ESPRESSO MACCHIATO
Pagi ini aku terburu - buru sekali. Kuliah dimulai tiga menit lagi,
aku berlarian mengejar angkutan umum. Aduh ... makin laper karena belum sarapan
dan makin bau karena belum mandi. Komplit ! Sampailah aku di gerbang kampus.
Sekarang bonusnya aku harus berlarian di sepanjang koridor menuju kelas. Napas
yang masih on off on off terpaksa ku abaikan. Di depan kelas, adrenaline ini
pun belum bisa beristirahat karena dosen paling killer sepanjang sejarah
kehidupan manusia sudah bertengger cantik di ruangan. Akhirnya dengan terpaksa
aku berjalan mengendap - ngendap ketika bu Mia sedang menulis di White board.
Sedikit lagi aku sampai di bangkuku.
" Ellen ! " Tanpa berbalik badan bu Mia memanggilku. Sekujur
tubuhku menjadi kaku. Masih dalam posisi berdiri bu Mia berjalan mendekatiku.
Mampus ! Bu Mia selain galak perempuan flamboyan itu perfeksionis dan detail.
" Bagus kamu ya ! Udah telat, nggak mandi, belum sarapan lagi
!" Tuh kan ! tanpa di beri tahu bu Mia sudah bisa menebak.
" Emm maa maa maaf bu ... ess sa saya kesiangan" Mulutku
tiba - tiba saja kelu sehingga aku terbata - bata.
" Ellenina Maria Sandra ! kalau besok kamu masih berangkat
terlambat, tidak mandi, pakai baju dan sepatu lusuh ke kampus, saya akan
mengajukan skorsing buat kamu !" Bu Mia kembali menulis. Akhirnya
adrenaline ini mengendur.
***
" Yaa ampun Ell, kamu tuh tomboynya kelewatan tau nggak ! jorok
banget lagi !" Celetuk sahabatku Carina.
" Iya nih, jangan mentang - mentang kuliah ambil sejarah,
tampilan kamu jadi kaya manusia purba gini dong" Sahut Nami. Aku juga
tidak paham kenapa makhluk sejenis mereka ini mau berteman denganku yang awut -
awutan ini.
" Maaf deh, semalem aku kemaleman pulang dari Coffee Shop,
capek pula jadi telat bangun deh ..." Aku memang bekerja paruh waktu di
toko kopi di dekat kost, sebagai anak rantau, aku tak mau merepotkan kedua
orang tuaku.
Tiba - tiba di meja seberang, duduklah seorang cowok yang belum
pernah ku lihat berkeliaran di area kampus. Kaca mata berbingkai gelap, senyum
yang manis dengan dua buah lesung pipit di hadirkan di hadapanku. Mata ini
terus saja memandanginya tanpa berkedip, aku yakin sekali si empunya wajah
merasa risih, buktinya sekarang dia balik menatap ke arahku. Kemudian dia tersenyum
kecil. Aku kaget bukan main ketika menyadari dua orang sahabatku sudah melotot
memandangiku.
" Ellen ! " Gertak Carina membuyarkan lamunanku.
" Yaa ampun Ell ..." Nami menyahut heboh membuatku tersipu
malu karena sekarang seluruh mata di kantin menatapku termasuk si pemilik
senyum lucu itu.
" Ih ! pada berisik ! ngomongnya jangan kenceng - kenceng ! a
malu tau ! itu siapa sih?" Selorohku pada mereka setengah berbisik.
" Yang mana? " Carina membalik tubuhnya dan mengedarkan
pandangannya.
" Duh jangan nengok gituu" Aku masih berbisik.
" Itu Jona, anak manajemen bisnis, jarang masuk sih ... tumben
juga dia di sini" Sahut Nami dengan lancar seolah sudah hapal betul dengan
apa yang di ucapkannya.
" Kenapa Ell ?? naksir ?" Goda Carina.
" Aduh ... jangan mimpi, cewek secantik Sisil aja di
tolak" Sambung Nami menurunkan semangatku.
" Iya Ell, tipenya Jona itu yang manis, feminim, anggun, kamu
mah ngga bakal bisa deh ...." Sahut Carina. Aku cemberut sambil
melanjutkan makan siangku.
