THE DIE STAR


Bintang, yang setiap malam bergantung pada langit, yang bentuknya serupa dengan bumi, memancarkan kelap - kelip yang benderang bak permata yang di taburkan pada layar hitam itu ternyata bisa mati. Aku baru tahu. Tapi bintang tidak mati sia - sia. Mereka mati setelah memuaskan pandangan - pandangan manusia untuk mengusir suntuk, menemani beberapa orang yang sedang galau, bahkan menjadi saksi cinta beberapa glintir manusia.

Sambil menggoreskan pensil di atas kertas gambar, aku membelai - belai rambutku sendiri yang setahun lalu menipis karena rontok. Sambil memandangi langit yang berkilauan, aku memainkan rambutku yang berangsur tumbuh. Aku terbawa dalam kenangan masa lalu. Kenangan yang memperkenalkanku pada bintang, yang cahayanya terus menyala dalam hatiku. Bintang paling terang yang menyinari hidupku. 

Pagi itu, bagai badai menyentuh bumi aku terkejut dan tidak percaya. Ternyata rasa sakit yang aneh di perut sebelah kananku adalah kanker. Aku divonis menderita kanker hati stadium awal. Perasaan ini menjadi hancur berkeping - keping, terlebih mamaku. Aku yakin beliau lebih sedih dariku. Usiaku masih muda saat itu. 17 tahun, dan sebentar lagi serangkaian ujian kelulusan akan di mulai. Bagaimana aku bisa menyelesaikan sekolahku dengan kondisi yang kian menurun. Keringat dingin menetes di pelipisku. Seharian ini aku bolos sekolah untuk pergi ke dokter karena sakit yang ku derita semakin tidak tertahankan. Mama dan papa kemudian menuduhku mengikuti pergaulan bebas. Aku makin kacau. Pikiranku berantakan.

Ujian pun di mulai. Dengan susah payah aku menyelesaikannya. Aku terpaksa menyembunyikannya dari teman - temanku. Aku tidak ingin mereka iba. Dengan beberapa kali kesakitan, aku berusaha mengikuti dengan baik. Hanya harapan dan doa agar semua yang ku lakukan tidak sia - sia. Ujian selesai. Tinggal aku istirahat total di rumah menanti kelulusan. Setiap hari hanya obat - obat dan obat yang menemani liburanku. Mama bekerja hingga larut malam, sedangkan papa hanya bisa ku temui sebulan dua kali karena beliau tinggal di luar kota. Mereka tidak menyediakan pembantu untuk menemaniku. Alasannya takut aku menjadi manja. Terserah mereka saja lah. Selama semua ke inginanku mereka turuti.

AKU LULUS !! perasaan senang menyelimuti usahaku tidak sia - sia. Tapi rasa kecewa kemudian datang menyeruak ketika melihat nilai - nilaiku yang payah. Aku mungkin lulus karena perasaan iba dari para guru. Ku bawa pulang hasil yang ku dapat. Aku tidak ikut corat - coret dan konvoi karena menurutku tidak ada hasil yang bisa di rayakan. Sampai di rumah, karena hari itu hari sabtu, papa dan mama di rumah. 

" Lila, kamu lulus kan ?" Mama bertanya padaku. Aku hanya mengangguk. Untuk apa mereka menanyakan hal ini, sedangkan untuk mengambil hasil kelulusan anak semata wayangnya saja mereka menolak dengan berbagai alasan. Tanpa di duga, mama merebut kertas yang sedari tadi ku genggam. 

" Yaa Ampun Lila ! Nilai begini mana bisa kamu kuliah di kampus favorit !" Mama berteriak dengan keras.  Aku kaget. Kepalaku tertunduk aku tidak bisa mengelak. 

" Kamu ini anak siapa sih ! mama sama papa tidak bodoh seperti kamu ! papa malu punya anak seperti kamu ! sudah penyakitan ! bodoh lagi !" Papa ikut berteriak. Aku kecewa sekali dengan perkataan mama papa. Aku kembali ke kamar dengan air mata yang sudah membanjir. Aku tidak ingin sakit ! aku tidak ingin bodoh ! teriakan - teriakanku meraung - raung dalam hati. Kemudian sakit itu mulai terasa. Melumpuhkanku seketika. Tanganku menggapai - gapai mencari obat yang biasa ku minum. Setelah ku dapat, dan ku minum, perasaan lemas datang. Aku tergeletak di lantai dengan kondisi setengah sadar. 

