SETAHUN YANG LALU
Aku menyeduh kopi lalu masuk kembali ke dalam kamar, ku nyalakan kipas angin dan perangkat komputerku yang mulai rewel. Aku mengklik aplikasi pemutar lagu untuk mendengarkan lagu - lagu kesukaanku. November Rain milik Guns and roses yang pertama di putar. Aku menarik napas yang dalam dan berat. Lagu itu menenggelamkan aku kedalam sebuah kenangan. Kenangan yang membuat beberapa butir air mata menggenangi pelupuknya. Kenangan yang membuat jemariku tanpa sadar menari di atas tuts - tuts keyboard. Kenangan yang membuat aku lupa dengan secangkir kopiku. Kenangan itu datang secara otomatis ketika lagu November Rain meraung - raung di telinga.
Setahun yang lalu, di bulan November tahun 2013. Masih hangat di dalam otak ini, aku adalah seorang gadis yang begitu beruntung. Sifatku yang hangat, wajahku yang tidak terlalu jelek, prinsip - prinsip yang aku bangun, juga pekerjaanku yang mentereng membuat beberapa orang iri. Aku juga punya kisah cinta yang menarik. Aku menjual kehidupanku pada pekerjaan yang aku cintai. Staff administrasi sebuah event organizer. Keren sekali bukan. Bahkan aku menjadi orang yang sangat sibuk, untuk sekedar mengobrol denganku pun, orang - orang terdekatku harus membuat janji denganku jauh - jauh hari. Aku bisa membeli apapun yang aku mau, aku begitu di banggakan oleh kedua orang tuaku. Hidupku sempurna.
Sabtu 02 November 2013, aku mengerjakan sebuah event yang cukup besar di sebuah pusat perbelanjaan. Bersamaan dengan hari itu, adik perempuan kekasihku melangsungkan pernikahannya. Seharusnya aku datang, sebuah kebaya merah cantik menungguku di sana. Namun aku tidak bisa meninggalkan tanggung jawabku. Aku bukan orang yang seperti itu. 19.00 WIB acara usai. Aku mencoba menghubungi kekasihku yang seharian ini belum memberikan kabar. Bukan berita bahagia yang ku dapat. Gambar tangan yang terpasang infus muncul di blackberry messangerku. Kaget dan panik setengah mati dengan tubuh yang amat sangat kelelahan, aku berkeliling untuk mencari tiket kereta api. Aku dan kekasihku tinggal di kota yang berbeda. Usahaku sia - sia. Tak ada tiket tersisa untukku menuju kesana. Dengan baik hati, kekasihku dan keluarganya memaklumi kemangkiranku dari situasi ini. Kondisiku sudah sangat kelelahan. Setelah itu, hubunganku berjalan seperti biasa.
Selasa 05 November 2013, pukul 11.00 WIB. Aku yang sedang mengerjakan laporan - laporan mengenai event yang sudah kami langsungkan. Aku sibuk sekali hingga kepala ini terasa penuh sesak. Belum lagi di tambah persiapan - persiapan menuju event besar berikutnya sabtu ini. Tiba - tiba dering ponselku memecah konsentrasiku. Ku lihat di layarnya kekasihku yang sedang memanggil. Ku abaikan hingga beberapa kali panggilan dan aku melanjutkan pekerjaanku. Lampu LED di sudut ponselku menyala tanda ada sebuah blackberry messanger masuk. Aku menyempatkan diri membuka. Dari kekasihku lagi. Dia ingin aku mengangkat telfonnya, ada pembicaraan penting yang ingin dia sampaikan. Aku menurutinya, aku menunda pekerjaanku, kebetulan supervisorku sedang pergi. Pembicaraan ini tentang pernikahan. Bukan seperti biasanya, bukan gurauan tentang andaikan kita menikah nanti. Pembicaraan ini menuju ke serius karena kedua orang tuanya turut berbicara. melalui telepon. Kepalaku berkunang - kunang. Tubuhku dingin dan berkeringat. Kepala ini rasanya ingin menggelinding saja jatuh ke lantai. Aku meminta waktu padanya 2 minggu untuk memikirkan semua ini karena aku sibuk sekali akhir - akhir ini dan jarang bertemu dengan orang tuaku. Jawaban mengejutkan yang ku dapat. " Kalo gitu, aku anggap kamu bilang tidak ! jangan cari aku lagi jangan hubungi aku lagi" kemudian dia menutup telfon dan semua akses untuk berkomunikasi dengannya. Bukan lagi air mata yang keluar mewakili perasaanku seperti biasa ketika kami putus nyambung karena hal yang sepele. Namun sesak yang luar biasa menambah beban pikiranku saat itu. Aku mati rasa.