***
Sore ini aku begitu bersemangat, entah mengapa sampai di Coffee Shop
pun aku masih senyum - senyum sendiri membayangkan Jona. Setelah berganti
pakaian, segera ku raih notes dan pulpen lalu keluar untuk melayani pelanggan.
" Sore Ibaasss ! " Sapaku penuh semangat pada sahabatku di
Coffee shop.
" Weeeiitzz girang ! ada apa nih ?" Ibas mengernyit
keheranan.
" Biasa aja biasaa " Sahutku sambil lalu.
" Tumben, biasanya nona monster pasang muka ajaib ?" Ibas
masih saja menanggapi obrolan kami.
" Ibas Satria Anggara ! don't lebay oke ? Yuk kerja chop chop
!" aku mengakhiri obrolan. Aku
langsung berdiri di depan pintu masuk untuk menyambut pelanggan.Seorang tamu
masuk ketika aku sedang nembetulkan penampilan. Menyadarinya segera aku
mengucapkan tagline toko kami.
" Selamat datang di Coffee Shop La Delish, ngopi aja dulu biar
semangat ! Silah...kan" Betapa kagetnya aku ternyata tamu yang masuk
adalah Jona. Aku langsung tertunduk malu. Aku menjadi tidak berkutik karena aku
yang harus mencatat dan mengantar pesanan Jona. Dengan gugup aku berjalan
menuju meja tempat Jona duduk.
" Emm... silahkan... mau pesan apa?" Tanganku gemetar
menyerahkan daftar menunya.
" Espresso Macchiato dingin sama strawberry cheese cake
ya?" Secepat kilat Jona menjawabnya. Baguslah ! karena wajahku mulai
memanas di buatnya. Aku segera masuk ke dapur untuk menyiapkan pesanan. Aku
duduk di sebuah bangku tinggi di dapur menunggu barista meracik kopi untuk
Jona. Aku melamunkan seseorang yang pesanannya sedang ku siapkan.
" Hayo ! ngliatin siapa ?" Ibas mengagetkanku. Akupun
gelagapan di buatnya.
" Ah engga ... " Aku kebingungan dan malu setengah mati.
" Ready nih Ell..." barista sudah memanggil di iringi
bunyi bel pesanan yang di tekan berulang - ulang. Ini kesempatan aku kabur dari
interogasi Ibas. Meskipun gugup dan gemetar aku mengantarkan pesanan ke meja
Jona.
" Silahkan, Espresso Macchiato dan Strawberry Cheese cake
nya" ucapku sembari meletakkan pesanan di mejanya, untung seragamku di
lengkapi topi sehingga muka gugup kemerahanku tersembunyi. Setelah meletakkan
pesanan aku pun terkejut melihat Jona yang rupanya sudah lama memandangiku.
" Kamu, cewek yang tadi siang ya?" tegurnya. Hatikupun
girang bukan main. Rupanya dia mengenaliku meskipun sudah berganti kostum.
" Ah... iya" sekuat tenaga aku menjawabnya menutupi
kegugupanku.
" Terima kasih" ucapnya seketika sambil menyunggingkan
senyumnya yang manis.
" Permisi" balasku. Segera aku masuk kedalam dapur. Tak
bisa ku sembunyikan perasaan bahagiaku, aku melompat - lompat kegirangan.
Setelah sadar baru ku lihat seisi dapur memandangiku termasuk Ibas.
***
" Hai ... ini undangan ulang tahun ku, kalian harus dateng ya !
kamu juga Ell dandan yang cantik" Ucap salah seorang teman kami. Namanya
Bella, gadis itu adalah Bu Mia kedua di kampus ini. Bella berlalu, aku masih
duduk bersama Carina dan Nami di kantin.
" Ell, kamu ngga mungkin dateng dengan koleksi baju
kedombronganmu itu deh kayaknya" Carina memandangiku dari atas ke bawah.
" Sepatu, Rambut, kulitnya juga nggak" Sambung Nami.
" Aduh, aku sih ngga mikirin itu, aku bingung dateng sama
siapa?" Keluhku sambil menggaruk rambutku yang ku ikat asal.
" Ih itu sih kamu ajak aja si Ibas, kan ganteng tuh..."
Carina berkomentar asal.
" Sama Nami aja deh Nam ?" Bujukku.
" Ngga lah ... aku udah ada yang ngajak" Tolak Nami.