Hingga larut malam, kedua orang tuaku tidak ada yang memanggilku untuk sekedar makan siang dan makan malam. Semua sudah tidak perduli.  Hari minggunya, ku dapati rumahku kosong. Ada sms yang masuk di handphoneku sejak tadi pagi. Ah ... bisnis lagi. Keduanya meninggalkanku untuk uang. Kalau tujuan mereka hanya uang, untuk apa ada aku ? Terbersit pikiran konyol untuk kabur dari rumah. Aku segera mengemasi barang - barangku dan beberapa gadget yang ku punya. Berbekal tabunganku yang cukup lumayan dan uang yang ku curi dari laci mama, cukup untuk hidup beberapa bulan di luar kota. Kaki ini melangkah keluar, entah mengapa ada perasaan bebas yang muncul. Aku pergi ke terminal. Sampai saat ini aku belum menentukan ingin pergi kemana. 

Kaki ini mengarah dengan sendirinya menuju suatu kota berudara sejuk. Kota kembang Bandung. Aku turun dari angkutan umum di depan sebuah restoran berarsitektur kuno. Aku tertegun melihat kemewahan eksteriornya. Tanpa sadar kakiku melangkah sendiri ke dalam restoran tersebut. Aku kebingungan ketika pelayan menanyaiku ingin pesan apa. Saat itu aku sedang tidak lapar. Mataku beredar mengelilingi etalase - etalase berisi berbagai macam kue  berharap menemukan sesuatu yang menggugah selera. 

" Boleh ice cream yang ini satu" suara lembut di sampingku berasal dari seorang gadis cantik berambut panjang berwarna tembaga dan berkulit pucat. 

" Eh saya juga mau" ucapku pada pelayan. Melihat gadis itu duduk sendiri aku bergegas mengikutinya. 

" Kamu sendirian ? " ucapku pada gadis itu. Dia mengangguk kemudian tersenyum.

" Boleh duduk di sini ?" Gadis itu mengangguk, tersenyum kemudian matanya berpendar menelanjangi interior toko yang vinttage. Aku menyodorkan tanganku kepadanya. Ia nampak terkejut dan keheranan namun ia tetap membalas jabatan tanganku. Tangannya dingin sekali. Tubuhnya kurus, lebih kurus dariku, hingga aku bisa merasakan tulang - tulang jemarinya. Namun dia begitu cantik, ada aura berbeda terpancar darinya.

" Lila " Ucapku memperkenalkan diri. Ia menatapku sangat lembut dan dalam.

" Siria " jawabnya dengan suara lembut dan datar namun berkarakter kuat. Kami melepas jabatan tangan kami. Sesaat kemudian es krim pesanan kami datang. Dua buah es krim yang dari bentuknya aku tidak bisa menebak rasa apa. Warnanya coklat keemasan bertabur kacang hazelnut potongan strawberry dan saus coklat yang di tuang vertikal di atasnya. Di saat aku sedang mengamati eskrimku, Siria sudah menghabiskan hampir setengah miliknya. Tangan ini pun latah menyuap sesendok eskrim ke mulut. Yaaa Tuhan rasanya pedas, dingin tapi begitu hangat di tenggorokan. Rupanya eskrim rasa jahe. Aku tidak melanjutkannya lagi karena rasanya terlampau aneh. Tapi Siria, dia masih lahap dan sangat menikmati beberapa scoop eskrimnya. Dia memang aneh, namanya, pakaiannya, dia mengenakan topi snap back hingga menutupi telinga, jaket parasut tebal berwarna merah, syal rajut berwarna putih tulang, kaus berwarna abu - abu,  celana jeans buluk straight cut dan sepatu boot empuk dan hangat. Sebenarnya tidak ada yang salah dari penampilan Siria, hanya jika ia mengenakan kostumnya di antartika. Namanya pun aneh. Siria. Apa artinya ya. Melihatku tidak melanjutkan menghabiskan eskrimku Siria menatapku keheranan. Melihatnya hampir mengosongi mangkuknya, aku lebih keheranan.

" Aku ngga suka jahe, em... kamu mau ?" Siria tertegun sejenak melihat aku menyodorkan mangkuk eskrimku yang baru ku makan sesendok. Namun akhirnya dia menerimanya, dan melahapnya sampai kosong. 

" Kamu suka ?" Tanyaku lagi. Ia hanya mengangguk dan tersenyum. Gadis ini tidak banyak berbicara. Kebanyakan pembicaraan ini di dominasi olehku, lantas ia hanya mengangguk dan menggeleng. Kami berdua keluar resto bersamaan. 

" Lila, terima kasih" Ucapnya sambil tersenyum agak lebih lebar. Aku mengangguk. Siria beranjak meninggalkanku. Sadar aku tidak memiliki tujuan, aku memanggil Siria yang baru beberapa langkah itu. Siria berhenti. Aku berlari kecil menghampirinya.

" Siria, maaf... aku ngga punya tujuan, aku ngga tau harus kemana" Ucapku sambil terengah - engah dan kerepotan dengan barang bawaanku.

