Berbicara Dengan Hati
Berbicara dengan hati tidak semudah mengobrol biasa, membahas tema - tema mindstream. Berbicara dengan hati juga tidak semua orang bisa lakukan. Hanya orang - orang berperasaan peka yang cukup tinggi yang bisa melakukannya. Kebanyakan dari kita kurang peka dan asal nyeplos tanpa perduli apa yang orang lain rasakan.
Namun kita sekarang telah di kuasai rasa KEPO yang mendarah daging. Sebenarnya kita tidak perlu tau, orang lain sedang melakukan apa, apa pencapaian mereka, latar belakang dan tujuan hidupnya. Namun lagi - lagi KEPO sudah merajai hati bahkan seperti tren yang mewabah. Hal itu masih kita tambahi dengan membubuhkan komentar - komentar tidak perlu yang membuat orang lain risih. Tidak dapat di pungkiri, aku juga sering melakukannya tanpa sengaja. Manusiawi ya memang.
Biasanya, orang - orang peka jauh lebih di segani, cara berbicaranya yang pake hati dan sifatnya yang jauh dari sombong membuat lawan bicaranya takhluk. Aku pernah menemui beberapa orang peka seperti itu dan mereka amazing. Mereka memikirkan secara detail kata demi kata yang akan di keluarkan. Mereka juga menjaga perasaan lawan bicaranya dengan menghindari pertanyaan tajam dan komentar yang menusuk.
Pernah juga aku menemui orang - orang yang tingkat kepekaannya jauh menghujam bumi. Dengan mengirimkan komentar - komentar sotoy dan mengumbar ke kepoannya serta memancing - mancing pembicaraan hingga aku membongkar latar belakangku di media publik.
Ayolah guys, era modern bukanlah era dimana semua manusia mengetahui setiap rahasia manusia lain, dan bukan eranya kita bicara tanpa kontrol dan rem sehingga menyakiti perasaan orang lain. Alangkah baiknya apa bila kita mengeluarkan kalimat yang dapat di pertanggung jawabkan. Mari kita belajar berbicara dengan hati, agar kita semua bisa hidup damai di bumi Allah ini.
*clown*
Komentar
Posting Komentar