" Ya udah, Ibas aja ! Nanti habis jam terakhir kita tunggu di
parkiran, kita ke Mall cari baju buat Ellen" Carina menutup pembicaraan
lalu bangkit meninggalkan aku dan Nami yang kemudian menyusulnya.
***
" Detik ini, kamu harus nurut apa kata aku dan Nami. Tidak
boleh bantah ! karena ini buat kebaikan kamu" Gumam Carina sambil menarik
- narik lenganku kedalam sebuah Mall besar. Ini hal yang paling aku benci !
Gimana nggak ? di paksa masuk ke mall, belanja barang - barang yang aku ngga
ngerti buat apa, bareng dua nenek sihir gila shopping. God, save me please !
" Pertama, kita harus ke salon ! kita ubah manusia awut -
awutan ini jadi lebih manusiawi" Nami nerocos ngga karuan sembari
mendudukanku di kursi salon, mulailah mbak kapster melakukan kegiatan yang ku
sebut penganiayaan. Rambutku di gunting - gunting, kuku kaki dan tangan di meni
pedi dan yang paling serem adalah cabut alis. Setelah selesai, aku melihat
kekaca berkali - kali karena belum yakin kalau itu aku. Lumayanlah dari Ellen
si dekil jadi Ellen feminin. Setelah beli baju sepatu dan aksesoris akhirnya
Carina dan Nami melepaskan aku. Kesempatan ini aku gunakan untuk pergi ke Coffee
Shop bertemu dengan Ibas.
" Hai, sore karyawan La Delish ! Ibas mana?" Sapaku renyah
tapi tak ada jawaban, mulut mereka hanya ternganga melihat penampilanku.
Akhirnya yang ku cari muncul juga.
" Wow ! ya ampun ! Keracunan apa sampe berubah gini?" Ibas
dengan gayanya yang sok lebay menggodaku.
" Udah lah brother, nanti malem ikut aku ya? dandan yang kece
oke? byee..." Ucapku lekas akan beranjak setelah memberikan undangan ulang
tahun Bella kepada Ibas. Langkahku tiba - tiba terhenti setelah melihat sosok
yang begitu ku kenali. Spontan aku merebut Notes dan pulpen dari tangan Ibas
lalu berlari ke samping pintu.
" Selamat datang di Coffee Shop La Delish, ngopi aja dulu biar
semangat ! Silahkan" Ucapku kepada tamu yang datang. Orang itu langsung
duduk di tempat favoritnya, meja untuk dua orang di samping jendela. Aku
langsung menghampirinya.
" Silahkan mau pesan apa?" Tawarku sambil menyerahkan
daftar menu kepadanya. Namun orang itu tidak melihat menu yang ku berikan.
" Espresso Macchiato sama Strawberry Cheese Cakenya
boleh?" Aku secepat kilat mencatat pesanannya dan bergegas membalik badan
menuju dapur.
"Sorry" panggilnya ketika aku belum sempat melangkahkan
kakiku. Dengan gugup aku membalikan badanku kembali.
" Ya?" jawabku dengan pura - pura lembut menutupi perasaan
malu dan senangku yang meletup - letup.
" Ngga pake seragam?" tanyanya datar sambil mengernyitkan
dahi keheranan. Aku gugup dan bingung setengah mati di buatnya.
" Em... anu... e ... aku... a...a...aku... udah mau pulang !
heheh iyah ! udah mau pulang" Seperti tercekat tenggorokan ini susah
sekali di ajak berbohong. Padahal aku sedang cuti gara - gara mempersiapkan
ulang tahun Bella.
" Oh..." jawabnya singkat kemudian ia kembali berkutat
pada gadgetnya. Aku langsung kabur menuju dapur. Dengan ngos - ngosan aku
menyerahkan pesanan pada barista.
" Menu yang sama Ell ? cowok kemarin ? pacar kamu?"
Barista yang membuatkan pesanan Jona adalah Kak Nugie sama seperti kemarin.
" Eh ... bukan - bukan kak ! " Jawabku tersipu. Untung
saja kak Nugie tidak merespon dan langsung tenggelam dalam menu pesanan.
***
Setelah mengantarkan pesanan untuk Jona, aku bergegas pulang. Aku
biarkan saja si Ibas yang membereskan cangkir kopi Jona. Tanpa ku ketahui, Jona
meninggalkan sebuah pesan untukku di balik kertas struk, yang di jepit di bawah
cangkir kopi. Ibas menemukannya.
