Menanti Imam yang sedang 'wudhu' ( aku penghuni shaf di belakangmu )
Aku manusia... seperti gadis lain. Perasaanku pun sama. Iri rasanya melihat sahabat - sahabatku sudah memulai Shalatnya.
Shalat, begitu aku menyebut sebuah rumah tangga. Terkadang kita harus
tegas seperti takbiratul ikhram, seimbang seperti rukuk, dan melembut
seperti sujud. Itulah kehidupan, yang tidak akan pernah mudah jika kita
terus bersikap monoton.
Iriku tak sampai menjadi gelap mata, membuat aku buru - buru
mengamini imam yang salah. Aku menurut kedua orang tuaku. Tidak mungkin
aku melawan mereka demi ego yang berdalih cinta. Bagiku, pernikahan
bukan sekedar cinta dari kedua mempelai. Pernikahan adalah proses
mempersatukan dua keluarga yang berbeda. Aku tidak mau main - main.
Jika mencintaiku, hormati keputusan kedua orang tuaku. Itulah sejatinya cinta.
Kondisi singleku ini mendapat bullyan keras dari ibu - ibu sekitaran
rumah yang takut aku terlanjur tua. Come on momma take it easy ...
Aku percaya aku ini sedang menunggu seorang imam menyelesaikan 'wudhu'nya. 'Wudhu' yang kumaksud adalah bersuci, memperbaiki diri mempersiapkan menghadapi Shalatnya. Agar khusyu' dan sah.
Di balik semua sikapku yang 'anteng - anteng wae' aku berdoa semoga
jodohku adalah yang ringan restunya. Agar kami tidak perlu menyakiti
siapa-siapa sebelum akhirnya menikah.
Berwudhulah calon imamku, mari kita bangun shalat yang khusyu'
sehingga tak seujung kuku pun masalah menghembuskan godanya. Aku dengan
mukenaku bersimpuh di atas sajadah menantimu menyelesaikan syarat sahnya
shalat.
clown
Not allowed copy picture
or story from this blog without permission.*clown*
Komentar
Posting Komentar