" Lila mau ikut ? aku mau pulang" Tawarnya. Suaranya begitu lembut sehingga di jalan yang ramai ini aku hanya mendengarnya samar - samar. Aku mengangguk secepat kilat. Kami berdua berjalan menyusuri kota kembang yang mulai gelap itu. Sudah satu setengah jam kami berjalan, namun tidak juga sampai. Tidak ada raut kelelahan di wajah Siria. Gadis itu memang aneh.

***
Setelah berjalan kaki selama beberapa jam, sampailah kami di sebuah perkampungan yang gelap, terpencil dan jauh dari hiruk pikuk kota. Kampung yang hanya jalanan dan beberapa rumah saja yang menggunakan listrik. Aku sungguh keheranan masih ada daerah yang seperti ini. Kami masuk ke sebuah bilik kecil dan gelap. Bagaikan rumah penyihir dalam cerita dongeng.

" I... ini... rumah kamu ?" Tanyaku gugup dan sedikit ketakutan. Siria menyalakan lampu 5 watt nya yang remang - remang namun cukup menerangi tempat itu.

" Iya... tas kamu bisa di taruh di lemari itu" Siria melepas topi dan atribut lainnya lalu menggantungkannya pada sebuah paku, lalu duduk di bale bambu yang lebarnya cukup untuk tidur dua orang.

" Kamu sendirian di sini ?" Aku semakin keheranan melihat kondisi rumah Siria, hanya sebuah bilik bambu kecil yang bagian depannya di sekat untuk ruang tamu dan hanya berisi dua buah bale bambu kecil, lalu ruang tengah yang juga merupakan tempat tidur yang menyatu dengan dapur dan di sekat sedikit untuk kamar mandi. Lantainya masih tanah, dan hanya ada dua buah kompor tungku, satu almari tua, bale bambu besar dan beberapa peralatan memasak.

" Iya, aku sendirian di rumah ini" Siria menghela napas panjang, lalu merebahkan tubuhnya ke bale keras itu. 

" Orang tuamu ?" Tanyaku lagi, hati ini di banjiri rasa penasaran. Siria hanya menggeleng, lalu ia menguap lebar, aku mengambil tas kecilku, mengeluarkan botol obat lalu meminumnya. Aku iba melihat Siria. Kumasukkan kembali tas kecilku kedalam lemari, kemudian aku mengeluarkan dua buah bed cover dan dua bantal donat kesayanganku dari dalam tas ransel yang sedari tadi ku gendong. Karena belum pernah kabur dari rumah, aku terlalu mempersiapkan semuanya dengan baik dan membawa semua yang menurutku berharga. Aku membangunkan Siria, lalu menggelar sebuah bed cover sebagai alas di bale bambu, membagi bantal donatku, dan menggunakan satu buah bed cover untuk selimut. Wajah kantuk Siria, tak dapat menyembunyikan rona bahagianya, Siria kembali tertidur. Aku pun tidur menyebelahinya.

***
Aroma sisa pembakaran tungku dan udara sejuk menyeruak masuk melalui lubang - lubang dinding bambu rumah Siria. Aku terbangun, dengan masih mengucek - ngucek mata aku berdiri mencari - cari Siria yang sudah tidak tampak. Aroma nasi goreng membuatku hanyut karena lapar. Oh iya sejak kemarin perutku cuma terisi satu sendok eskrim jahe. Kemana Siria ya. Rupanya aroma nasi goreng itu datang dari piring di atas bale depan. Ada secarik kertas di sampingnya.

Aku pergi mengajar, kamu dirumah saja.

Ada gambar bintang di ujung bawah surat itu. Mengajar ? Siria guru ? Rasa lapar mengalahkan penasaranku. Setelah nasi goreng buatan Siria berpindah ke dalam perutku, aku memutuskan untuk mandi. Saat mengambil baju ganti, aku menjatuhkan tiga buah botol obat. Aku memungutinya, darahku berdesir begitu cepat ketika membaca kemasan botol obat tersebut. 

Usai mandi dan merapikan diri, aku memutuskan untuk keluar rumah. Rasa jenuh mengantarku berkeliling kampung yang masih asri itu. Beberapa ibu - ibu dan gadis muda seusia aku sibuk berkebun. Karena kebingungan, akhirnya aku mendekati seorang ibu.

" Maaf permisi bu, disini ada sekolah apa ya ?" 

" Sakola neng ? didieu teh teu aya sakola neng, ayana rumah pintar" Ujar ibu - ibu sembari memandangiku dengan heran.

" Rumah pintar ? di mana ya bu ?" aku masih mencari - cari bangunan yang di maksud. Sadar dengan pandangan aneh ibu tersebut. " Emh, maaf saya temannya Siria" Sambungku.

" Ooohhh ...  neng teh babaturan neng Ria" Ibu itu mengangguk. 

