WRONG MAN IN A WRONG TIME
Banyak hal yang terjadi pada hidupku ketika Tuhan tak banyak
memberikan pilihan untuk aku melanjutkannya. Aku tau betul perasaanku mudah
goyah. Seperti saat itu. Saat dia datang untuk masuk kembali kedalam hidupku.
Ada lubang besar di rongga hatiku sehingga sangat mudah baginya untuk masuk
kembali dan menguasai setiap relungnya. Benar. Aku jatuh cinta.
Aku mengabaikan hati kecilku yang menjerit - jerit
mengatakan dia pria yang salah. Aku tahu betul apa yang akan terjadi, namun aku
membiarkan perasaan ini mengalir. Aku terbuai dalam setiap kalimatnya. Padahal
aku tau, aku sedang terjun kedalam lubang yang sama 4 tahun silam.
Aku percaya saja dengan semua janji yang ia tulis, mudah
menasehati orang lain untuk tidak percaya dengan janji pria. Tapi kini aku
tenggelam di dalamnya. Dengan kondisiku yang sedang benar - benar butuh
sandaran, ia datang. Bagai oase di padang gurunku yang kekeringan.
Akupun tanpa sadar mengiyakan syarat yang ia lantunkan. Mati
- matian aku mengurangi porsi makanku yang nota bene adalah pelampiasan
stressku, demi untuk terlihat baik di matanya. Aku berusaha memanjangkan
rambutku dan menjadi apa yang ingin dia lihat. Tapi aku salah. Semua syarat itu
bagaikan dateline pekerjaan yang harus ku penuhi. Aku kerepotan di buatnya.
Dia datang menemuiku. Aku tahu sorot mata itu. Sorot mata
kekecewaan. Kecewa dengan apa yang aku tampilkan. Mungkin saat itu dia lupa,
bahwa aku adalah orang yang bangga menjadi diri sendiri. Aku tidak ingin dia
melihatku sebagai orang lain, atau sebagai orang yang ingin dia lihat.
Malam setelah dia pergi, dimana keperempuananku menagih
sebuah kepastian untuk hubungan yang kita jalani, Dia berkelit dengan sejuta
cara membelokan pembicaraan. Aku tau arahnya, aku kecewa, dengan sekuat hati
aku mengacaukannya. Membuat dia jijik padaku. Aku berhasil menghindarinya.
Bagiku, dia pria salah yang datang di
waktu yang tidak tepat.
Semenjak saat itu, aku tidak berani berharap kepada perasaan
seseorang. Karena aku tidak mau kecewa lagi. Aku memutuskan untuk menjalani apa
yang ada di depan mata, dan menikmati apapun yang terjadi. Aku melakukan apapun
yang membuat hatiku senang, tanpa pernah berharap balasan dari siapapun. Karena
sekarang aku sedang menikmati kebahagiaanku walaupun hanya secuil dan hampir
tidak nyata.
Dia yang namanya kini enggan ku sebut, aku tau ....
Komentar
Posting Komentar