Aku pun seperti biasa, seperti perempuan pada umumnya yang mendambakan pernikahan dan lamaran yang romantis. Bukan lamaran mendadak via telepon dan memaksaku menjawab saat itu juga. Bagiku, pernikahan bukanlah perkara menyatukan kedua anak manusia tengil yang ingusan dan hanya bermodalkan cinta. Bagiku, menikah itu menyatukan dua keluarga, dua tradisi dan dua prinsip jadi harus di musyawarahkan dengan matang dan baik untuk menerima atau menolaknya. Lagi pula, jika ada itikad baik seharusnya orang yang ku anggap sebagai kekasihku selama dua tahun belakangan itu datang kerumah tak perduli seberapapun jauhnya jarak yang terbentang, untuk meminta secara baik - baik kepada kedua orang tuaku. Baiklah cukup aku mengikhlaskannya.
8 menit 55 detik lagu November Rain berakhir. Aku mencium aroma kopiku lalu menyeruputnya. Lalu aku menyeka beberapa butir air mata yang sudah berjatuhan. Lagu Jar Of Heart milik Christina Perri menyeruak masuk kedalam gendang telinga. Aku kembali menarik napas dalam - dalam. Mengecap sisa - sisa rasa asam dari kopi yang ku minum. Otakku kembali membuka gerbang memorinya. Aku kembali masuk kedalamnya.
12 November 2013, aku berulang tahun yang ke 20. Seharusnya aku bahagia, tapi entah mengapa aku malas sekali pulang dari kantor. Dengan langkah gontai ku paksakan badan ini kembali kerumah. Dirumah, ternyata keluargaku sudah menyiapkan pesta kecil - kecilan. Tumben. Ada kue tart yang menunggu untuk ku potong dan ku habiskan sendiri. Karena di rumah, hanya aku yang suka kue tart. Ibuku berdalih kue itu untuk menghiburku yang sedang patah hati. Padahal aku sudah tidak merasakan apa - apa saat itu. Aku sudah terjun bebas di dunia karierku dan menenggelamkan diri di dalamnnya sehingga aku lupa bagaimana nampaknya orang patah hati itu
Aku beranjak sebentar dari layar monitor. Tubuhku merasa lelah setelah beberapa menit membungkuk di depan komputer. Posisi komputerku lesehan, dengan meja kecil sebagai alasnya. Ku raih gelas kopiku, ku sruput lagi hingga tinggal setengahnya. Kopiku sudah dingin. Aku duduk kembali di depan monitor. Tanganku memutar - mutar scroller pada mouse. Mencari - cari lagu yang enak untuk suasana hati. Muncul lah sebuah judul yang menggelitik untuk di klik. Angel oleh Sarah Mc Lahan mengembalikan aku ke dalam memori pilu beberapa bulan silam.
Sepanjang 6 hari aku sudah beranjak dari perasaan patah hatiku. Semua begitu mudah karena dia sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya. Akhirnya aku optimis dapat melalui semua ini dengan biasa saja dan tidak perlu mengalami lonjakan emosi yang berlebihan. Aku kuat.
21 November 2013, pertengkaran hebat terjadi antara aku dan atasanku. Memang hubungan kami kerap di penuhi dengan pertikaian kecil. Tapi kali ini hebat, tak terlupakan, dan lama. Aku sudah merasa kesal dengannya yang selalu membebaniku banyak hal hingga tanpa sadar terucap kata aku ingin keluar dan ingin istirahat, berulang - ulang dari mulutku. Aku yang sudah kelelahan mengucapkannya. Separuh hati sudah ku jalankan tugas - tugas yang di berikannya. Masih tak tersisa firasat apapun yang muncul.
Sarah Mc Lahan mengakhiri lagunya dengan kalimat "may you find some comfort here" di menit ke 4.30. Aku melirik jam yang terpasang di kamar. Pukul 16.00. Sebentar lagi adikku pulang sekolah. Tandanya waktu sendirianku telah habis. Aku tidak akan khusyuk lagi bercerita dan mendengarkan lagu - lagu favoritku. Tiba - tiba lagu Complicated-nya Avril Lavigne terdengar. Perasaanku kembali sesak. Seperti terjatuh kedalam jurang yang dalam, otak ini seketika mereview kejadian itu. Kejadian yang merobohkan pertahananku.