" Ibu kenal ?" Aku keheranan. Siria adalah gadis yang pendiam menurutku bagai mana bisa dia begitu dikenal.

" Ya jelas kenal atuh neng, neng Ria mah satu - satunya orang yang mau ngajar di Rumah pintar itu, neng mau ngajar juga ya ?" Wajah ibu itu berbinar penuh harapan, aku hanya tersenyum. " Rumah pintarnya teh di situ neng" Ibu itu menunjuk pada gubuk bambu di tengah ladang. Memang dari kejauhan nampak beberapa anak kecil sedang duduk di sana. 

" Makasih bu" Aku segera berlari kecil menuju gubuk yang di maksud. Hampir sampai di gubuk, aku memutuskan bersembunyi di balik pohon pisang. Aku takut Siria akan merasa terganggu dengan kehadiranku. Sambil mengatur napas, aku memandangi Siria yang dengan sabar mengajar anak - anak itu.

" Hayo ! tukang ngintip !" aku di kejutkan dengan suara seorang laki - laki yang menepuk bahuku dari belakang. Jantungku terasa mau copot. Aku berbalik untuk melihat siapa yang mengejutkanku. Ku dapati sesosok laki - laki tampan seusiaku. " Ngapain ngintipin Siria ! mau berbuat jahat ya !" Gertaknya. Aku gugup setengah mati.

" Ha ? Ngga kok ..." Aku ketakutan setengah mati. Pemuda itu menarik tanganku dengan kasar, ia membawaku mendekat ke gubuk itu. 

" Lila" Siria terkejut melihatku yang sedang di seret seperti buronan tertangkap.

" Dia teman kamu ?" Tanya laki - laki itu. Siria mengangguk. Akupun di bebaskan. Seharian hingga senja menjelang aku menunggui Siria yang sedang mengajar. Siria terlihat luar biasa. Sabar, lembut, tekun, dan penuh kasih sayang kepada anak - anak yang menurutku menyebalkan. 

***

Sepulang mengajar,  Siria segera mandi dan duduk menemaniku di bale depan dengan dua gelas teh panas di tangannya. Mataku menerawang keluar mencoba mencerna hari ini. Siria menyebelahiku. Napasnya berat dan panjang.

" Kamu sama kayak aku ? kabur dari rumah karena sakit ?" Cecarku dengan nada datar. Mataku masih memandang keluar. Tidak ada jawaban dari Siria, tapi ia sempat menahan napasnya sejenak lalu menghelanya. Aku yakin ia terkejut. " Kamu mengasingkan diri dari keluargamu?" Aku masih menginterogasinya. Masih tak ada jawaban yang ku dengar. Aku menoleh ke arah Siria, ku lihat pandangan matanya tembus ke memorinya. " Kenapa kamu ada di sini ? kenapa malah ngajar ? Bukanya kamu seharusnya mendapat perawatan intens?" Tanyaku untuk kesekian kalinya dan masih tidak terdengar jawaban." Aku kabur dari rumah, karena dengan kondisiku yang begini kedua orang tuaku acuh. Aku juga Cancer. Kita sama kan ? kamu bisa cerita ke aku, janji nggak akan bocor" Tanganku menarik bibirku dari kanan ke kiri seperti sedang menutup risleting. Siria sama sekali tidak menjawab. Pikirannya masih melayang - layang. " Aku nemu botol obat di lemari kamu. Kamu Cancer kan?" Aku masih getol menanyainya. Siria menyeruput teh yang di genggamnya. Ia meletakan gelas itu di bale lalu bangkit berdiri. Siria memakai jaket dan atribut kebanggaannya. Aku heran. Mau kemana dia ? Aku segera menyambar switerku yang ku letakan di bale dalam. Siria dan aku keluar dari rumahnya, setelah menguncinya, kaki berdua berjalan menyusuri lorong jalan kampung yang remang - remang. Sepanjang perjalanan, aku dan Siria tidak berbicara sepatah kata pun. Aku bingung kemana Siria akan membawaku. Kami melintasi bukit, Semak - semak, perkebunan teh dalam kegelapan. Tanpa cahaya apapun menemani kita. Hanya bintang yang kemilaunya menerangi perjalanan kami. Saat aku mengagumi keindahan alam, Siria menarikku dan mengajakku bersembunyi di balik semak - semak. Telunjuknya ia arahkan ke depan bibir. Isyarat aku harus diam.

" Kita mau kemana ?" tanyaku sambil berbisik, aku kebingungan. Napasku memburu karena kelelahan.

