ESPRESSO MACCHIATO


Pagi ini aku terburu - buru sekali. Kuliah dimulai tiga menit lagi, aku berlarian mengejar angkutan umum. Aduh ... makin laper karena belum sarapan dan makin bau karena belum mandi. Komplit ! Sampailah aku di gerbang kampus. Sekarang bonusnya aku harus berlarian di sepanjang koridor menuju kelas. Napas yang masih on off on off terpaksa ku abaikan. Di depan kelas, adrenaline ini pun belum bisa beristirahat karena dosen paling killer sepanjang sejarah kehidupan manusia sudah bertengger cantik di ruangan. Akhirnya dengan terpaksa aku berjalan mengendap - ngendap ketika bu Mia sedang menulis di White board. Sedikit lagi aku sampai di bangkuku.
" Ellen ! " Tanpa berbalik badan bu Mia memanggilku. Sekujur tubuhku menjadi kaku. Masih dalam posisi berdiri bu Mia berjalan mendekatiku. Mampus ! Bu Mia selain galak perempuan flamboyan itu perfeksionis dan detail.
" Bagus kamu ya ! Udah telat, nggak mandi, belum sarapan lagi !" Tuh kan ! tanpa di beri tahu bu Mia sudah bisa menebak.
" Emm maa maa maaf bu ... ess sa saya kesiangan" Mulutku tiba - tiba saja kelu sehingga aku terbata - bata.
" Ellenina Maria Sandra ! kalau besok kamu masih berangkat terlambat, tidak mandi, pakai baju dan sepatu lusuh ke kampus, saya akan mengajukan skorsing buat kamu !" Bu Mia kembali menulis. Akhirnya adrenaline ini mengendur.
***
" Yaa ampun Ell, kamu tuh tomboynya kelewatan tau nggak ! jorok banget lagi !" Celetuk sahabatku Carina.
" Iya nih, jangan mentang - mentang kuliah ambil sejarah, tampilan kamu jadi kaya manusia purba gini dong" Sahut Nami. Aku juga tidak paham kenapa makhluk sejenis mereka ini mau berteman denganku yang awut - awutan ini.
" Maaf deh, semalem aku kemaleman pulang dari Coffee Shop, capek pula jadi telat bangun deh ..." Aku memang bekerja paruh waktu di toko kopi di dekat kost, sebagai anak rantau, aku tak mau merepotkan kedua orang tuaku.
Tiba - tiba di meja seberang, duduklah seorang cowok yang belum pernah ku lihat berkeliaran di area kampus. Kaca mata berbingkai gelap, senyum yang manis dengan dua buah lesung pipit di hadirkan di hadapanku. Mata ini terus saja memandanginya tanpa berkedip, aku yakin sekali si empunya wajah merasa risih, buktinya sekarang dia balik menatap ke arahku. Kemudian dia tersenyum kecil. Aku kaget bukan main ketika menyadari dua orang sahabatku sudah melotot memandangiku.
" Ellen ! " Gertak Carina membuyarkan lamunanku.
" Yaa ampun Ell ..." Nami menyahut heboh membuatku tersipu malu karena sekarang seluruh mata di kantin menatapku termasuk si pemilik senyum lucu itu.
" Ih ! pada berisik ! ngomongnya jangan kenceng - kenceng ! a malu tau ! itu siapa sih?" Selorohku pada mereka setengah berbisik.
" Yang mana? " Carina membalik tubuhnya dan mengedarkan pandangannya.
" Duh jangan nengok gituu" Aku masih berbisik.
" Itu Jona, anak manajemen bisnis, jarang masuk sih ... tumben juga dia di sini" Sahut Nami dengan lancar seolah sudah hapal betul dengan apa yang di ucapkannya.
" Kenapa Ell ?? naksir ?" Goda Carina.
" Aduh ... jangan mimpi, cewek secantik Sisil aja di tolak" Sambung Nami menurunkan semangatku.
" Iya Ell, tipenya Jona itu yang manis, feminim, anggun, kamu mah ngga bakal bisa deh ...." Sahut Carina. Aku cemberut sambil melanjutkan makan siangku.