Meskipun
berbeda, aku tetap mengenalimu.
Meskipun
lebih anggun Kamu tetap perpaduan antara Espresso Machiato dan Strawberry
Cheese Cake.
Itulah
yang membuatku datang meskipun aku tidak sedang ingin minum kopi.
J.A
***
Aku masih saja belum tahu Jona meninggalkan pesan untukku. Malam inj
tiba, malam dimana aku berpenampilan aneh dengan gaun Midi selutut berwarna
pastel dengan rambut rapi sebahu dan sepatu hak tinggi. Ibas melotot melihat
penampilanku. Aku pun kaget ternyata ibas bisa berpenampilan casual selain
seragam La Delish yang tiap sore ku lihat. Akhirnya aku datang ke ulang tahun
Bella bersama Ibas. Setelah menyerahkan kado, cipika cipiki, dan menanggapi
basabasian temen yang heran dengan perubahan wujudku, aku dan Ibas segera
melipir ke pinggir dekat kolam renang. Kondisi pesta masih sepi karena aku
termasuk empat pasangan yang paling awal. Semakin malam, peserta pesta mulai
ramai, dan akhirnya datanglah Carina bersama pacarnya seorang pengusaha muda
yang sukses. Carina segera menghampiriku dan Ibas setelah bertemu Bella.
" Hai Ell, gimana? cakepkan kamu ?" Puji Carina padaku
yang secara tak langsung memuji hasil karyanya sendiri.
" Iya lahh Ellen gitu loh" Sambungku menyombongkan diri.
Kami berempat asyik ngobrol kesana kemari sambil menunggu Nami datang. Mobil
sedan hitam memasuki parkiran rumah Bella, aku tahu persis siapa pemilik sedan
itu. Seorang laki - laki turun kemudian membukakan pintu untuk Nami. Betapa
terkejutnya aku ketika Nami dan pasanganya mendekat. Senyum berlesung pipit
itu, kaca mata berbingkai hitam itu, aku tahu milik siapa. Jona. Melihatku
terkejut, Nami malah tersenyum pamer. Gemuruh tiba - tiba menggelegar dalam
hatiku.
" Hai Car, Ell... udah lama nunggu?" Sapa Nami tanpa dosa
kepada kami. Jona melempar senyum padaku namun tidak ku balas.
" Sebentar ya?" Carina menarik lenganku dan Nami menjauh
dari kerumunan. Jona, Ibas dan pacar Carina di tinggalkan begitu saja.
" Maksud kamu apa sih Nam ?" Carina menginterogasi Nami di
hadapanku. Aku belum ingin bicara.
" Maksud apa sih ? Aku ngga ngerti ?" Nami masih saja pura
- pura polos.
" Maksud kamu dateng kesini sama Jona" Carina makin tegas.
" So Why ? Jonathan yang ngajakin aku ? siapa yang bisa nolak
ajakan Jona ?" Tidak ada sedikitpun nada bersalah keluar dari mulut Nami.
" Tapi kan kamu tau kalau ..." Carina melirikku, kami
semua tau apa kelanjutan perkataan Carina.
" Kalau apa ? kalau Ellen suka sama Jona ? terus kalo Ellen
suka sama Jona aku ngga boleh suka ?" Nami ngotot. Perkataannya membuatku
angkat bicara.
" Kenapa kamu ngga ngomong sebelumnya Nam ?" Aku berusaha
lembut.
" Harus ya ngomong dulu sama kamu ?" Nami makin ngotot.
Emosiku memuncak namun yang keluar bukan kata - kata kasar melainkan air mata.
" Berarti usaha kamu seharian ini ngerubah aku biar aku bisa
liat kamu jalan sama Jona ?!" Tak ada jawaban dari Nami. Nami membuang
muka. " Tega kamu Nam ... tega banget" Air mataku berderai - derai.
Aku meninggalkan Carina dan Nami, aku berlari melewati Jona. Ibas membuntutiku
dari belakang.