" Tunggu satpam selesai patroli dulu" Jawabnya sambil berbisik juga. Suaranya lirih nyaris tidak terdengar. Mataku mencoba melihat keluar semak - semak, memang terlihat dua orang pria berseragam satpam sedang memutarkan senternya untuk melihat keadaan sekitar. Tak berapa lama mereka berdua meninggalkan tempat itu. Siria menarikku keluar dari persembunyian kami. Kami berdua berlari menuju sebuah bangunan dengan kubah setengah lingkaran. Aku tercenung kagum melihat bangunan kuno dan artistik tersebut. 

" Ini namanya bosscha" Ucapnya lirih sambil terengah - engah selepas berlari. Aku masih ternganga kagum.  " Di bangun oleh Netherlandsch Indische Sterrenkundige Vereeniging atau NISV pada tahun 1923 sampai 1928 dan di biayai oleh Karel Albert Rudolf Bosscha makanya du namai Bosscha" Siria terus bergumam tentang tempat ini. Baru kali ini aku mendengar Siria berbicara kalimat panjang. " Tapi, Bosscha baru di serahkan ke pemerintah indonesia pada 17 Oktober 1951. Lama banget" Dari nada bicaranya, Siria menyimpan kekaguman besar pada tempat ini. Ia berjalan mendekatiku. " Yang ada di depan kamu ini, rumah teleskop reflektor ganda Zeiss kesayanganku. Masuk yuk" Ajaknya sambil meraih tanganku. 

Kami menyelinap masuk kedalam bangunan yang berisi satu buah teleskop raksasa yang mengarah keluar dari atap setengah lingkaran.  Siria memutar tekeskop itu seperti sedang mencari - cari sesuatu. Setelah menemukannya, ia menarikku untuk melihatnya. Aku mengintip dari lensa teleskop, aku melihat bintang bertabur dengan warna - warna berkilau indah dan tertata rapi pada sebuah susunan garis, seperti ikat pinggang. Aku menemukan sebuah bintang yang menarik perhatianku. Bintang paling benderang di antara yang lainnya. Cahayanya berkilau begitu syahdu entah mengapa seluruh tubuhku merinding di buatnya.

" Itu Sirius, bintang paling terang di galaksi bima sakti" Gumamnya. Siria duduk di anak tangga lalu aku menyebelahinya. " Ayah memberi nama aku seperti bintang itu, agar aku bersinar paling terang. Tapi ayah lupa satu hal, bintang - bintang di atas sana lama kelamaan akan redup lalu mati. Seperti aku saat ini, cahayaku redup. Aku di vonis kanker otak saat usiaku 12 tahun, berbagai macam pengobatan sudah aku coba... tapi gagal, sekarang  sudah stadium 4 rasanya percuma memaksakan diri untuk sembuh. Kemudian ayah menghiburku katanya tidak ada bintang yang mati sia - sia. Mereka mati setelah memuaskan mata manusia dengan kilauannya." Napasnya berat, ia berulang kali menghela napas. " Lalu, setelah ayah meninggal, aku memutuskan untuk pergi dan menjual rumahku. Aku mencari cara agar aku tidak mati sia - sia. lalu aku bertemu tempat ini" Udara yang begitu dingin membuat napas kami beruap. Aku penasaran dengan ceritanya. Aku memandanginya. 

"Ibumu ?" Tanyaku seolah ingin membuka kehidupan masalalu Siria.

" Ibu meninggal saat melahirkan aku" ia tertunduk memeluk kedua lututnya. Air mata menitik jatuh di anak tangga. 

" Maaf Siria, aku ...." Belum sempat aku meneruskan pembicaraan, aku di kejutkan dengan kondisi Siria. Ia merintih kesakitan, kedua tangannya memegang erat kepalanya. Badannya membungkuk dan hampir jatuh, aku memegang tubuhnya erat - erat. Rintihan Siria berubah semakin keras. Sesekali ia berteriak. Aku memeluknya.

" Siapa itu !" kedua satpam tadi berlari  menuju ke bangunan ini. Ia mendengar teriakan Siria. Aku memeluk Siria, aku panik setengah mati.

" La... La... Lari" ucap siria terbata - bata, aku secepat kilat menyambar syal di leher Siria, lalu mengikat tubuh Siria dengan tubuhku. Setengah menggendongnya, aku berlari sekuat tenaga. Kaki Siria terseret lemah. Aku terus berlari menerjang gelapnya kebun teh, jalanan yang menurun, dan batuan terjal membuatku kesulitan melangkah. Akhirnya aku limbung, kedua kakiku lemas, keringat mengucur dari seluruh tubuhku, perut sebelah kananku berdenyut - denyut dan berubah menjadi sakit yang luar biasa. Aku jatuh tertimpa tubuh Siria dan hilang  kesadaran, samar ku dengar Siria membisikan namaku.