***
Sore ini aku begitu bersemangat, entah mengapa sampai di Coffee Shop pun aku masih senyum - senyum sendiri membayangkan Jona. Setelah berganti pakaian, segera ku raih notes dan pulpen lalu keluar untuk melayani pelanggan.
" Sore Ibaasss ! " Sapaku penuh semangat pada sahabatku di Coffee shop.
" Weeeiitzz girang ! ada apa nih ?" Ibas mengernyit keheranan.
" Biasa aja biasaa " Sahutku sambil lalu.
" Tumben, biasanya nona monster pasang muka ajaib ?" Ibas masih saja menanggapi obrolan kami.
" Ibas Satria Anggara ! don't lebay oke ? Yuk kerja chop chop !" aku mengakhiri obrolan.  Aku langsung berdiri di depan pintu masuk untuk menyambut pelanggan.Seorang tamu masuk ketika aku sedang nembetulkan penampilan. Menyadarinya segera aku mengucapkan tagline toko kami.
" Selamat datang di Coffee Shop La Delish, ngopi aja dulu biar semangat ! Silah...kan" Betapa kagetnya aku ternyata tamu yang masuk adalah Jona. Aku langsung tertunduk malu. Aku menjadi tidak berkutik karena aku yang harus mencatat dan mengantar pesanan Jona. Dengan gugup aku berjalan menuju meja tempat Jona duduk.
" Emm... silahkan... mau pesan apa?" Tanganku gemetar menyerahkan daftar menunya.
" Espresso Macchiato dingin sama strawberry cheese cake ya?" Secepat kilat Jona menjawabnya. Baguslah ! karena wajahku mulai memanas di buatnya. Aku segera masuk ke dapur untuk menyiapkan pesanan. Aku duduk di sebuah bangku tinggi di dapur menunggu barista meracik kopi untuk Jona. Aku melamunkan seseorang yang pesanannya sedang ku siapkan.
" Hayo ! ngliatin siapa ?" Ibas mengagetkanku. Akupun gelagapan di buatnya.
" Ah engga ... " Aku kebingungan dan malu setengah mati.
" Ready nih Ell..." barista sudah memanggil di iringi bunyi bel pesanan yang di tekan berulang - ulang. Ini kesempatan aku kabur dari interogasi Ibas. Meskipun gugup dan gemetar aku mengantarkan pesanan ke meja Jona.
" Silahkan, Espresso Macchiato dan Strawberry Cheese cake nya" ucapku sembari meletakkan pesanan di mejanya, untung seragamku di lengkapi topi sehingga muka gugup kemerahanku tersembunyi. Setelah meletakkan pesanan aku pun terkejut melihat Jona yang rupanya sudah lama memandangiku.
" Kamu, cewek yang tadi siang ya?" tegurnya. Hatikupun girang bukan main. Rupanya dia mengenaliku meskipun sudah berganti kostum.
" Ah... iya" sekuat tenaga aku menjawabnya menutupi kegugupanku.
" Terima kasih" ucapnya seketika sambil menyunggingkan senyumnya yang manis.
" Permisi" balasku. Segera aku masuk kedalam dapur. Tak bisa ku sembunyikan perasaan bahagiaku, aku melompat - lompat kegirangan. Setelah sadar baru ku lihat seisi dapur memandangiku termasuk Ibas.
***
" Hai ... ini undangan ulang tahun ku, kalian harus dateng ya ! kamu juga Ell dandan yang cantik" Ucap salah seorang teman kami. Namanya Bella, gadis itu adalah Bu Mia kedua di kampus ini. Bella berlalu, aku masih duduk bersama Carina dan Nami di kantin.
" Ell, kamu ngga mungkin dateng dengan koleksi baju kedombronganmu itu deh kayaknya" Carina memandangiku dari atas ke bawah.
" Sepatu, Rambut, kulitnya juga nggak" Sambung Nami.
" Aduh, aku sih ngga mikirin itu, aku bingung dateng sama siapa?" Keluhku sambil menggaruk rambutku yang ku ikat asal.
" Ih itu sih kamu ajak aja si Ibas, kan ganteng tuh..." Carina berkomentar asal.
" Sama Nami aja deh Nam ?" Bujukku.
" Ngga lah ... aku udah ada yang ngajak" Tolak Nami.