Sampai di parkiran, aku melepas sepatu hak tinggiku. Ibas segera
menyalakan motornya. Aku segera naik. Tak ku perdulikan kemana ibas akan
membawaku. Aku masih saja menangis di punggung Ibas. Tiba - tiba Ibas
menghentikan laju motornya di sebuah tempat. La Delish. Ibas mengeluarkan kunci
Coffee Shop. Setelah menyalakan lampu, Ibas mendudukanku di kursi tamu. Aku
masih menangis menelungkupkan tubuhku di atas meja ketika Ibas meninggalkanku
ke dapur. Entah apa yang di lakukannya. Aku mencium aroma coklat dan karamel,
berpadu menari - nari di hidungku dan menghentikan tangisku sejenak. Ibas
keluar membawa sebuah nampan berisi dua buah cangkir. Di tangan kanannya
tergantung sebuah tas plastik yang amat ku kenali.
Setelah meletakkan nampannya di hadapanku, Ibas memberikan plastik
itu kepadaku. Plastik itu berisi sepatu lusuh musuh bebuyutan Bu Mia yang ku
simpan di loker karyawan.
" Ini apa" Ucapku sambil menunjuk dua cangkir di
hadapanku.
" Cobain aja" Ibas mengambil salah satu cangkir lalu
meminumnya. Aku mengikutinya, tapi aku membaui aroma minuman itu terlabih
dahulu baru mencicipinya. Mulut dan lidahku di buat tenggelam dengan rasa
hangat dan creamynya juga rasanya tidak terlalu manis. Ibas menaikkan satu
alisnya tanda meminta pendapatku.
" Hmmmm... eeeenaaaakk" Ucapku sambil tersenyum lalu
menenggelamkan hidung dan mulutku kedalam cangkir.Perasaanku seketika berubah
menjadi tenang.
" Coklat karamel anget bisa ngerubah mood" Celoteh Ibas.
Aku meletakan cangkirku yang isinya tinggal setengah.
" Aku, seumur - umur jadi karyawan belum pernah duduk di sini
sambil nyicipin menu." Gumamku. Mataku menerawang keluar jendela
memandangi temaram lampu jalanan di malam hari. " Eh, kamu kok bisa bikin
ini sih ?" Sambungku. Ku tatap Ibas
dengan penuh heran. Ibas terkekeh kecil.
" Kak Nugie pernah bikinin waktu aku lagi kesel sama seseorang.
Karena enak, aku minta di ajarin resepnya" Ibas terus mengoceh panjang
lebar. Sama sekali Ibas tidak menanyakan aku tentang sebab aku menangis. Ibas
memberiku tissue untuk mengelap pipiku yang belepotan karena mascara yang
luntur sewaktu menangis tadi.
" Kamu Cantik" Gumam Ibas tak jelas namun samar - samar
aku mendengarnya.
" Hah ? apa?" Aku ternganga mengharap Ibas mengulang
ucapannya. Namun Ibas hanya menggeleng. Setelah minuman kami habis, dan Ibas
mencuci cangkirnya, Ibas mengantarku pulang ke kost. Ibas langsung pamit
pulang, setelah bersih - bersih badan aku langsung merbahkan diri ke tempat
tidur. Melamunkan kejadian hari ini lalu tertidur.
***
Pagi ini sedikit berbeda, aku datang kuliah lebih awal dan aku
mengenakan rok pemberian mama yang selama ini hanya ku tumpuk dalam lemari.
Belum seperti Bella, Carina, atau Nami sih apalagi seperti Bu Mia. Tapi ini
cukup manis untuk seorang Ellen. Aku juga bingung apa yang merasukiku, aku rasa
Coklat karamel buatan Ibas semalam cukup kuat efeknya. Dari awal memasuki area
kampus seluruh mata memandangiku tidak percaya. Dengan cueknya aku melangkah
kedalam kelas lalu duduk di bangku paling depan. Yang ku tunggu akhirnya
datang.
" Ya Tuhaaannn terima kasihhh.... Ellen, Ibu ngga nyangka kamu
secantik ini" Puji bu Mia sambil terus memandangiku. Aku tersenyum penuh
kemenangan. Usai kuliah aku tidak buru - buru ke Coffee Shop. Aku mampir ke
kantin kampus dulu untuk menemui Carina. Hanya Carina, karena sejak kejadian
semalam, aku memutuskan untuk tidak berbicara pada Nami. Ku lihat Carina sudah
duduk di tempat biasa kita nongkrong.
" Haaai, Car" sapaku sembari meletakkan buku - bukuku lalu
duduk di hadapan Carina.
