih dahulu ? kau harusnya tahu Ed, kalau kau tidak punya banyak waktu, sebaiknya kau tidak berkencan dengan siapapun ! Sudah lah, lupakan saja" Nada bicaranya menurun, ia beranjak meninggalkanku. Aku mengejarnya. Langkahnya begitu cepat. Sampai di halte, ku lihat Maria sudah mendapatkan taksi. Taksi itu melesat cepat meninggalkanku yang tergopoh - gopoh. Aku sedang mengatur napasku ketika hujan tiba - tiba turun. Aku berlari ke halte dan berlindung di bawah atapnya. Aku duduk, kemudian teringat kejadian dua belas tahun silam, ketika Casey tiba - tiba berada di sampingku.
Aku menghela napas, memikirkan bagaimana kabar Casey sekarang. Kemudian seorang wanita muda yang juga hendak berteduh duduk di sisi kiri bangku halte, sebagian tubuhnya basah. Setelan jas dan roknya yang begitu bagus, membuatku langsung menyimpulkan jika ia seorang yang kaya. Dengan anggun ia merapikan rambut dan bajunya. Merasa sedang di perhatikan, ia menoleh ke arahku lalu tersenyum.
Jantungku berdegup kencang, senyum itu. Pikiranku terus berputar, mencari - cari siapa pemilik senyum yang sangat ku kenali, aku terdiam, wanita itu terus memandangiku. Aku menemukan pemilik senyum yang mirip dengan senyum yang kulihat saat ini. Aku mengamati wajahnya untuk meyakinkan diri bahwa itu tidak mungkin. Gadis itu kembali tersenyum.
" Iya Ed, kau benar, ini aku" Ucapnya, bibirku terbuka, masih sangat tidak percaya aku mendekatinya.
" Ca... Casey ? kau kah itu?" Aku terbata, ketika ku dekati wajahnya tampak sangat cantik, rambut panjang, bibir yang mungil, sorot mata tajam, dan suara yang tegas. Aku kembali menepisnya. Tidak mungkin itu Casey.
" Kau seperti melihat hantu, Iya ini aku, duduklah" Ujarnya sambil menepuk - nepuk bangku di sebelahnya. Aku mengikuti kata - katanya, aku duduk.
" Aku mencarimu..." Gumamku lirih, aku tidak melihatnya, mataku asik memandangi jalan raya sore itu.
" Aku tahu..." Ia mendengus. Beberapa saat kami hanya terdiam.
" Pertama aku melihatmu dua belas tahun yang lalu, kau keluar dari rumahmu, kau begitu tampan, harum, acuh, dan telingamu selalu tertempel Earphone, aku tau kau akan pergi kuliah, karena tas ranselmu begitu besar dan berat. Aku yakin kau pasti tidak melihatku bermain di bawah lampu jalan, karena pandanganmu selalu lurus. Kemudian dua hari setelahnya, aku melihatmu sedang duduk di bangku taman. Berkali - kali aku bertemu denganmu tanpa sengaja. Lalu aku menceritakan hal ini pada seorang teman. Ia adalah pelayan toko kue Toasty. Katanya, itu adalah takdir. Menurut ceritanya, sejauh apapun aku pergi akan tetap bertemu denganmu. Selama dua bulan aku terus melihatmu tanpa sengaja. Aku yakin kau tidak melihatku. Lalu malam itu, ketika aku sedang bermain - main di kotak telepon, aku melihatmu mengejar kekasihmu. Aku terus mengamati kalian, sampai akhirnya aku melihatmu terpuruk ketika gadismu pergi. Aku sedih... makanya ku beranikan diri untuk berbicara kepadamu" Cerita wanita itu. Aku terkejut kembali. Aku tidak menyangka ia memperhatikanku selama itu. Aku menghela napas panjang lalu menundukkan kepalaku.
" Kemudian kemana kau pergi setelah malam itu?" Gumamku.