" Ya udah, Ibas aja ! Nanti habis jam terakhir kita tunggu di parkiran, kita ke Mall cari baju buat Ellen" Carina menutup pembicaraan lalu bangkit meninggalkan aku dan Nami yang kemudian menyusulnya.
***
" Detik ini, kamu harus nurut apa kata aku dan Nami. Tidak boleh bantah ! karena ini buat kebaikan kamu" Gumam Carina sambil menarik - narik lenganku kedalam sebuah Mall besar. Ini hal yang paling aku benci ! Gimana nggak ? di paksa masuk ke mall, belanja barang - barang yang aku ngga ngerti buat apa, bareng dua nenek sihir gila shopping. God, save me please !
" Pertama, kita harus ke salon ! kita ubah manusia awut - awutan ini jadi lebih manusiawi" Nami nerocos ngga karuan sembari mendudukanku di kursi salon, mulailah mbak kapster melakukan kegiatan yang ku sebut penganiayaan. Rambutku di gunting - gunting, kuku kaki dan tangan di meni pedi dan yang paling serem adalah cabut alis. Setelah selesai, aku melihat kekaca berkali - kali karena belum yakin kalau itu aku. Lumayanlah dari Ellen si dekil jadi Ellen feminin. Setelah beli baju sepatu dan aksesoris akhirnya Carina dan Nami melepaskan aku. Kesempatan ini aku gunakan untuk pergi ke Coffee Shop bertemu dengan Ibas.
" Hai, sore karyawan La Delish ! Ibas mana?" Sapaku renyah tapi tak ada jawaban, mulut mereka hanya ternganga melihat penampilanku. Akhirnya yang ku cari muncul juga.
" Wow ! ya ampun ! Keracunan apa sampe berubah gini?" Ibas dengan gayanya yang sok lebay menggodaku.
" Udah lah brother, nanti malem ikut aku ya? dandan yang kece oke? byee..." Ucapku lekas akan beranjak setelah memberikan undangan ulang tahun Bella kepada Ibas. Langkahku tiba - tiba terhenti setelah melihat sosok yang begitu ku kenali. Spontan aku merebut Notes dan pulpen dari tangan Ibas lalu berlari ke samping pintu.
" Selamat datang di Coffee Shop La Delish, ngopi aja dulu biar semangat ! Silahkan" Ucapku kepada tamu yang datang. Orang itu langsung duduk di tempat favoritnya, meja untuk dua orang di samping jendela. Aku langsung menghampirinya.
" Silahkan mau pesan apa?" Tawarku sambil menyerahkan daftar menu kepadanya. Namun orang itu tidak melihat menu yang ku berikan.
" Espresso Macchiato sama Strawberry Cheese Cakenya boleh?" Aku secepat kilat mencatat pesanannya dan bergegas membalik badan menuju dapur.
"Sorry" panggilnya ketika aku belum sempat melangkahkan kakiku. Dengan gugup aku membalikan badanku kembali.
" Ya?" jawabku dengan pura - pura lembut menutupi perasaan malu dan senangku yang meletup - letup.
" Ngga pake seragam?" tanyanya datar sambil mengernyitkan dahi keheranan. Aku gugup dan bingung setengah mati di buatnya.
" Em... anu... e ... aku... a...a...aku... udah mau pulang ! heheh iyah ! udah mau pulang" Seperti tercekat tenggorokan ini susah sekali di ajak berbohong. Padahal aku sedang cuti gara - gara mempersiapkan ulang tahun Bella.
" Oh..." jawabnya singkat kemudian ia kembali berkutat pada gadgetnya. Aku langsung kabur menuju dapur. Dengan ngos - ngosan aku menyerahkan pesanan pada barista.
" Menu yang sama Ell ? cowok kemarin ? pacar kamu?" Barista yang membuatkan pesanan Jona adalah Kak Nugie sama seperti kemarin.
" Eh ... bukan - bukan kak ! " Jawabku tersipu. Untung saja kak Nugie tidak merespon dan langsung tenggelam dalam menu pesanan.
***
Setelah mengantarkan pesanan untuk Jona, aku bergegas pulang. Aku biarkan saja si Ibas yang membereskan cangkir kopi Jona. Tanpa ku ketahui, Jona meninggalkan sebuah pesan untukku di balik kertas struk, yang di jepit di bawah cangkir kopi. Ibas menemukannya.