25 November 2013 pukul 09.00 WIB. Aku kecelakaan. Kecelakaan ku melawan truk trailer milik perusahaan bahan bakar terbesar di indonesia, merenggut tangan kananku. Tangan yang sangat penting, tangan yang tulangnya selalu aku banting untuk memenuhi kebutuhan dan kesenanganku, koyak berkeping - keping. Aku sadar betul dan melihat tangan kananku ketika di UGD. Hatikupun turut hancur membayangkan mimpi - mimpi dan cita - citaku berserakan bersama daging dan kulit tangan kananku. Aku sadar betul ketika pukul 12.00 aku masuk ke ruang operasi pertama kali. Aku Sadar ketika aku di pindahkan dari UGD ke ruangan biasa. Aku marah sekali dengan keadaan ini. Aku bahkan memarahi ibuku yang semestinya saat itu lebih sedih di bandingkan aku. Aku kecewa sekali.
26 November 2013 pukul 12.00 WIB, saudaraku menjengukku. Membawakan semua kesukaanku. Tapi aku tidak ingin makan. Dia bilang, mantan kekasihku menghubunginya setelah ia memposting fotoku yang sedang terbaring tidak berdaya di Rumah Sakit. Mantanku mengatakan bahwa semua kejadian yang menimpaku adalah karena aku menolak lamarannya. Lucu. Aku jadi semakin membenci keadaan ini
" Why you have to go and make things so complicated" kata Avril dalam lagunya. Aku bangkit dari tempat dudukku lalu pergi ke kamar mandi sebentar. Aku kembali lagi ke kamar lalu mematikan kipas angin karena suhu ruangan mulai menurun. Aku menyeruput kopi sekali lagi. Pikiranku kembali melayang di iringi lagu Barenaked Jenifer Love Hewitt yang muncul menggantikan Avril yang pungkas bernyanyi.
16 Desember 2013 aku keluar dari rumah sakit menjelang magrib. Aku kembali pulang kerumah. Aku rindu dengan suasana rumah. Semua orang di kampungku datang untuk melihat keadaanku. Aku anak baik menurut mereka. Sehingga tak sedikit orang yang hanyut dalam suasana dan memelukiku tanpa henti. Ada pula yang mengusap rambutku dan mengutuki si pengendara truk trailer yang orangnya sedang duduk di ruang tamu bersama bapakku. Tuhan menunjukanku mereka ketika aku sekeras hati meyakinkan bahwa aku tidak punya siapa - siapa untuk berkeluh kesah.
Aku menjalani hari - hariku dengan terbaring di tempat tidur. Karena susah sekali untuk bangun. Paha kananku di Graph untuk menambal luka menganga di tangan kananku. Sehingga untuk berdiripun akan sangat sulit.
Hingga bulan maret, tangan ini baru mentas dari luka - luka menganga yang mengerikan. Aku sudah bisa berjalan, berpakaian, tidur dengan berbagai posisi, masak, mandi, tapi tanganku belum bisa di gunakan dengan sempurna. Kulihat diriku di kaca, ku raba bekas luka kasar mengerikan, aku kembali jatuh. Jiwaku terhempas sedalam - dalamnya. Aku merasa takut sendirian, mengingat di jaman aku hidup ini, definisi tentang cantik sungguh sangat jauh dari apa yang aku miliki. Akhirnya, berkedok trauma masa lalu, aku membiarkan diriku sendirian. Mengungkung diri di dalam kamar dan menjauhkan aku dari interaksi dunia luar adalah satu - satunya cara menyelamatkan aku dari kekecewaan.
Namun kemudian ada saja orang yang datang padaku memberikan harapan palsu lalu pergi ketika aku sedang bahagia - bahagianya. Keterpurukanku membuat mereka menganggapku sasaran empuk untuk di permainkan. Menyebalkan. Aku tidak benar - benar sendirian, beberapa temanku sering datang mengunjungiku. Mereka pelita di duniaku yang mendadak mati lampu. Namun setelah mereka pulang, mereka seperti membawa pelita - pelita itu kembali bersama mereka dan duniaku mulai gelap lagi. Aku lelah dengan keadaan ini. Bosan setiap kali menghabiskan waktu di atas tempat tidur dan mendengarkan lagu. Aku jarang berbicara dengan orang rumah, karena mereka menganggapku lucu ketika aku menumpahkan perasaanku. Mereka tertawa, terbahak, mengasihani betapa konyolnya aku. Memuakkan.
