BALADA TARI ULAR DI TAHUN BARU !!!

Ahoooyyy ! Seneng banget udah ganti tahun, berharap tahun ini kondisiku semakin membaik. Meskipun postingannya telat, semoga tetep menarik untuk di baca.

Kali ini aku mau share pengalaman tahun baru terabsurd sepanjang sejarah kehidupanku. Sampai saat ini, aku masih ngerasa aneh jika mengingatnya.

Cerita di mulai dari aku yang ga niat mau kemana - kemana,  tiba - tiba di ajakin tahun baruan sama @memimpikan. Baiklaaahh... yang penting bisa nonton kembang api. Dia bilang mau dateng pukul 20.00, okeey get ready. Pukul 20.00 WIB yang duluan nongol kerumah adalah @kenthiblues dan ceweknya, yang ngajak ? beuuuuhhh jangan di tanya ! jamnya indonesia banget cuuuy. Sembari menanti si manusia keriting disko milenium datang, kami ngobrol2 dulu laah.

Dese datang dengan senyum sumringah tanpa dosa. Kita ngga buru - buru pergi, karena ternyata TUJUANNYA BELUM DI TENTUKAN. Astaga Naga, ini sih kelewat easy going. Baik laaahh setelah rembuk sana rembuk sini akhirnya destinasi kita jatuh ke Suatu tempat ! tet teteeeeetttt. Hehehe

Dalam perjalanan udah gerimis, sambil melihat keluar jendela mobil, bawaannya udah pengen bikin video klip lagu mellow *bye*. Macet dan merayap yang luar biasa pun membuatku makin cemas, jangan - jangan ngga bisa nonton kembang api nih. Tapi dengan segenap usaha dan perjuangan mas supir @kenthiblues, akhirnya berhasil keluar dari kemacetan. Kalo ngga berusaha dan berjuang ya tak kethak, lha wong rotiku di rampas.

Sampai di Somewhere over the rainbow yang jauhnya macem dunia lain, udah ada panggung lumayan gede di parking area. Mungkin bakal ada perform band, pikirku sih. Tapi kita langsung nimbrung di antara temen - temennya Si Rambut Badai. Oke, sampe sini aku udah mulai skeptis dengan apa yang akan terjadi kedepannya. Kami duduk di Warkop yang menurutku ngga jelas konsepnya, classic ngga, cozy ngga, tradisional juga aneh, interiornya ya gitu, mungkin yang design lagi labil.

Di depan tempat kami duduk, terpasang screen 2 x 3 m. Awalnya aku ngga ngerti mau buat apa screen itu. Kali aja empunya warkop lagi pengen nobar. Usut punya usut, Screen itu ternyata berhubungan dengan panggung yang ada di luar tadi. Wah lumayan eksklusif nih, toh di luar hujan. Pikiranku masih berpositif - positif ria. Panggung masih kosong.

Acara dibuka dengan speech panitia. Sampe disini pikiran positifku mulai berkurang. Ya gimana ngga, orang pembukaannya aja udah macem tirakat 17 agustusan gitu. Baik lah, dengan tidak mengurangi rasa skeptis, mari kita tunggu apa yang terjadi berikutnya.

Kita pesen minum sebelum acara di mulai. Jreng ... jreng... jreng...  muncullah serombongan wanita bermacam usia sekitar 6 orang naik ke atas panggung. Dengan Tee's bodi fit yang sudah mecotot sana mecotot sini karena mereka sebagian adalah ibu - ibu yang badannya udah double size, di tumpuk dengan kemeja yang tidak dikancing, dengan warna dan ukuran yang penting ada, di padu mini span skirt yang membuat lemak paha meronta - ronta karena sempit dan pendeknya lupa daratan, dengan wajah yang penting dandan, dan di kompliti dengan bando dan kuncir rambut lucyuuk ala abege enam belasan. *Garuk - garuk pala* *guys, tolong aku* *baiklah mungkin mereka bahagia* *eh engga* *mungkin mereka datang dari luar galaksi*

Dengan mereka tidak melakukan apa - apa aja udah bikin aku geli - geli heran, apalagii sekarang mereka ngedance ! *Astagah* Dengan goyang ala - ala yang musik kemana gerakan kemana, ekspresi wajah yang Insyaallah bisa seksi versi mereka, tapi badan lemes kek orang abis diare dua minggu. Jadi lah dance asal tarik, asal angkat, asal goyang. *Ya ampun* *INGAT ANAK DAN SUAMIMU DI RUMAH LASTRIIIIHHH!!!* Eiya, itu apa kabar suami sama anaknya kalo nonton ya?. *Astaga Pah, ternyata mamah bisa gitu ! dedek jadi galau* *mamah bisa gitu kok ngga bilang - bilang papah sih* *aku khilaf pah*. Kaya gitu aja, masih ada yang tega - teganya NYUITIN !!! *masyarakat... yaa... masyarakat* *saya sangat prihatin dengan kondisi ini* *ala pidato kepresidenan*

Mereka selesai, aku bisa bernapas lega setelah beberapa menit yang lalu merasa sedikit depresi. Minuman dateng juga, aku pesen Mocca Rel Latte karena lumayan suka dengan Mocca. Terlepas dari tempatnya yang labil, minumannya enak kok, walaupuuuun kalo udah tau syrup mocca itu pekat mbok ya di encerin pake aer sedikiiiittttt biar gampang ngaduknya.