Meskipun berbeda, aku tetap mengenalimu.
Meskipun lebih anggun Kamu tetap perpaduan antara Espresso Machiato dan Strawberry Cheese Cake.
Itulah yang membuatku datang meskipun aku tidak sedang ingin minum kopi.
J.A
***
Aku masih saja belum tahu Jona meninggalkan pesan untukku. Malam inj tiba, malam dimana aku berpenampilan aneh dengan gaun Midi selutut berwarna pastel dengan rambut rapi sebahu dan sepatu hak tinggi. Ibas melotot melihat penampilanku. Aku pun kaget ternyata ibas bisa berpenampilan casual selain seragam La Delish yang tiap sore ku lihat. Akhirnya aku datang ke ulang tahun Bella bersama Ibas. Setelah menyerahkan kado, cipika cipiki, dan menanggapi basabasian temen yang heran dengan perubahan wujudku, aku dan Ibas segera melipir ke pinggir dekat kolam renang. Kondisi pesta masih sepi karena aku termasuk empat pasangan yang paling awal. Semakin malam, peserta pesta mulai ramai, dan akhirnya datanglah Carina bersama pacarnya seorang pengusaha muda yang sukses. Carina segera menghampiriku dan Ibas setelah bertemu Bella.
" Hai Ell, gimana? cakepkan kamu ?" Puji Carina padaku yang secara tak langsung memuji hasil karyanya sendiri.
" Iya lahh Ellen gitu loh" Sambungku menyombongkan diri. Kami berempat asyik ngobrol kesana kemari sambil menunggu Nami datang. Mobil sedan hitam memasuki parkiran rumah Bella, aku tahu persis siapa pemilik sedan itu. Seorang laki - laki turun kemudian membukakan pintu untuk Nami. Betapa terkejutnya aku ketika Nami dan pasanganya mendekat. Senyum berlesung pipit itu, kaca mata berbingkai hitam itu, aku tahu milik siapa. Jona. Melihatku terkejut, Nami malah tersenyum pamer. Gemuruh tiba - tiba menggelegar dalam hatiku.
" Hai Car, Ell... udah lama nunggu?" Sapa Nami tanpa dosa kepada kami. Jona melempar senyum padaku namun tidak ku balas.
" Sebentar ya?" Carina menarik lenganku dan Nami menjauh dari kerumunan. Jona, Ibas dan pacar Carina di tinggalkan begitu saja.
" Maksud kamu apa sih Nam ?" Carina menginterogasi Nami di hadapanku. Aku belum ingin bicara.
" Maksud apa sih ? Aku ngga ngerti ?" Nami masih saja pura - pura polos.
" Maksud kamu dateng kesini sama Jona" Carina makin tegas.
" So Why ? Jonathan yang ngajakin aku ? siapa yang bisa nolak ajakan Jona ?" Tidak ada sedikitpun nada bersalah keluar dari mulut Nami.
" Tapi kan kamu tau kalau ..." Carina melirikku, kami semua tau apa kelanjutan perkataan Carina.
" Kalau apa ? kalau Ellen suka sama Jona ? terus kalo Ellen suka sama Jona aku ngga boleh suka ?" Nami ngotot. Perkataannya membuatku angkat bicara.
" Kenapa kamu ngga ngomong sebelumnya Nam ?" Aku berusaha lembut.
" Harus ya ngomong dulu sama kamu ?" Nami makin ngotot. Emosiku memuncak namun yang keluar bukan kata - kata kasar melainkan air mata.
" Berarti usaha kamu seharian ini ngerubah aku biar aku bisa liat kamu jalan sama Jona ?!" Tak ada jawaban dari Nami. Nami membuang muka. " Tega kamu Nam ... tega banget" Air mataku berderai - derai. Aku meninggalkan Carina dan Nami, aku berlari melewati Jona. Ibas membuntutiku dari belakang.