" Eh, Ellen.... betah juga kamu pake rok? ngga kerepotan ?
Ngejar bisnya ?" Carina memberondong karena keheranan.
" Ngga ngejar bis, hari ini aku berangkat awal" Jawabku
ringan.
" Ih tumben, gimana kamu ketemu si itu ngga tadi ? ih aku bener
- bener ngga nyangka ya dia bisa gitu ? sumpah aku kaget loh" Cerocos
Carina.
" ssst ... Car, udah ya ... jangan bahas itu plis"
Mohonku, akhirnya aku dan Carina ganti topik. Sekilas ku lihat Jona melihatku
dari kejauhan lalu tersenyum namun ku abaikan. Pukul 3 sore, aku harus bergegas
menuju ke Coffee Shop.
***
Seperti kemarin, suasana Coffee shop masih menyenangkan. Masih
beradu mulut dengan Ibas dan menebarkan senyum tanpa kontrol. Hal yang berbeda
justru terjadi ketika sosok Jona muncul. Aku tidak lagi ingin menulis
pesanannya atau bahkan sekedar melihatnya dari jendela dapur. Aku mengikhlaskan
diri menggantikan Neta cuci piring. Di La Delish hanya ada 6 karyawan, Coffee
Shop ini milik Kak Nugie dan kak Abra, keduanya adalah barista di sini,
kemudian ada aku dan Ibas sebagai waiterss dan ada Neta dan Iggy di bagian cuci
piring. Jadi dengan mudah aku bisa bertukar jobdesc selama keduanya sama - sama
setuju. Ibas yang menerima pesanan Jona, ia juga yang membereskan cangkir Jina.
Tanpa ku ketahui Jona meninggalkan pesan di balik kertas struk di bawah
cangkirnya.
Espresso
Macchiato pesananku hangat,
yang
sampai ke meja dingin. Kemana orang yang menghangatkan
cangkirku
dari dapur ke mejaku ?
J.A
***
" Ell, aku anter pulang yuk ?" Ibas menyusulku yang baru
berjalan beberapa langkah keluar dari Coffee Shop.
" Iih tumben ? lagi ulang tahun ya ? traktir dong ?"
Gurauku.
" Udah tungguin aja ah ... bawel deh" Omel Ibas yang
kemudian berlari masuk mengambil helm dan jaket. Aku segera naik ke sepeda
motor Ibas. Biasanya, jika aku pulang jalan kaki hanya 15 menit dari
Coffee shop sampai kost. Di bonceng Ibas
rasanya sudah cukup lama dan semakin menjauh dari kost ku. Curiga Ibas punya
niat jelek, aku mulai berteriak - teriak tidak karuan.
" Ibas, kita mau kemana ! Ibas ih ! turunin akuuu ! Ibas
!" Tidak ada jawaban dari Ibas membuatku makin parno. " Ibas, jangan
- jangan kamu ini komplotan penculik ya ? Ibas lepasin aku ! Ibas !
Toloooooonggg" aku masih meracau.
Sampai di suatu taman, Ibas menghentikan laju motornya. Ia menyuruhku
turun kemudian ia menarik pergelangan tanganku begitu kasar. Ibas membawaku ke
tukang eskrim keliling. Ibas membeli 3 cone es krim dan 2 buah permen kapas. Ia
mengajakku duduk di pinggiran taman yang penuh lampu malam itu. Ia memberikan 2
cone eskrim kepadaku.
" Jangan bilang kamu ngga suka eskrim ! boong banget kalo ngga
suka" tebaknya. Aku tidak menggubrisnya, ku nikmati kedua eskrim pemberian
Ibas. Setelah es krim habis perhatianku
beralih ke kembang gula.
" Ell, aku sayang kamu" sayub - sayub ucapan Ibas
menghentikan acara makanku.
" Aku sayang kamu, Ellen" Ulangnya sedikit lebih keras.
Aku memasukan sisa permen kapas kedalam kemasannya lalu meletakannya di
sampingku.
" maksudnya?" aku menanggapi perkataan Ibas dengan
ekspresi cukup serius.
" mau jadi pacarku ?" ucapnya dengan lancar. Aku mencerna
kalimatnya dan mendeteksi apakah dia main - main atau tidak.