***

Siria membuka matanya, dalam pandangannya yang masih kabur, ia melihat pemuda yang sangat ia kenali. Pemuda itu duduk di sampingnya. Tangan kiri Siria terasa hangat. Setelah jelas, barulah Siria tau kalau pemuda itu sedang menggenggam tangannya. Pemuda itu adalah pemuda tampan yang menyeretku sewaktu aku mengintip Siria mengajar.

" Adam, kamu ada disini?" Ucap Siria lirih, begitu lirihnya hingga terdengar seperti berbisik. 

" Siria, kamu ngapain ke Bosscha, aku sudah bilang jangan kesana, aku ngga ingin kamu sakit" Balas pemuda yang di panggilnya Adam. Suara Adam pun lirih, seolah mereka sedang berbisik - bisik.

" Cuma ingin nunjukin ke Lila" Tangan Siria masih dalam genggaman Adam.

" Anak itu ... gara - gara dia kamu jadi begini, untung aku lihat kalian lalu ku buntuti, kalau tidak ? " Adam sedikit emosi. Napasnya menjadi tidak teratur. 

" Aku yang ajak" Jawab Siria, matanya yang lembut melunakkan emosi Adam.

" Siria, aku ini cinta kamu, aku ngga ingin kamu kenapa - kenapa" Tangan Adam mengusap kepala Siria.

" Jangan cinta sama aku, Dam. Lagi pula aku ngga apa - apa kok. Lila bisa menjaga aku dengan baik" Siria memalingkan wajahnya ke jendela. " Lila mana ?" Siria mencemaskan aku.

" Di sebelah, belum sadar" Siria mengangkat tubuhnya, semuanya terasa sakit sekali. Adam melarangnya bangun, namun Siria tetap ngotot mencariku.

***
Samar ku rasakan tangan kurus siria membelai dahiku. Ku paksa mataku untuk terbuka, pandanganku buram. Bayangan Siria dan Adam di hadapanku.

" Siria" Ucapku lirih, lemah dan terbata. Dahiku terasa berdenyut begitu perih dan sakit, aku berusaha menyentuhnya,  namun tangan Siria secepat kilat mencegahku.

" Dahimu sobek kena batu" Gumam Siria sambil tersenyum.

" Kalo putus asa, jangan sengaja ngga minum obat ya ?" ucapku lirih. Tenggorokanku seperti tercekat. Siria terdiam. Matanya menerawang. Pandangan ku kembali kabur, aku kembali dalam pelukan mimpi. 

***

Pagi itu kami bangun di pondok yang sudah dua hari kami tinggalkan. Siria sedang mandi dan aku membuatkan sarapan untuknya. Ku persiapkan pagi ini dengan baik karena hari ini aku ikut mengajar dengan Siria. Sarapan sudah siap ku letakkan di bale depan. Beserta dua botol obat kami. Siria sudah selesai mandi kemudian duduk di sebelahku untuk sarapan bersama. Siria menyeruput teh terlebih dahulu. 

" Aku ngga pernah makan bareng kayak gini. Rasanya enak ya ?" Ucapku lirih, Siria menoleh ke arahku lalu tersenyum. " Sir" panggilku. Siria menoleh ke arahku lagi dan menatapku lekat. 

" Aku ngga perduli kapan Sirius akan padam. Yang aku tau, Sirius tetap berusaha bersinar meskipun redup" Gumamku. Mata Siria kemudian nanar. " Kamu juga harus gitu " Sambungku, mata Siria kembali menatapku kemudian tersenyum. Setelah menghabiskan sarapan dan minum obat, kami berdua segera bergegas menuju Rumah Pintar. Aku membawa serta semua gadgetku. 

***

"Pagi anak - anaaakkk" Teriak kami pada enam belas anak petani yang duduk bersila di hadapan kami. 

" Hari ini, kakak punya temen yang mau ikut ngajar di sini mau?" Siria mengawali kegiatan mengajar kami. 

" Maaaauuuu" mereka kompak menjawab.

" Kalau begitu, kenalin temen kakak nih, namanya Kak Lila" Siria memperkenalkan aku pada mereka. Mereka lucu dan polos. Wajah mereka teduh dan menyenangkan.

" Cantik Sekali" Ujar salah seorang anak perempuan di hadapanku.

" Kepalanya kenapa kak"

" Kakak keren, kayak artis"

" Kok kakak mau ngajar kami?"

Aku di hujani ratusan pertanyaan - pertanyaan lucu. Siria meninggalkanku hanyut bersama mereka. Kami bernyanyi, belajar lalu tertawa bersama. Aku begitu cepat larut dalam keadaan ini. Aku suka wajah lucu mereka ketika ku tunjukkan beberapa gadgetku sebagai sarana belajar. Mereka tampak heran dan penasaran. Mereka lahir jauh dari hingar bingar dunia.

***

" Siria, obatmu masih ?" Tanya Adam yang duduk di sampingnya.