" Dua hari setelah malam itu, petugas rumah veteran itu datang memberitahuku bahwa ada yang akan memberiku beasiswa sehingga aku bisa sekolah, aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Aku sekolah di luar kota. Setelah lulus SMU, aku kembali ke kota ini untuk kuliah tiga tahun yang lalu, agar dapat menghasilkan uang sendiri, aku bekerja menjadi resepsionis hotel" Ia menghela napas. " Aku ingin membuktikan takdirku, apakah aku bisa bertemu denganmu tanpa sengaja" Ia terkekeh lalu melihatku. " Hari pertama aku bekerja di hotel, aku sudah bertemu denganmu, namun aku belum mengenalimu. Hingga beberapa kali ku pastikan, ternyata itu benar kau. Lalu kita sering bertemu ketika kau menyewa sebuah ruangan di hotel kami untuk meeting atau bertemu tamumu, kau pasti... tidak mengenaliku." Ia terdiam.
" Aku benar - benar tidak mengerti Casey, semua ini seperti mimpi..."
" Lalu tadi aku sedang makan siang, dari jendela cafe, aku lihat kau sedang mengejar - ngejar Maria, makanya aku mengikutimu" Sambungnya.
" Kau kenal Maria ? kau benar - benar membuatku takut Casey" Aku keheranan. Dahiku mengkerut memikirkan semua ini.
" Kau tahu, siapa Maria itu? Dialah pelayan Toko kue Toasty, yang menceritakan tentang takdir kepadaku. Usianya 18 tahun saat ia bekerja paruh waktu di Toasty" Aku kaget, kepalaku pusing memikirkan kebetulan - kebetulan ini.
" Bagaimana bisa ?" Hanya itu yang dapat ku ucapkan.
" Entahlah... kerja Tuhan itu misterius. Ku lihat kau tidak berubah ya ? Masih sangat tampan, Bedanya sekarang kau lebih tua" Ia terkekeh kecil seolah meledekku.
" kau yang berubah Casey, sekarang kau cantik. Tapi senyummu masih tetap sama" Balasku.
" Masih berusaha memiliki cinta dengan hadiah - hadiah ? ku rasa masih... Cinta itu bukan begitu Ed, cinta itu tidak bisa kau tukar dengan barang. Jika orang lain memberimu cinta, balaslah dengan cinta." Ia menatapku. Sekarang giliranku terkekeh.
" Lagi - lagi aku di gurui olehmu. Oh iya, bagai mana kabar Jessy ? Apakah kau menengoknya ?" Ucapku mengalihkan perhatian.
" Ia di panti sosial, petugas keamanan menangkapnya ketika ia berkeliaran, ku dengar, ia di usir oleh anak dan suaminya. Aku yang menjadi donaturnya selama tiga tahun ini. Tapi ia tidak tahu, jika aku adalah Casey" Gumamnya lirih.
Setelah pembicaraan panjang di halte hari itu, kami lebih sering bertemu tanpa sengaja. Hubungan kami semakin hangat. Dua tahun berikutnya, aku menikahi Casey, karena ia wanita yang begitu tegas membuatku tidak bisa menarik ulurnya seperti wanita-wanita yang selama ini ku temui. Satu tahun setelahnya, kami mendapatkan seorang putri bernama Ellijah, kemudian seorang putra Dean, dan seorang putri lagi Jilliana.
Usia Casey saat itu 58 tahun, ketika ia meninggalkanku selamanya. Kanker payudara merebut Casey dari pelukanku. Setelah sepuluh tahun berlalu, aku masih melihat bayang - bayang Casey menemaniku. Tapi aku senang, ketika kami di pertemukan oleh takdir, lalu kami berpisah juga karena takdir. Sekarang usiaku 79 tahun, menua bersama cinta Casey yang terus hidup dalam hati anak - anak kami. Tunggu aku Casey, aku tahu kau akan setia menunggu meskipun kau tidak tahu apa yang sedang kau tunggu. Karena kau mencintaiku, akupun begitu.
Tamat
Komentar
Posting Komentar