" aku serius Ell, mungkin ini bodoh, tapi aku serius"
Ucapnya tak sabar menanti jawabanku.
" Iya" jawabku singkat. Ada perasaan bahagia menyeruak
masuk kedalam hatiku.
" Ha ? iya ? iya mau ?" tegasnya sekali lagi. Aku
mengangguk. Ibas memelukku kegirangan. Singkatnya, aku dan Ibas pacaran.
***
Empat bulan sudah aku menjalin hubungan dengan Ibas, namun masih
saja mulut kami cekcok. Empat bulan pula aku tidak menyadari jika Jonathan
sudah tidak muncul lagi di hadapanku. Minggu ini kuliahku libur, aku memutuskan
untuk tidak pulang kampung dan tetap bekerja full time malah, agar saldo
tabunganku cepat bertambah. Pagi itu aku datang ke La Delish menggantikan Ibas
yang masuk sore karena ada acara keluarga. Seperti biasa, sebelum bekerja aku
meletakkan semua barangku di loker karyawan. Loker Ibas berada tepat di
seberang lokerku. Selembar kertas menyembul di bawah pintu loker. Aku
penasaran, ku tarik selembar kertas yang ternyata sebuah struk pembelian dari
kedai kami. Tertera di struk bahwa yang di pesan adalah secangkir Espresso
macchiato dan sepotong strawberry cheese cake. Aku mengenalinya, kertas itu aju
mengenalinya. Ku balik kertas struk tersebut terdapat sebuah pesan.
Ellenina
Maria Sandra,
Hai
Espresso Macchiato, aku baru tau namamu begitu indah.
Susah
sekali mencarinya di daftar mahasiswa.
mungkin
entah kapan kita bisa bertemu lagi, aku pasti akan merindukan
Jeans
baggymu yang bolong dan sepatu lusuhmu.
Sampai
Jumpa
Jonathan
Aldion
PS.
aku asdosnya bu Mia Lho
aku membuka paksa loker Ibas, kertas - kertas yang sama berhamburan
di hadapanku, ku punguti lalu ku baca satu persatu. Ada perasaan kecewa meladak
di dalam hati. Ibas datang memergoki ku sedang membaca pesan dari Jona. Aku
berdiri mendekati Ibas.
" Ini apa? " selorohku sambil menunjukan kertas - kertas
dalam genggamanku. Ibas terdiam. Ia hanya memandangku.
" Berapa lama kamu simpan ini ?" tanyaku lagi. Ibas masih
tidak menjawab.
" Kamu tega ya sembunyiin ini semua dari aku demi kesenangan
kamu ! kamu tega ! kamu sama kayak Nami" gertakku sambil melempar kertas
yang sedari tadi ku genggam. Aku menangis, keluar dari ruang karyawan. Ibas
berusaha meraih tanganku namun tidak berhasil. Aku berlari keluar Coffee Shop
sembari menitikkan air mata. Aku berlari sejauh yang aku bisa, namun tanpa
sadar kaki ini berlari ke kampus. Aku terus berlari ke taman tempat mahasiswa
biasa ngumpul. Hari itu taman kosong. Aku duduk di atas rerumputan sambil
menelungkupkan wajahku. Aku menyadari kehadiran seseorang. Seseorang itu duduk
di sampingku.
" Terkadang, impian itu tidak sesuai dengan kenyataan"
ucapnya lirih. Aku mendongakkan wajahku dan terkejut.
" Kamu ? ngapain kamu di sini" ucapku curiga.
" Aku sering kesini kalo lagi suntuk, aku duduk di kursi sana,
lalu liat kamu dateng aku buntutin deh" ucapnya polos seolah kita masih
berteman. " Jona deketin aku cuma biar bisa deket sama kamu Ell, tapi
kamunya langsung salah paham" lanjutnya.
" boong banget, bukanya kamu suka Jona" sergahku.
" memang, tapi Jona suka kamu... aku ngga bisa tahan tiap kali
dia nanya atau cerita soal kamu, si Espresso Macchiatonya" Matanya
menerawang. Butiran air tergenang di pelupuk matanya. Aku terdiam seperti tak
nyata.
" Tau kenapa dia sebut kamu Espresso Macchiato?" Nami
memandangku tajam, dia berusaha keras menyunggingkan senyum meskipun jelas
terlihat getir. Aku menggeleng pelan, air mata ini masih membanjir.