Aku menyeka air mataku yang mulai berderai - derai. Napas ini sesak di buatnya. Aku menelungkupkan wajahku sejenak di atas meja. Menikmati perasaan hangat yang beringsut masuk kedalam hati ketika air mata ini sudah tidak hanya menetes namun mengalir begitu deras. Aku mengasihani diriku sendiri. Kemudian merutukinya dengan kata - kata penyesalan. Jiwaku limbung. Aku tidak punya apa - apa untuk bersandar. Kepalaku berputar - putar membayangkan orang - orang cantik dan sempurna di luar sana. Aku hanyalah titik - titik air hujan yang jatuh dari pinggiran genteng di bandingkan mereka yang sekaya samudra. Nyaliku menciut kecil sebesar biji kacang hijau. Aku menyerah pada titik ini. Aku bingung, apa alasan Tuhan masih membiarkanku hidup menjadi orang yang tidak berguna di tengah ekonomi keluargaku yang begitu ringkih dan hanya menanti roboh. Apa alasan Tuhan membiarkanku terkucil begitu jauh dari kehidupan manusia normal.
" When i found my self in times of trouble, mother mary comes to me, speaking word of wisdom Let it be" Suara Angella Vazquez mengalun merdu menguntai bait lagu Let It Be milik The Beatles. Lagu itu masuk mengisi relung hati dan menggeser perasaan anehku tentang hidup ini. " Let it be ... Let it be ...Let it be.." seperti sedang menasehatiku lagu itu mengayun sarat makna. Kepalaku bangkit, senyumku terkembang. Ku hapus jejak air mata di pipiku. Ku raih cangkirku lalu menyeruputnya hingga mendekati ampas kopi yang pahit. Lalu mulutku mengecap - ngecap menikmati rasa asam yang di tinggalkan perpaduan kopi dan gula. Ada sebuah optimisme yang muncul dalam pikiranku.
Hidup itu ternyata tak semudah yang aku bayangkan. Semua butuh proses untuk sesuatu yang ingin di capai. Seandainya ada hal yang tidak menyenangkan harus terjadi, percayalah itu bagian sebuah proses. Yang harus ku lakukan hanyalah membiarkan semua itu terjadi. Menikmati hidup yang di gariskan Tuhan. Aku percaya, Tuhan mempunyai alasan di setiap kejadian ini, seperti Tuhan menganugerahkan rasa pahit pada kopi karena Tuhan berencana mempertemukannya dengan manisnya gula. Meskipun rasa asam di akhir tegukan, percaya saja tidak ada orang yang kapok minum kopi.
Kita tidak bisa menyanyikan lagu Unbreak My Heart-nya Toni Braxton lalu semua orang menjaga perasaan kita agar tidak kecewa. Tidak semudah menyenandungkan Love Of My Life milik Queen agar orang yang kita cintai kembali. Yang perlu kita lakukan hanyalah menempatkan diri dan nengendalikan emosi.
Aku mematikan komputerku, meletakkan cangkir bekas kopiku di dapur, membuka jendela - jendela besar di ruang tamu lalu duduk di sofa ruang tamu menghadap kali yang mengalir. Mencium aroma pepohonan yang di hantarkan angin. Mencium kebebasan. 25 November 2014 nanti, jika aku terbangun lalu keluar rumah dan masih mendapati birunya langit ketika ku tengadahkan kepalaku seharusnya aku bersyukur karena setahun yang lalu, selama 22 hari aku merindukan kebebasan, karena saat itu ketika aku membuka mata, yang ku temukan adalah plafon rumah sakit yang putih dan pucat. Semilir angin di penghujung senja mendamaikan jiwaku, menarik jatuh imajinasiku kedalam alam bawah sadar. Zzzzzzzzz.
TAMAT
*clown*
Cerita ini adalah kisah nyata saya jadi sangat tidak di perkenankan untuk meng-copy dan mengutipnya tanpa izin.
Komentar
Posting Komentar