" Masih, maaf aku ngerepotin" Gumam Siria. 

" Ngga Sir, Aku itu cinta kamu, kalo cuma beliin obat buat kamu ke kota mah ngga ngerepotin" 

" Jangan cinta aku, dam"

" Kenapa ? karena kamu sakit ? Cahayamu redup? Aku ngga perduli Sir..." Nada bicara adam meninggi.

" Dam..." Siria sedikit memohon.

" Sir, tolong jangan putus asa. Lihat Lila, meskipun penyakit yang di derita Lila sama mengerikannya denganmu, semangatnya untuk tetap hidup tinggi" Adam menceramahi Siria . Mata Siria memandang nanar ke hamparan kebun hijau yang indah.

***

Rasa lelah seharian bermaim dengan anak - anak itu, terbayar dengan segelas teh panas buatan Siria, di udara malam kota yang dingin ini, aku duduk di sebuah bale dan menikmati syahdunya hari ini. Siria datang, sembari menikmati tehnya kami berbincang.

" Yang tadi itu... pacar kamu ya Sir?" 

" Yang mana?" 

" yang biasanya Sama kamu"

" Adam ? Bukan... Kenapa?"

" deket banget, kayanya baik ya?"

Tergurat senyum di bibir Siria. Senyum yang tidak pernah ku tau apa maksudnya. Kami berdua menyiapkan makan malam bersama. Saling mengingatkan minum obat. Lama kelamaan, aku nyaman dengan tempat ini, lama kelamaan aku dekat dengan lingkungan ini, lama kelamaan aku lekat dengan Siria. Timbul perasaan sayang dan saling menjaga di antara kami. 

***

Pagi berikutnya seperti biasa, aku membantu Siria di Rumah Pintar, belakangan aku baru tau, rumah yang kami tinggali adalah buatan warga, sebagai tanda terima kasih untuk Siria. Akhir - akhir ini kondisi Siria memburuk,  Sakit kepala yang ia derita lebih sering kambuh meskipun rutin meminum obat. Siria juga sering absen mengajar karena tidak tahan dengan sakitnya. Akhirnya aku dan Adam membawanya ke Rumah Sakit.

Aku menemaninya di Rumah Sakit, meskipun lemah, Siria masih tampak cantik.  Meskipun aku sedikit terkejut mengetahui ternyata Siria botak. Beberapa hari yang lalu, Siria melepas wignya, yang berwarna tembaga kesukaanku. 

" Hai" Adam datang membuyarkan lamunanku. Ia membawakan bungkusan Es krim untuk kami berdua. " boleh minta waktunya?" Adam memintaku. Aku mengangguk kemudian aku keluar ruangan. Di luar, rasa bosan yang menggelayut membuatku terkantuk - kantuk.

***

" Sir, kamu harus bertahan, jangan tinggalin aku Sir" Adam merengek seperti anak - anak. 

" Dam, semua ini harus terjadi, hati yang kamu cari ada di Lila, Dam" Siria terbata - bata. Napasnya tersengal. 

" Jangan konyol Sir, kamu harus tetap semangat kayak Lila" Adam memohon. Matanya berkaca - kaca menahan kesedihan. 

" Dam, bilang ke Lila, aku titip hatiku buat kamu ya ... ?" Siria menangis, air matanya mengalir dan sesenggukan. Kepalanya berdenyut - denyut semakin keras. Siria kesakitan bukan main. Adam panik berteriak - teriak memanggil dokter. Air mata Adam yang sekuat tenaga ia tahan akhirnya jatuh berderai - derai. Dokter yang datang pun ikut panik. Mereka segera memberikan pertolongan kepada Siria. 

***

" Lila ! disini kamu ternyata !" Sebuah tangan menyeretku bangun dari kursi tunggu Rumah Sakit. Aku terhenyak, kaget setengah mati.

" Mama... Papa... kok kalian?" Belum selesai aku berbicara mereka sudah menyeretku keluar rumah sakit. " Apaan sih !" teriakku.

" Lila ! kamu ini sudah berani mencuri uang mama ya ! Lila kamu ini lagi sakit, kenapa cari masalah terus sih ! ayo pulang" Mama menyeretku masuk kedalam mobil. Mama dan papa mengomeliku sepanjang perjalanan. Aku tidak menggubris mereka, yang ada di pikiranku hanyalah Siria.
Sampai di rumah, aku di kurung di dalam kamar. Papa dan mama menyita ponselku. Aku sedih. Aku takut sesuatu terjadi pada Siria. Beberapa hari kemudian mama menyuruh orang untuk mengambil barang - barangku yang masih tertinggal di rumah Siria. Aku mendengar dari dalam kamar, mereka bertemu dengan anak perempuan botak dan seorang anak laki - laki seusiaku. Itu pasti Siria dan Adam. Sedikit perasaan lega menyerbu hatiku.