" Waktu itu aku ketemu dia di perpustakaan. Dia baca tentang
olahan kopi. Sekuat tenaga aku ajak dia ngobrol Ell, dia cuek. Sampai aku
tembak dia, dia cuma bilang, Kalo dia ngga nemu Espresso Macchiato di diri
aku" Nami terdiam menghela napas panjang, dalam dan berat. Ku lihat kini dia
mulai menangis.
" Maksudnya?" dengan terbata ku paksa mulut ini berbicara.
" Espresso Macchiato itu rasanya unik Ell, ngga ngebosenin,
hangat atau dingin. Jona bukan penyuka kopi. Dia cuma tau dari buku yang dia
baca. Aku juga ngga tau dari mana Jona tau kamu kerja di La Delish" Nami
mulai tersedu. Tanpa sadar tangan ini memeluknya. Memeluk sahabatku yang lama
hilang. Menenangkanya.
" Maafin aku Nam, sekarang semua percuma, Jona udah
ngilang" Ucapku sambil memeluknya semakin erat.
" Dia ada kok" Ucap Nami kepayahan karena air matanya.
" Di sini ?" aku sedikit terkejut mendengarnya. Nami
mengangguk pelan.
" Dimana ?" aku meyakinkan diriku bahwa Nami tidak sedang
mengerjaiku.
" Hatimu tau Ell" mendengar ucapan Nami tubuhku segera
bangkit. Berlari menyusuri lorong - lorong kampus yang sepi. Kaki ini melangkah
kemana hati memerintah. Aku tak sadar meninggalkan Nami yang semakin terisak
kesakitan. Sampai di depan pintu sebuah ruangan kaki ini terhenti. Sosok yang
ku cari ada di hadapanku. Sedang serius dengan apa yang di bacanya.Entah dia
menyadari kehadiranku atau tidak.
" Ngga pesen layanan delivery kok" ucapnya tanpa
memandangku matanya masih sibuk dengan buku. Aku melangkah masuk lalu duduk di
hadapannya dengan bentuk yang sangat berantakan ku beranikan diri berbicara.
" Cuma mau tau, kemana pelanggan La Delish ngilang" ucapku
pelan dan tertunduk malu. Ia meletakkan bukunya lalu memandangku.
" Maaf aku ngga berani ngomong" ucapnya lirih. Perlahan
tangannya meraih tanganku.
" Maaf aku ngga peka" balasku. Tanpa banyak kalimat
terucap, kami sudah tau kemana pembicaraan ini akan berujung. Kami jadian.
***
Nami datang ke La Delish, memesan secangkir kopi kepada Ibas.
Akhirnya hari itu aku bolos kerja. Ibas mengantarkan pesanan Nami. Saat Ibas
beranjak pergi Nami memanggilnya.
" Ibas" Ibas menghentikan langkahnya. " Semua udah
selesai" Ibas berbalik lalu duduk di hadapan Nami. Ibas hanya terdiam.
" Aku merasakan semua yang kamu rasakan. Tapi melihat orang
yang kita cintai bahagia bukannya lebih berharga dari pada memiliki" Ibas
masih terdiam. Napasnya terdengar berat. " Relain Ellen bahagia Bas... ada
seseorang yang mencintai kita di luar sana" Sambung Nami. Ibas berdiri
meninggalkan Nami tanpa sepatah kata pun. Setelah selesai dengan kopinya, Nami
segera bangkit untuk pulang. Sampai di pintu depan Nami bertabrakan dengan kak
Nugie hingga keduanya sama - sama terjatuh.
***
Malam ini terlihat begitu menyenangkan, empat pasangan duduk di
kedai kopi saat itu. Menikmati sajian gratis dari La Delish. Kak Nugie dan Nami
meminum Coffee Latte yang kata kak Nugie cocok dengan kepribadian Nami, Ibas
dan Neta dengan minuman andalannya Coklat Karamel, Aku dan Jona tentu dengan
Espresso Macchiato, sedangkan Carina dan pacarnya dengan Mocachino. Kami
merayakan kebahgiaan kami. Sudah tidak ada lagi hati yang terluka dan wajah
yang bersedih malam ini.
Tamat
Not allowed copy picture
or story from this blog without permission.*clown*
Komentar
Posting Komentar