Sampai di parkiran, aku melepas sepatu hak tinggiku. Ibas segera menyalakan motornya. Aku segera naik. Tak ku perdulikan kemana ibas akan membawaku. Aku masih saja menangis di punggung Ibas. Tiba - tiba Ibas menghentikan laju motornya di sebuah tempat. La Delish. Ibas mengeluarkan kunci Coffee Shop. Setelah menyalakan lampu, Ibas mendudukanku di kursi tamu. Aku masih menangis menelungkupkan tubuhku di atas meja ketika Ibas meninggalkanku ke dapur. Entah apa yang di lakukannya. Aku mencium aroma coklat dan karamel, berpadu menari - nari di hidungku dan menghentikan tangisku sejenak. Ibas keluar membawa sebuah nampan berisi dua buah cangkir. Di tangan kanannya tergantung sebuah tas plastik yang amat ku kenali.
Setelah meletakkan nampannya di hadapanku, Ibas memberikan plastik itu kepadaku. Plastik itu berisi sepatu lusuh musuh bebuyutan Bu Mia yang ku simpan di loker karyawan.
" Ini apa" Ucapku sambil menunjuk dua cangkir di hadapanku.
" Cobain aja" Ibas mengambil salah satu cangkir lalu meminumnya. Aku mengikutinya, tapi aku membaui aroma minuman itu terlabih dahulu baru mencicipinya. Mulut dan lidahku di buat tenggelam dengan rasa hangat dan creamynya juga rasanya tidak terlalu manis. Ibas menaikkan satu alisnya tanda meminta pendapatku.
" Hmmmm... eeeenaaaakk" Ucapku sambil tersenyum lalu menenggelamkan hidung dan mulutku kedalam cangkir.Perasaanku seketika berubah menjadi tenang.
" Coklat karamel anget bisa ngerubah mood" Celoteh Ibas. Aku meletakan cangkirku yang isinya tinggal setengah.
" Aku, seumur - umur jadi karyawan belum pernah duduk di sini sambil nyicipin menu." Gumamku. Mataku menerawang keluar jendela memandangi temaram lampu jalanan di malam hari. " Eh, kamu kok bisa bikin ini sih ?" Sambungku.  Ku tatap Ibas dengan penuh heran. Ibas terkekeh kecil.
" Kak Nugie pernah bikinin waktu aku lagi kesel sama seseorang. Karena enak, aku minta di ajarin resepnya" Ibas terus mengoceh panjang lebar. Sama sekali Ibas tidak menanyakan aku tentang sebab aku menangis. Ibas memberiku tissue untuk mengelap pipiku yang belepotan karena mascara yang luntur sewaktu menangis tadi.
" Kamu Cantik" Gumam Ibas tak jelas namun samar - samar aku mendengarnya.
" Hah ? apa?" Aku ternganga mengharap Ibas mengulang ucapannya. Namun Ibas hanya menggeleng. Setelah minuman kami habis, dan Ibas mencuci cangkirnya, Ibas mengantarku pulang ke kost. Ibas langsung pamit pulang, setelah bersih - bersih badan aku langsung merbahkan diri ke tempat tidur. Melamunkan kejadian hari ini lalu tertidur.
***
Pagi ini sedikit berbeda, aku datang kuliah lebih awal dan aku mengenakan rok pemberian mama yang selama ini hanya ku tumpuk dalam lemari. Belum seperti Bella, Carina, atau Nami sih apalagi seperti Bu Mia. Tapi ini cukup manis untuk seorang Ellen. Aku juga bingung apa yang merasukiku, aku rasa Coklat karamel buatan Ibas semalam cukup kuat efeknya. Dari awal memasuki area kampus seluruh mata memandangiku tidak percaya. Dengan cueknya aku melangkah kedalam kelas lalu duduk di bangku paling depan. Yang ku tunggu akhirnya datang.
" Ya Tuhaaannn terima kasihhh.... Ellen, Ibu ngga nyangka kamu secantik ini" Puji bu Mia sambil terus memandangiku. Aku tersenyum penuh kemenangan. Usai kuliah aku tidak buru - buru ke Coffee Shop. Aku mampir ke kantin kampus dulu untuk menemui Carina. Hanya Carina, karena sejak kejadian semalam, aku memutuskan untuk tidak berbicara pada Nami. Ku lihat Carina sudah duduk di tempat biasa kita nongkrong.
" Haaai, Car" sapaku sembari meletakkan buku - bukuku lalu duduk di hadapan Carina.