Berbulan - bulan aku tidak bersama Siria. Kedekatan singkat itu membuatku merindukannya. Dan Adam, entah mengapa gambaran wajahnya selalu muncul ketika aku memejamkan mata. Berbulan - bulan juga aku menikmati kegiatan baruku, kemotherapy, penyakitku memasuki stadium lanjut. Ada kemungkinan aku bisa sembuh jika ada orang yang mau mendonorkan hatinya untukku.

Rambutku mulai rontok, beberapa bagian di kepalaku sudah mulai botak. Aku sedih dan malu. Aku memutuskan untuk tidak keluar rumah. Kemo dan obat sudah ku konsumsi. Tapi tubuh ini semakin hari semakin lemas. Aku menghabiskan sisa hidupku untuk berbaring sambil membaca buku.

Kabar gembira itu datang. Mama bilang ada orang yang bersedia mendonorkan hatinya untukku. Setelah operasi dan berbulan - bulan koma, akhirnya aku di perbolehkan pulang. Aku menikmati hari dengan hatiku yang baru. Aku semakin merindukan Siria, Apa kabar ya dia? Mama dan papa melarangku kembali kesana. Hari demi hari berlalu, setiap malam aku menghabiskan waktu dengan berbaring di atas atap rumahku dan menatap bintang yang gemerlap. Aku senang, rambutku perlahan - lahan mulai tumbuh, tubuhku mulai berisi setelah sempat kurus. Aku ingin sekali menceritakannya pada Siria. Seperti malam ini, aku menikmati bintang, di atas bukit dengan hembusan angin. Aku melihat pada bintang yang ku yakin itu Sirius. Aku bercerita padanya. Aku harap ceritaku akan sampai kepada Siria, dimanapun ia berada.

" Terang ya ?" Seorang laki - laki tiba - tiba duduk di sebelahku dan mengagetkanku. Aku memicingkan mata, mencoba mengingat siapa laki - laki itu.

" Adam ?" Laki - laki itu hanya tersenyum sambil terus memandangi bintang. " Siria mana ? Bukannya kamu harus jagain Siria ?" Mata Adam mengabur sesaat, kemudian ia menghela napas dalam dan berat.

" Siria udah ketemu mimpinya, Dia ngga pengen mati sia - sia. Meskipun raganya mati, tapi jiwa, raga dan cinta Siria untukku tetap hidup " Gumamnya. Ada perasaan sesak mengganjal di dadaku mendengarnya.

" Hidup ? dimana ?" Ku kuatkan hatiku untuk menanyakannya. Tangan Adam menunjuk perut sebelah kananku.

" Disini" Ujarnya. Air mataku tak terbendung. Tangisku pecah, aku terisak sejadi - jadinya. Aku sedih, kecewa dan merasa di bohongi. Tapi aku begitu berterima kasih kepada bintangku. Adam memelukku erat. Aku menghabiskam malam itu dengan air mata dalam pelukan Adam.

Pagi ini, Adam mengajakku kembali ke kampung tempat Siria pernah tinggal.  Papa dan mama mengijinkanku setelah melalui banyak pertimbangan. Tak nampak lagi gubuk kecil tempat aku tinggal dulu. Rumah itu telah di robohkan. Di tanah bekas berdirinya rumah itu hanya tersisa sebuah blok batu besar. Batu Nisan. Aku mendekat perlahan sambil menata perasaanku. Air mataku terus bergulir sejak Adam datang. Ada banyak bunga segar tertata di atasnya. Bunga dari para murid. Aku duduk di samping batu itu dan membaca tulisannya.

Disini terbaring
bintang paling benderang di alam semesta yang telah padam
Luicja Siria Orion
Yang akan tetap hidup di hati kita
12 Des 1992 - 3 Jan 2014

 Aku memeluk batu itu erat - erat tangisku menjadi - jadi. Kurasakan pedih yang amat dalam. Adam memegang pundakku. Air mataku menggenangi batu itu. Aku tidak menyangka orang setegar Siria lebih cepat meninggalkan bumi. Tubuhku lemas, perasaanku mulai tenang. Kepalaku masih tertelungkup di atas batu itu.

" Siria bilang, di surga, malaikat kekurangan orang untuk ngehabisin eskrim jahe. Yang kelihatannya dingin tetapi menghangatkan. Siria seperti Es krim jahe ya?" Seperti bisa membaca pikiranku, Adam mengatakannya dengan lirih. Aku mengangguk pelan, tanganku meraba batu itu.
Terima kasih Siria, Terima kasih....

Tamat


Komentar

Postingan populer dari blog ini

S.O.S !!!

Begini saja, Aku Pamit !!

Menanggung Pertanggung Jawaban