Tiba - tiba dua orang wanita naik keatas panggung. Dengan melihat dress code mereka aja aku ngga bisa menyimpulkan mereka mau ngapain. Inilah yang asal muasal aku menyandangkan gelar tahun baru terabsurd sepanjang sejarah. Dua wanita itu, pake kaos manset item, rok panjang ala santriwati solekhah, yang bentuk, warna dan bahan kainnya bikin para pengamat busana gantung meteran. Ditambah kerudung selendang oma - oma di jepit bergantung menjuntai ala kain sari orang india, yang warnanya dadah - dadah sama warna roknya alias ngga nyambung.

Lalu apa yang mereka lakukan ? NARI ULAARRRR !!!. Ular sanca ? phyton? boa ? annaconda ? kobra ? uler sawah ? Bukan ! ye ye semua saaalah !. Definisi tari ular yang mereka ciptakan adalah geglesotan dengan kedua tangan di atas tertelangkup seperti orang mau menyembah. Apalagi badan mereka kerempeeeengg gilaa, depan belakang rata. Mirip ular ? Heeeeeell no ! Dengan music seruling ala egyptian yang kalo di film - film serulingnya di tiup, keluar uler dari dalem keranjang. Mereka menaari, mengglesot, nungging - nungging di panggung.

Sampai seorang pria berumur dengan baju hitam, celana seragam penari reog yang rumbai - rumbai dan blangkon hitam, naik keatas panggung. Doski berperan sebagai peniup seruling. Lagi - lagi aku harus di suguhi ke-absurd-an mereka. Bukan seruling yang bapak itu bawa, melainkan terumpet tahun baru warna warni meriah yang biasanya di tiup anak - anak. *okey... terima kasih* *sujud* *memohon ampunanNya*. Meliuk - liuk lah si bapak berkumis itu mengikuti musik seolah - olah sedang meniup seruling. Dua wanita ular tadi ?? Semakin menjadi - jadi, mereka berada di sisi kanan dan kiri si bapak, menggeliat - geliat, nungging, jongkok, glesot, terserah mereka aja dengan ekspresi sok seksi yang di paksakan. Erotis ? ENGGAK! *Keluar negri sana!* *berguru sama JLo* .

Di akhir - akhir, rok dari salah satu wanita ular melorot. Ngga melorot banget sih, tapi ganggu ngeliat dese beberapa kali menarik roknya ke atas. Makin absurd aja deh. *fix... aku dongkol*. Acara dilanjut dengan dangdut daerah. Aku mulai bosen karena nggak terlalu suka musik dangdut. Si Ari bersikukuh tetap di tempat ketika aku dan kenti menawarkan untuk berpindah tempat. Ngalah lah kita sama si bayi biri - biri. Tetap berusaha berpikiran positif akhirnya aku menunggu kembang api di tempat itu.

Jam 00.00 tiba. Kami semua keluar ruangan untuk menyaksikan kembang api. Apa yang aku dapat ? kembang api asal pletok yang mekarnya ngga meriah. Gitu masih ada yang foto - foto. Ya udah lah yaaa... mungkin gitu aja udah meriah bagi penduduk uranus. Yang aku kasian, di situ banyak polisi, scurity, dan petugas keamanan yang berjaga agar tidak terjadi kerusuhan, kalo rame. Kaloooo... Kenyataannya ? boro - boro rame, depan panggung lenggang kalo pada mau atraksi motorcross. Orang yang datang melihat malah berada di pinggir - pinggir dan di dalam tempat makan, dan duduk dengan rapih. Alih - alih ada keramaian, pak polisi and friens malah duduk - duduk berjejer rapih di samping pintu kamar mandi. *alih profesi nih yee*

Setelah nonton kembang api sekilas di situ, kami lanjut kerumah mbak Karin. Meskipun ngga kebagian ikan bakarnya, nyampe di sana kebagian kembang api yang lebih gede, lebih meriah, lebih spektakuler dan lebih cantik. Tapi lumayan lah buat ngobatin dongkol beberapa jam tadi. Akhirnya bisa bilang HAPPY NEW YEEEAAAAARRR !

Ya sudah laaah, cerita absurd berakhir begitu. Pesan moral yang mau aku sampaikan adalah :

" kalo kalian ngga terlatih di sanggar, plis banget, plis plis banget jangan coba - coba nari ular ! saya tegaskan jangan ! bisa membuat orang lain depresi dan tertekan"  clown quote ayat 1 : 1


Terima Kasih

End

*clown*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

S.O.S !!!

Begini saja, Aku Pamit !!

Menanggung Pertanggung Jawaban