" Eh, Ellen.... betah juga kamu pake rok? ngga kerepotan ? Ngejar bisnya ?" Carina memberondong karena keheranan.
" Ngga ngejar bis, hari ini aku berangkat awal" Jawabku ringan.
" Ih tumben, gimana kamu ketemu si itu ngga tadi ? ih aku bener - bener ngga nyangka ya dia bisa gitu ? sumpah aku kaget loh" Cerocos Carina.
" ssst ... Car, udah ya ... jangan bahas itu plis" Mohonku, akhirnya aku dan Carina ganti topik. Sekilas ku lihat Jona melihatku dari kejauhan lalu tersenyum namun ku abaikan. Pukul 3 sore, aku harus bergegas menuju ke Coffee Shop.
***
Seperti kemarin, suasana Coffee shop masih menyenangkan. Masih beradu mulut dengan Ibas dan menebarkan senyum tanpa kontrol. Hal yang berbeda justru terjadi ketika sosok Jona muncul. Aku tidak lagi ingin menulis pesanannya atau bahkan sekedar melihatnya dari jendela dapur. Aku mengikhlaskan diri menggantikan Neta cuci piring. Di La Delish hanya ada 6 karyawan, Coffee Shop ini milik Kak Nugie dan kak Abra, keduanya adalah barista di sini, kemudian ada aku dan Ibas sebagai waiterss dan ada Neta dan Iggy di bagian cuci piring. Jadi dengan mudah aku bisa bertukar jobdesc selama keduanya sama - sama setuju. Ibas yang menerima pesanan Jona, ia juga yang membereskan cangkir Jina. Tanpa ku ketahui Jona meninggalkan pesan di balik kertas struk di bawah cangkirnya.
Espresso Macchiato pesananku hangat,
yang sampai ke meja dingin. Kemana orang yang menghangatkan
cangkirku dari dapur ke mejaku ?
J.A
***
" Ell, aku anter pulang yuk ?" Ibas menyusulku yang baru berjalan beberapa langkah keluar dari Coffee Shop.
" Iih tumben ? lagi ulang tahun ya ? traktir dong ?" Gurauku.
" Udah tungguin aja ah ... bawel deh" Omel Ibas yang kemudian berlari masuk mengambil helm dan jaket. Aku segera naik ke sepeda motor Ibas. Biasanya, jika aku pulang jalan kaki hanya 15 menit dari Coffee  shop sampai kost. Di bonceng Ibas rasanya sudah cukup lama dan semakin menjauh dari kost ku. Curiga Ibas punya niat jelek, aku mulai berteriak - teriak tidak karuan.
" Ibas, kita mau kemana ! Ibas ih ! turunin akuuu ! Ibas !" Tidak ada jawaban dari Ibas membuatku makin parno. " Ibas, jangan - jangan kamu ini komplotan penculik ya ? Ibas lepasin aku ! Ibas ! Toloooooonggg" aku masih meracau.  Sampai di suatu taman, Ibas menghentikan laju motornya. Ia menyuruhku turun kemudian ia menarik pergelangan tanganku begitu kasar. Ibas membawaku ke tukang eskrim keliling. Ibas membeli 3 cone es krim dan 2 buah permen kapas. Ia mengajakku duduk di pinggiran taman yang penuh lampu malam itu. Ia memberikan 2 cone eskrim kepadaku.
" Jangan bilang kamu ngga suka eskrim ! boong banget kalo ngga suka" tebaknya. Aku tidak menggubrisnya, ku nikmati kedua eskrim pemberian Ibas.  Setelah es krim habis perhatianku beralih ke kembang gula.
" Ell, aku sayang kamu" sayub - sayub ucapan Ibas menghentikan acara makanku.
" Aku sayang kamu, Ellen" Ulangnya sedikit lebih keras. Aku memasukan sisa permen kapas kedalam kemasannya lalu meletakannya di sampingku.
" maksudnya?" aku menanggapi perkataan Ibas dengan ekspresi cukup serius.
" mau jadi pacarku ?" ucapnya dengan lancar. Aku mencerna kalimatnya dan mendeteksi apakah dia main - main atau tidak.
" aku serius Ell, mungkin ini bodoh, tapi aku serius" Ucapnya tak sabar menanti jawabanku.
