UNSPOOKEN FEELING
Rambutku hanya sebahu ketika itu, tapi
sudah ku pilin - pilin untuk menghilangkan cemas. 25 November 2013 - 16
Desember 2013. Aku adalah penghuni ruang bedah wanita A2 lantai 2 Rumah Sakit
Dr. Kariyadi Semarang. 25 November, 13 hari setelah ulang tahunku yang ke 20.
Pagi itu pukul 09.00 aku merelakan tangan kanan ku cacat. Tidak ada perasaan
takut, sedih atau apapun yang mengisi hatiku. Hanya saja rasa tidak percaya
merajai hati. Sumpah kala itu segala sakit tidak terasa. Hanya rasa tidak
percaya. Keluar dari UGD pukul 20.00 ibu terus menemaniku. Tiba - tiba perasaan
marah, benci, emosi, kecewa yang entah dari mana datangnya merasukiku. Aku
marah ke pada Ibu, aku marah kepada siapapun yang ada entah apa sebabnya.
Kemudian aku menangis, sakit, bukan di tangan kananku yang sedang menganga. Ada
apa ? aku tidak paham dengan diriku.
Hari demi hari ku lalui, aku berusaha untuk
tidak menangis, aku tau semua akan sedih. Sekuat hati ku coba tersenyum. Iya !
tersenyum, walaupun aku yakin betul perasaanku sedang sehancur - hancurnya. Aku
tidak ingin melihat kedua orang tuaku sedih. Meskipun aku tau, pelampiasan
kesedihanku itu membuatku jadi amat menyebalkan. Anak manja yang menyebalkan
semua perawat mempredikatiku panggilan itu. Tanpa mereka tau aku sedang mengais
perasaanku yang berkeping - keping. Jalan lain melampiaskannya ketika ganti
balut. Karena terasa sakit aku menangis sejadi - jadinya.
Kemudian orang - orang yang menengok
berdatangan, silih berganti mendoakan, ada yang memandangku kemudian banjir air
mata. Aku tersenyum. Sedangkan hati meronta - ronta minta tolong. Tolong ! Aku
nggak mau begini ! Sesekali aku menyentuh tangan kananku, menghela nafas
panjang menahan nelangsa perasaan ini. Perasaan yang tidak pernah terungkap
betapa aku sangat kecewa dan terus menyalahkan diriku. Seandainya aku bolos
kerja karena kelelahan, semua tidak akan terjadi. Seandainya perasaanku tidak
sedang campur aduk, semua tidak akan terjadi. Seandainya pikiranku tidak kacau,
semua tidak akan terjadi. Tapi semua seandainya itu luntur ketika aku membuka
mata, dan masih berada di bawah atap rumah sakit.
Hingga detik ini, sudah 10 bulan berlalu,
aku masih belum mengungkap rasa kecewa ini kepada siapapun. Aku masih saja
tersenyum ketika setiap orang yang menyapaku selalu mengasihaniku. Dan sampai
saat ini, melihat bekas lukanya, menyentuh bagian belakang tangan kananku yang
tidak terasa, aku masih ingin marah. Tapi aku tidak pernah tahu harus marah
kepada siapa. Akhirnya lewat tulisan ini aku mengungkapkan perasaanku yang
tidak bisa ku sampaikan kepada lawan bicara.
Terima kasih untuk perawat RSUP DR. KARYADI
ruang A2 bedah wanita lt 2 ( Sekarang entah lantai berapa) dan Dokter - dokter
yang pernah menangani saya, maaf kalo bayi bagong ini cukup merepotkan, sekali
lagi kamsiaa ! Kalian luwarr biyasaaaahh * six thumbs for you *
*clown*
Not allowed copy picture
or story from this blog without permission.*clown*
Komentar
Posting Komentar