SEBARIS CERITA TENTANG SEBUAH PERASAAN


Hatiku selalu tergelitik melihat tumpukan kertas kosong. Biasanya, aku langsung memenuhinya dengan tulisan atau gambarku. Aku selalu menumpahkan isi otak dan hatiku diatasnya. Sekarang aku tidak bisa melakukannya. Bukan karena sibuk, waktuku sangat luang untuk sekedar bermalas-malasan, menonton televisi, menghabiskan cemilan, atau bukan juga karena malas, sungguh niatku sangat besar untuk melakukan itu. Aku cacat sekarang, tangan kanan ku, entah seperti apa kalian menyebutnya sekarang. Aku sangat membenci keadaan ini.

Saat ini aku sedang kalut entah jatuh cinta atau patah hati. Bagaimana tidak, acap kali aku jatuh cinta, aku di todong oleh perasaan malu dan tau diriku. Kali itu memang salahku. Beraninya aku jatuh cinta lagi dengan orang lama. Seseorang yang pernah berkali - kali mengusik hatiku. Pertahananku runtuh ketika dia mulai meyakinkan jika dia sanggup menerimaku apa adanya. Itu yang aku cari. Mau apa lagi ? kemudian egoku mulai terkikis dan aku mulai jatuh cinta. Dorongan bahagia menggerakkan tanganku. Ya, aku menulis lagi. Sebaris cerita tentang sebuah perasaan yang mulai mengisi ruang kosong didalam pikiranku. Melewati dimensi waktu, aku dan dia semakin dekat, perasaan ingin memiliki pun mulai bergejolak. Meletup - letup riang seolah ingin mulut ini segera memuntahkannya.

Tangan cacat ini semakin rajin menulis. Tak lagi perduli dengan rasa nyeri luar biasa tiap kali berayun menggoreskan sebuah tulisan. Tapi aku senang bisa mengabadikan perasaan ini.

Dia menyempatkan diri menjengukku. Dia tinggal di luar kota. cukup dramatis dan mampu membuatku lupa tidur malam beberapa hari. Puluhan pesan berisi kata-kata surga dia layangkan untukku. Sayangnya kami belum resmi. Aku gelisah dengan apa maunya. Perasaan ingin mengungkapkan namun takut kehilangan mulai mengisi lembaran kertas kosongku.

Kemudian keberanianku terkumpul untuk sekedar menagih sebuah kepastian. Sudah ku duga tak akan seperti keinginan. Pertanyaan yang ku ajukan bagai berjumpa dengan jalan bercabang, berbelit belit dan tak nampak ujungnya. Aku cukup peka membaca sinyal yang dia nyalakan. Aku mundur.

Kertas - kertas itu belum kosong. Tangan ini masih kuat menulis. Sebaris cerita tentang sebuah perasaan. Perasaan hancur, kecewa, terpuruk, malu, benci semua tertumpah dalam satu judul.

Kertas - kertas itu, akhirnya bertemu muaranya. Tempat sampah di sudut kamar. Bersama kapas bekas dan bungkus pembalut.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

S.O.S !!!

Begini saja, Aku Pamit !!

Menanggung Pertanggung Jawaban