" Iya" jawabku singkat. Ada perasaan bahagia menyeruak masuk kedalam hatiku.
" Ha ? iya ? iya mau ?" tegasnya sekali lagi. Aku mengangguk. Ibas memelukku kegirangan. Singkatnya, aku dan Ibas pacaran.
***
Empat bulan sudah aku menjalin hubungan dengan Ibas, namun masih saja mulut kami cekcok. Empat bulan pula aku tidak menyadari jika Jonathan sudah tidak muncul lagi di hadapanku. Minggu ini kuliahku libur, aku memutuskan untuk tidak pulang kampung dan tetap bekerja full time malah, agar saldo tabunganku cepat bertambah. Pagi itu aku datang ke La Delish menggantikan Ibas yang masuk sore karena ada acara keluarga. Seperti biasa, sebelum bekerja aku meletakkan semua barangku di loker karyawan. Loker Ibas berada tepat di seberang lokerku. Selembar kertas menyembul di bawah pintu loker. Aku penasaran, ku tarik selembar kertas yang ternyata sebuah struk pembelian dari kedai kami. Tertera di struk bahwa yang di pesan adalah secangkir Espresso macchiato dan sepotong strawberry cheese cake. Aku mengenalinya, kertas itu aju mengenalinya. Ku balik kertas struk tersebut terdapat sebuah pesan.
Ellenina Maria Sandra,
Hai Espresso Macchiato, aku baru tau namamu begitu indah.
Susah sekali mencarinya di daftar mahasiswa.
mungkin entah kapan kita bisa bertemu lagi, aku pasti akan merindukan
Jeans baggymu yang bolong dan sepatu lusuhmu.
Sampai Jumpa
Jonathan Aldion
PS. aku asdosnya bu Mia Lho

aku membuka paksa loker Ibas, kertas - kertas yang sama berhamburan di hadapanku, ku punguti lalu ku baca satu persatu. Ada perasaan kecewa meladak di dalam hati. Ibas datang memergoki ku sedang membaca pesan dari Jona. Aku berdiri mendekati Ibas.
" Ini apa? " selorohku sambil menunjukan kertas - kertas dalam genggamanku. Ibas terdiam. Ia hanya memandangku.
" Berapa lama kamu simpan ini ?" tanyaku lagi. Ibas masih tidak menjawab.
" Kamu tega ya sembunyiin ini semua dari aku demi kesenangan kamu ! kamu tega ! kamu sama kayak Nami" gertakku sambil melempar kertas yang sedari tadi ku genggam. Aku menangis, keluar dari ruang karyawan. Ibas berusaha meraih tanganku namun tidak berhasil. Aku berlari keluar Coffee Shop sembari menitikkan air mata. Aku berlari sejauh yang aku bisa, namun tanpa sadar kaki ini berlari ke kampus. Aku terus berlari ke taman tempat mahasiswa biasa ngumpul. Hari itu taman kosong. Aku duduk di atas rerumputan sambil menelungkupkan wajahku. Aku menyadari kehadiran seseorang. Seseorang itu duduk di sampingku.
" Terkadang, impian itu tidak sesuai dengan kenyataan" ucapnya lirih. Aku mendongakkan wajahku dan terkejut.
" Kamu ? ngapain kamu di sini" ucapku curiga.
" Aku sering kesini kalo lagi suntuk, aku duduk di kursi sana, lalu liat kamu dateng aku buntutin deh" ucapnya polos seolah kita masih berteman. " Jona deketin aku cuma biar bisa deket sama kamu Ell, tapi kamunya langsung salah paham" lanjutnya.
" boong banget, bukanya kamu suka Jona" sergahku.
" memang, tapi Jona suka kamu... aku ngga bisa tahan tiap kali dia nanya atau cerita soal kamu, si Espresso Macchiatonya" Matanya menerawang. Butiran air tergenang di pelupuk matanya. Aku terdiam seperti tak nyata.
" Tau kenapa dia sebut kamu Espresso Macchiato?" Nami memandangku tajam, dia berusaha keras menyunggingkan senyum meskipun jelas terlihat getir. Aku menggeleng pelan, air mata ini masih membanjir.
" Waktu itu aku ketemu dia di perpustakaan. Dia baca tentang olahan kopi. Sekuat tenaga aku ajak dia ngobrol Ell, dia cuek. Sampai aku tembak dia, dia cuma bilang, Kalo dia ngga nemu Espresso Macchiato di diri aku" Nami terdiam menghela napas panjang, dalam dan berat. Ku lihat kini dia mulai menangis.
" Maksudnya?" dengan terbata ku paksa mulut ini berbicara.
" Espresso Macchiato itu rasanya unik Ell, ngga ngebosenin, hangat atau dingin. Jona bukan penyuka kopi. Dia cuma tau dari buku yang dia baca. Aku juga ngga tau dari mana Jona tau kamu kerja di La Delish" Nami mulai tersedu. Tanpa sadar tangan ini memeluknya. Memeluk sahabatku yang lama hilang. Menenangkanya.
" Maafin aku Nam, sekarang semua percuma, Jona udah ngilang" Ucapku sambil memeluknya semakin erat.
" Dia ada kok" Ucap Nami kepayahan karena air matanya.
" Di sini ?" aku sedikit terkejut mendengarnya. Nami mengangguk pelan.
" Dimana ?" aku meyakinkan diriku bahwa Nami tidak sedang mengerjaiku.
" Hatimu tau Ell" mendengar ucapan Nami tubuhku segera bangkit. Berlari menyusuri lorong - lorong kampus yang sepi. Kaki ini melangkah kemana hati memerintah. Aku tak sadar meninggalkan Nami yang semakin terisak kesakitan. Sampai di depan pintu sebuah ruangan kaki ini terhenti. Sosok yang ku cari ada di hadapanku. Sedang serius dengan apa yang di bacanya.Entah dia menyadari kehadiranku atau tidak.
" Ngga pesen layanan delivery kok" ucapnya tanpa memandangku matanya masih sibuk dengan buku. Aku melangkah masuk lalu duduk di hadapannya dengan bentuk yang sangat berantakan ku beranikan diri berbicara.
" Cuma mau tau, kemana pelanggan La Delish ngilang" ucapku pelan dan tertunduk malu. Ia meletakkan bukunya lalu memandangku.
" Maaf aku ngga berani ngomong" ucapnya lirih. Perlahan tangannya meraih tanganku.
" Maaf aku ngga peka" balasku. Tanpa banyak kalimat terucap, kami sudah tau kemana pembicaraan ini akan berujung. Kami jadian.
***
Nami datang ke La Delish, memesan secangkir kopi kepada Ibas. Akhirnya hari itu aku bolos kerja. Ibas mengantarkan pesanan Nami. Saat Ibas beranjak pergi Nami memanggilnya.
" Ibas" Ibas menghentikan langkahnya. " Semua udah selesai" Ibas berbalik lalu duduk di hadapan Nami. Ibas hanya terdiam.
" Aku merasakan semua yang kamu rasakan. Tapi melihat orang yang kita cintai bahagia bukannya lebih berharga dari pada memiliki" Ibas masih terdiam. Napasnya terdengar berat. " Relain Ellen bahagia Bas... ada seseorang yang mencintai kita di luar sana" Sambung Nami. Ibas berdiri meninggalkan Nami tanpa sepatah kata pun. Setelah selesai dengan kopinya, Nami segera bangkit untuk pulang. Sampai di pintu depan Nami bertabrakan dengan kak Nugie hingga keduanya sama - sama terjatuh.
***
Malam ini terlihat begitu menyenangkan, empat pasangan duduk di kedai kopi saat itu. Menikmati sajian gratis dari La Delish. Kak Nugie dan Nami meminum Coffee Latte yang kata kak Nugie cocok dengan kepribadian Nami, Ibas dan Neta dengan minuman andalannya Coklat Karamel, Aku dan Jona tentu dengan Espresso Macchiato, sedangkan Carina dan pacarnya dengan Mocachino. Kami merayakan kebahgiaan kami. Sudah tidak ada lagi hati yang terluka dan wajah yang bersedih malam ini.

Tamat




Not allowed copy picture or story from this blog without permission.*clown*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

S.O.S !!!

Begini saja, Aku Pamit !!

Menanggung Pertanggung Jawaban